Tinta Media – Ketegangan antara Ankara dan Tel Aviv kembali memanas setelah pemerintah Turki pada Jumat (7/11/2025) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan sejumlah pejabat tinggi Israel atas dugaan genosida serta kejahatan kemanusiaan di Gaza. (tvonenews.com, 9/11/2025)
Di tengah konflik ini, sejumlah negara justru mengambil langkah normalisasi hubungan dengan Israel, termasuk Kazakhstan yang mengonfirmasi keterlibatannya dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords). (Tempo.co, 08/11/2025)
Perjanjian ini menggeser isu utama konflik, seolah hanya persoalan batas wilayah. Padahal, Israel telah menewaskan lebih dari 68.800 warga Palestina sejak 7 Oktober 2023. Langkah normalisasi tersebut dinilai sebagai pembenaran atas penjajahan.
Normalisasi tidak pernah mengarah pada perdamaian bagi Palestina. Justru ini menjadi skenario jebakan Amerika Serikat (AS) untuk “menghancurkan” Gaza tanpa perang terbuka, sekaligus memobilisasi dukungan negara-negara Arab dan Muslim — termasuk Indonesia — demi melegalkan penjajahan Israel. Politik ini juga terkait ambisi Trump menguasai Gaza dan memperluas pengaruh di Timur Tengah.
Sejumlah pemimpin negeri Muslim tampak bersuara membela Palestina, namun pada saat yang sama menjalin hubungan dengan Israel. Sikap netral yang mereka tunjukkan bukan demi perdamaian, tetapi sekadar menjaga kepentingan politik dan kursi kekuasaan masing-masing.
Dengan mengakui entitas Zionis Israel, para pemimpin ini sejatinya telah melakukan pengkhianatan terhadap saudara-saudara mereka di Gaza, meski mereka tahu bahwa AS adalah pendukung utama agresi tersebut. Umat Islam tidak boleh condong kepada kezaliman, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Hud: 113.
Para pemimpin Muslim — seperti Arab Saudi, Mesir, dan bahkan Turki — hanya pandai mengecam tanpa tindakan nyata menghentikan kebiadaban Israel. Padahal, mereka memiliki kemampuan militer untuk bertindak, namun justru semakin mengukuhkan eksistensi penjajah.
Akar persoalan Palestina terletak pada nasionalisme yang memecah belah negeri-negeri Muslim hingga tak mampu mengirim dukungan militer. Nasionalisme menjebak mereka melihat konflik Palestina–Israel hanya sebagai sengketa perbatasan. Konsep ini adalah proyek Barat yang mengotak-ngotakkan umat.
PBB pun terbukti mandul. Puluhan resolusinya terkait pendudukan Palestina tak pernah ditaati Israel. Sementara itu, skenario “ketulusan” AS hanyalah kamuflase standar ganda Barat. Selama penyelesaian Palestina tunduk pada kepentingan Barat dan dibatasi nasionalisme, penjajahan akan terus berlangsung.
Umat Islam membutuhkan ikatan akidah dan ukhuwah islamiah sebagai pemersatu tanpa sekat bangsa atau ras. Solusi pembebasan Palestina hanya dapat terwujud dengan tegaknya Khilafah—sebagaimana sejarah mencatat bahwa Syam dan Palestina terjaga ketika berada dalam naungan Khilafah.
Khalifah mampu menyatukan negeri-negeri Muslim dan memulihkan kehormatan umat secara global, menghadirkan kekuatan politik dan militer untuk mengusir penjajah melalui jihad fi sabilillah — sebuah kewajiban ketika wilayah kaum Muslim dijajah.
Ketika saudara-saudara kita di Gaza menghadapi kezaliman, setiap hati beriman terpanggil untuk membela mereka. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)
Khilafah menjadi junnah (perisai) yang melindungi kaum Muslim tertindas dan mengorganisasi jihad pembebasan Palestina. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (Khalifah) adalah pemelihara dan pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pemimpin sejati adalah raa’in dan junnah bagi umat, mampu mengusir penjajah hingga ke akar-akarnya dan mewujudkan khairu ummah.
Umat harus sadar bahwa mengembalikan kehidupan Islam dengan metode dakwah Rasulullah ﷺ adalah solusi krisis Gaza saat ini. Diperlukan kesabaran dan kekuatan kolektif umat untuk mengusir Zionis dan memulihkan kehormatan Palestina.
Tegaknya Khilafah tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan dengan perjuangan berjemaah sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ — melakukan pembinaan dan penyadaran umat untuk berjuang menegakkannya. Inilah solusi tuntas bagi Palestina dan berbagai persoalan umat lainnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Nisa Muanisa,
Aktivis Dakwah
![]()
Views: 25
















