Tinta Media – Cerita nestapa di Gaza masih belum usai, masih saja terjadi pembantaian terhadap anak-anak, terjadi kelaparan penjajahan yang terus berlangsung hingga saat ini. Akan tetapi, dunia sempat tersentak ketika Hamas menyetujui pelucutan senjata total setelah mencapai kesepakatan dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang digagas oleh penguasa adidaya Donald Trump (detikNews.com 03/08/2026).
Dewan perdamaian menegaskan bahwa terjadinya pelucutan senjata Hamas merupakan terobosan sejarah. Target selanjutnya adalah menarik pasukan Zionis Israel dari Gaza.
Sebaliknya, masyarakat Gaza sudah tidak menaruh lagi kepercayaan terhadap kesepakatan apa pun, baik yang dilakukan Hamas atau Israel. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kesepakan yang dilakukan berulang kali gagal memberikan perbaikan di Gaza.
Setelah pelucutan senjata Hamas, Zionis Israel diharuskan menarik pasukan dari Gaza, dan Palestina diambil alih oleh pasukan stabilitas internasional dan polisi Palestina. Mirisnya, meski Hamas telah melakukan pelucutan senjata, Zionis tetap melakukan aksi penyerangan terhadap warga sipil di Gaza.
Kesepakatan pelucutan senjata terhadap Hamas dan kelompok kecil lainya merupakan strategi yang dilakukan Amerika dan Israel dengan berlindung dalam _Board of Peace_. Tujuan utamanya adalah untuk melemahkan bahkan memadamkan perjuangan rakyat yang ada di Palestina.
Pada saat ini, pemikiran masyarakat sudah teredam akan penolakan terhadap bergabungnya negeri ini dengan BoP, dengan segala kesepakatan yang sangat merugikan. BoP dengan dewan perdamaiannya hanyalah alat propaganda yang direkayasa untuk merugikan Palestina, karena dalam BoP tidak tercantum pembebasan Palestina.
Makin jelas bahwa terbentuknya dewan perdamaian (BoP) hanya merupakan mekanisme imperialisme yang makin melanggengkan penjajahan Zionis Yahudi atas Palestina. Dalam perspektif Islam, umat seharusnya ada dalam tatanan kehidupan Islam, dengan penguasa yang menerapkan Islam secara sempurna dan menyeluruh.
Faktanya, saat ini penguasa negeri yang mayoritasnya muslim ini menjalankan kebijakannya dengan campur tangan asing, bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tatanan dunia yang dikendalikan negara adidaya. Dalam Islam, kaum muslimin dilarang melakukan kesepakatan atau perjanjian dengan pihak asing yang memusuhi Islam. Zionis Yahudi adalah pihak yang jelas memerangi Islam, sehingga umat dilarang keras menjalin kesepakan kerja sama dengan musuh.
Karena Palestina merupakan tanah kharajiyah milik umat Islam, maka masalah di Palestina merupakan persoalan seluruh kaum muslimin, sehingga yang bisa dilakukan hanya dengan jalan jihad. Mirisnya, yang terjadi saat ini, para penguasa negeri muslim seolah menutup mata atas apa yang terjadi di jalur Gaza. Mereka mencari aman demi mempertahankan kekuasaannya.
Kini, yang diperlukan untuk lepas dari semua belenggu adalah persatuan seluruh umat. Umat Islam memerlukan pelindung untuk bergerak dalam satu komando tunggal yang merupakan perisai, yaitu Khilafah. Wallahu alam bishawab.
Oleh: Farida Zahri
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 2
















