Wahai Muslimah, Muliakan Dirimu dengan Menjadi Ibu Generasi Ideologis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah Swt. yang penuh keistimewaan. Ia tidak hanya identik dengan kecantikan dan kelembutan, tetapi juga dikaruniai kelebihan fisiologis yang tidak dimiliki kaum pria. Allah Swt. menitipkan rahim kepada perempuan, tempat tumbuhnya benih-benih manusia yang kelak akan lahir ke dunia.

 

Dengan perannya sebagai ibu, perempuan dimuliakan dan dihormati. Kedudukan ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah ﷺ ketika beliau ditanya tentang siapa yang paling berhak diperlakukan dengan baik. Nabi menjawab, “Ibumu.” Ditanya kembali, beliau menjawab, “Ibumu.” Ditanya lagi, beliau menjawab, “Ibumu.” Kemudian beliau bersabda, “Ayahmu, lalu yang terdekat setelahnya.” (HR Al-Bukhari)

 

Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dari rahim dan didikannya lahir tokoh-tokoh besar yang berpengaruh dalam sejarah peradaban, seperti Nabi Muhammad ﷺ, Imam Syafi’i, dan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Namun, dari rahim ibu pula lahir manusia-manusia perusak bumi, para penguasa zalim yang haus kekuasaan, seperti Raja Namrud, Fir’aun, dan Mustafa Kemal Ataturk yang menghapus Kekhilafahan Utsmani serta mengganti hukum Allah dengan hukum buatan manusia.

 

Potret kekejaman manusia juga tampak pada tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh penguasa Israel terhadap rakyat Palestina dalam perang berkepanjangan sejak 2023 hingga 2025, yang menewaskan 69.176 jiwa dan meluluhlantakkan negeri tersebut (Sinpo.id, 10/11/2025).

 

Ibu adalah pewaris generasi peradaban. Namun, peradaban seperti apa yang akan lahir sangat bergantung pada pandangan ideologis sang ibu.

 

Ibu tidak hanya melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak, tetapi juga menjalankan peran utama dalam menanamkan kesadaran ideologis kepada mereka. Anak-anak tumbuh dengan pemahaman visi dan misi hidup yang jelas, yakni menjalani kehidupan untuk menunaikan tujuan penciptaannya. Mereka memiliki perencanaan hidup yang terarah, dari bangun hingga kembali terlelap di malam hari. Hari-hari mereka dipenuhi aktivitas produktif dan bernilai amal saleh, bukan sekadar euforia dan kesenangan dunia semata. Pandangan hidup mereka melampaui kesuksesan dunia, menuju kebahagiaan hakiki di surga yang abadi.

 

Dari ibu ideologis akan lahir para pemimpin peradaban, penakluk dunia yang memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab besar di hadapan Rabb-nya. Generasi inilah yang tidak takut kepada siapa pun selain Allah Swt., menghadapi setiap tantangan dengan keberanian dan keteguhan demi tegaknya peradaban yang tinggi dan mulia.

 

Tantangan Menjadi Ibu Ideologis

 

Peran mulia sebagai ibu ideologis pada hari ini terasa semakin berat. Kehidupan sekuler yang mendominasi dunia menjadikan nilai dan aturan agama seolah mustahil diterapkan. Berbagai pemikiran menyimpang yang bertentangan dengan Islam dengan mudah tersebar dan diadopsi masyarakat, seperti paham kesetaraan gender, hak asasi manusia versi Barat, serta moderasi beragama. Gempuran pemikiran ini merusak pandangan hidup para ibu, sehingga peran mereka sebagai ibu ideologis kian memudar, bahkan hilang.

 

Perkembangan dunia digital juga menjadi tantangan serius. Anak-anak semakin rentan terhadap paparan konten yang tidak mendidik, sarat nilai sampah, dan jauh dari ajaran Islam. Media sekuler yang menguasai teknologi kerap membatasi bahkan menyingkirkan konten bernuansa Islam.

 

Selain itu, tekanan ekonomi turut memperberat peran ibu. Sistem ekonomi kapitalistik menyebabkan distribusi kekayaan tidak merata, memicu kemiskinan, dan memaksa para ibu meninggalkan peran keibuannya demi bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Akibatnya, fungsi ibu sebagai pendidik generasi semakin terpinggirkan.

 

Bersatu dalam Perjuangan Islam

 

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Penerapannya tidak boleh dibatasi pada ranah individu semata, melainkan harus diadopsi oleh negara sebagai institusi resmi yang menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Ini adalah amanah besar yang menjadi kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.

 

Mewujudkan cita-cita menjadi ibu generasi ideologis secara individual tentu sangat sulit. Namun, hal itu akan menjadi lebih ringan dengan dukungan sistem Islam. Sayangnya, sistem Islam saat ini belum ditegakkan secara sempurna. Oleh karena itu, kaum muslimah perlu bergabung dengan jemaah dakwah ideologis yang memperjuangkan tegaknya Islam secara kafah. Mereka membina diri dengan Islam kafah, melangkah bersama jemaah dakwah, berkiprah sebagai ibu dalam rumah tangga sekaligus sebagai pendidik dan penjaga generasi umat.

 

Khatimah

 

Wahai muslimah, bersegeralah menjadi bagian dari generasi ideologis. Allah Swt. berfirman dalam QS Ali ‘Imran ayat 133: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

 

Melalui ayat ini, Allah Swt. menyeru setiap mukmin untuk segera bergerak, berpindah dari kondisi penuh dosa menuju kehidupan yang diridai-Nya. Jangan menunda lagi, wahai saudariku. Bersegeralah berhijrah dan jadilah bagian dari ibu generasi ideologis, dengan balasan yang tak terbatas dan kenikmatan yang tak terbayangkan. Inilah waktunya! Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Zahra Tenia, S.K.M.,

Aktivis Muslimah

Loading

Views: 58

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA