Tinta Media – Seorang ibu seharusnya menyayangi buah hatinya. Namun hari ini, kita dapati banyak ibu kehilangan fitrahnya—bahkan tega menyakiti hingga membunuh bayi yang baru dilahirkan. Salah satu faktor pemicunya adalah ketakutan akan hujatan “sudah punya banyak anak”, sehingga nekat mengubur bayinya sendiri.
Warga Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, digegerkan oleh temuan jasad bayi yang dikubur di belakang rumah oleh ibu kandungnya pada Senin (3/11/2025). Bayi malang itu baru dilahirkan oleh SL (33), seorang ibu rumah tangga.
Aksi tersebut dilakukan karena pelaku mengaku takut dihujat warga lantaran kembali hamil dan melahirkan, sementara ia sudah memiliki empat anak dari tiga pernikahan. (Bwi24jam.co.id, 4/11/2025)
Kehidupan yang diatur oleh sistem sekuler-kapitalis hari ini menjadikan fitrah keibuan terkoyak. Agama yang seharusnya menjadi arah hidup justru diabaikan. Akibatnya, jiwa menjadi labil dan mudah goyah dalam menghadapi persoalan. Jalan pintas dipilih tanpa memikirkan nyawa yang dikorbankan.
Sifat keibuan yang lembut lambat laun dapat hilang saat ibu diimpit persoalan—mahalnya sembako, biaya sekolah, layanan kesehatan yang tidak murah—ditambah cibiran tetangga yang menusuk hati. Terlihat tegar di luar, tetapi rapuh di dalam. Anak yang seharusnya menjadi penyejuk mata justru dianggap aib yang harus disingkirkan. Seharusnya, dalam dekapan ibu, anak mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Faktanya, hari ini sebagian ibu berubah menjadi sosok menakutkan bagi anaknya sendiri.
Darurat kondisi ibu yang tercerabut fitrahnya belum mendapat perhatian negara. Negara sibuk dengan pencitraan lima tahunan sehingga kebijakannya justru membebani masyarakat. Ibu pun menjadi pihak pertama yang terdampak—menjadikannya semakin jauh dari sifat keibuannya.
Fitrah Ibu Terjaga dengan Islam
Islam menempatkan ibu pada posisi terhormat—tiga kali lebih utama daripada ayah—karena dari tangan ibu yang baik, lahir generasi hebat. Dalam sistem Islam, negara menjaga fitrah ibu agar ia mampu menjalankan peran mulianya secara maksimal, termasuk melalui pemenuhan kebutuhan dasar keluarga secara layak.
Negara akan memberikan pemahaman kepada para ibu tentang peran utamanya: mendidik anak-anak dan mengatur rumah, sehingga keluarga merasakan ketenangan. Semua peran itu adalah kewajiban, bukan paksaan. Para ibu menjalankannya dengan bahagia karena menyadari konsekuensi dosa jika mengabaikannya.
Seorang ibu pun akan merasa tenang dan fokus karena tidak dibebani mencari nafkah. Mendidik anak memerlukan waktu dan tenaga besar. Dengan terpenuhinya kebutuhan hidup, kelembutan jiwanya terjaga, sehingga ia mampu membersamai anak secara optimal.
Ibu adalah amanah yang harus dijaga, ibarat tanah subur tempat tumbuhnya generasi berkepribadian kuat dan siap menjadi pemimpin masa depan. Sebaliknya, jika ibu dibiarkan mengatasi masalahnya sendirian tanpa dukungan keluarga dan negara, maka fitrah ibu yang terkoyak akan terus berulang.
Sudah saatnya para ibu menuntut penerapan Islam secara kaffah. Demi memaksimalkan peran keibuan agar lahir generasi emas—generasi yang melahirkan kembali figur seperti Muhammad al-Fatih, sang penakluk yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahualam bissawab.
Oleh: Umi Hanifah,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 41
















