Tinta Media – Derita dan nestapa kembali mengguncang dunia. Setelah Gaza, kini giliran Sudan. Ribuan warga sipil, kaum Muslimin, kembali menjadi korban akibat konflik perang saudara antara Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dengan Militer Sudan. Dalam waktu tiga hari saja, konflik ini telah menelan sekitar 1.500 jiwa akibat penguasaan RSF di El-Fasher. (Republika.com, 25/10/2025)
Sudan merupakan negeri yang penuh berkah, dengan sumber daya alam berlimpah, lahan subur yang dialiri Sungai Nil, serta tambang minyak dan emas. Ironisnya, kekayaan alam yang melimpah itu kini menjadi rebutan, sementara penduduknya terpuruk dalam penderitaan berkepanjangan.
Pembantaian yang terjadi di El-Fasher dan disaksikan dunia saat ini merupakan kelanjutan dari rangkaian konflik yang dimulai sejak tahun 2023. Sejak perang pecah, sudah lebih dari 14.000 jiwa menjadi korban — ribuan di antaranya tewas akibat pemboman dan kelaparan. Semua kejadian tersebut membuktikan bahwa serangan itu merupakan bagian dari kampanye pemusnahan umat Islam yang disengaja dan sistematis.
Kondisi Sudan saat ini tidak lepas dari pengaruh politik global yang lahir dari sistem kapitalis yang pragmatis. Negara-negara berkembang seakan dipaksa tunduk pada skema ekonomi kapitalis, di mana hak manusia hanya diakui jika sejalan dengan kepentingan adidaya. Gejolak Sudan kini berada dalam salah satu bab tergelap dalam sejarah modernnya. Di balik semua pembantaian itu, tampak jelas campur tangan asing, terutama Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Inggris. Sementara itu, negara boneka Zionis Yahudi mengincar posisi strategis di Afrika demi mengamankan jalur geopolitiknya.
Kehadiran negara-negara asing bukan untuk menyelamatkan Sudan, melainkan untuk memburu kekayaan sumber daya alam yang menggiurkan. Akibatnya, Sudan tak pernah benar-benar mampu menentukan nasibnya sendiri.
Selama umat Islam masih terpecah, terkungkung oleh batas negara-bangsa dan sistem kapitalisme, maka penderitaan seperti yang dialami Sudan akan terus berulang di negeri-negeri Muslim lainnya.
Penderitaan tanpa akhir ini terjadi karena umat Islam tidak memiliki payung pelindung—perisai yang menjaga darah dan kehormatan mereka. Dunia Islam kini membutuhkan kesadaran ideologis bahwa konflik tersebut bukan sekadar konflik etnis, melainkan pertarungan peradaban antara Islam dan kapitalisme.
Dalam sistem pemerintahan Islam, seluruh aspek kehidupan manusia diatur secara komprehensif dan paripurna. Aturan itu bersumber dari Sang Pencipta dengan asas syariat yang mengatur kepemilikan dan pengelolaan sumber daya alam secara adil. Sistem Islam memiliki kekuatan untuk mempersatukan negeri-negeri Muslim menjadi satu kekuatan kokoh yang melindungi kemuliaan umat—melalui tegaknya Khilafah Islamiyyah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Farida Zahri,
Muslimah Peduli Generasi
![]()
Views: 35














