Al-Aqsha Terancam Runtuh: Simbol Penjajahan dan Upaya Penghapusan Identitas Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media-Yerusalem kembali berguncang. Bukan karena gempa bumi, melainkan karena kerakusan penjajah yang menggali bumi suci dengan ambisi. Masjid Al-Aqsha—kiblat pertama umat Islam dan situs suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—kini terancam runtuh akibat proyek penggalian terowongan besar-besaran oleh Israel di bawah kompleks Al-Aqsha.

Fakta Penggalian Sejak 1967

Sejak pendudukan Yerusalem Timur pada tahun 1967, Israel telah melakukan lebih dari 100 kali penggalian terowongan di sekitar, bahkan di bawah Masjid Al-Aqsha. Jalur-jalur bawah tanah tersebut disebut-sebut sebagai proyek arkeologi untuk menghubungkan situs yang mereka klaim sebagai “Kota Daud”. Namun kenyataannya, jalur itu melewati lorong air bersejarah yang dikeringkan, lalu diubah menjadi terowongan wisata, museum, dan sinagoge—tepat di bawah kompleks masjid suci umat Islam tersebut.

Menurut kesaksian para ulama penjaga Al-Aqsha, sejumlah bagian masjid telah mengalami retakan dan penurunan tanah akibat aktivitas penggalian. Struktur bawah tanah yang rapuh kini menjadi ancaman nyata bagi kelestarian fisik Masjid Al-Aqsha dan situs-situs Islam di sekitarnya.

Proyek Penggalian sebagai Upaya Penghapusan Sejarah Islam

Langkah Israel ini bukan sekadar proyek arkeologi atau wisata religius. Tujuan strategisnya jauh lebih dalam dan berbahaya: menciptakan kondisi yang mengarah pada runtuhnya bangunan Masjid Al-Aqsha agar mereka dapat mengeklaim sepenuhnya wilayah tersebut sebagai situs Yahudi.

Penggalian ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang Israel untuk menghapus identitas Islam dari Yerusalem dan membangun kembali kuil yang mereka klaim sebagai “Temple Mount”. Bila Al-Aqsha runtuh, maka kendali penuh atas situs suci itu akan sepenuhnya berada di tangan Israel—sebuah mimpi yang mereka kejar dengan mengorbankan keadilan, sejarah, dan kemanusiaan.

Israel telah lama menunjukkan permusuhannya terhadap Islam dan umatnya. Genosida di Gaza, penodaan tempat suci, hingga penindasan terhadap warga Palestina merupakan bukti nyata permusuhan terhadap agama Allah. Dalam kondisi seperti ini, wacana “solusi dua negara” hanyalah ilusi politik yang tak akan pernah menghentikan kejahatan mereka hingga akhir zaman.

Landasan Keagungan Masjid Al-Aqsha dalam Islam

Rasulullah ﷺ telah menegaskan keutamaan Masjid Al-Aqsha dan keberkahan bumi Syam dalam berbagai hadis. Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Janganlah kalian bersusah payah bepergian kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.”

Masjid Al-Aqsha bukan sekadar situs sejarah, melainkan simbol akidah dan peradaban Islam. Di sanalah Rasulullah ﷺ memimpin seluruh nabi dalam shalat pada malam Isra Mikraj, menandakan kepemimpinan spiritual Islam atas semua risalah kenabian.

Tanggung Jawab Umat Islam dan Jalan Pembebasan

Sepanjang sejarah, Khilafah Islam selalu menjadi penjaga utama Al-Aqsha dan bumi Syam. Dari masa Umar bin Khaththab hingga kekhalifahan Utsmaniyah, situs suci itu senantiasa berada dalam perlindungan dan kemuliaan Islam. Namun, sejak runtuhnya Khilafah pada tahun 1924, Al-Aqsha tak lagi memiliki perisai politik yang melindunginya dari tangan penjajah.

Kini, ketika dominasi Israel semakin brutal, satu-satunya solusi hakiki bukanlah diplomasi palsu atau resolusi kosong, melainkan kebangkitan umat Islam yang bersatu dalam akidah dan syariat untuk menegakkan kembali kepemimpinan Islam sejati. Hanya dengan jihad dan kekuasaan Islam yang bersih dari sekularisme dan kompromi, Masjid Al-Aqsha dapat benar-benar terbebas dari cengkeraman penjajah.

Penutup

Masjid Al-Aqsha adalah amanah seluruh umat Islam, bukan hanya milik rakyat Palestina. Setiap kali tanahnya digali dan dindingnya retak, itu adalah panggilan bagi hati kaum Muslimin di seluruh dunia untuk bangkit.

Allah ﷻ berfirman:

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS al-Isra: 1)

Kini, saat Al-Aqsha diguncang bukan oleh gempa tetapi oleh pengkhianatan, saatnya umat Islam meneguhkan kembali iman, ukhuwah, dan perjuangan. Sebab, menjaga Al-Aqsha bukan hanya menjaga bangunan, melainkan menjaga kehormatan Islam itu sendiri. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Iit Supriatin, S.Pd., S.Ag.,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 24

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA