Tinta Media – Krisis kemanusiaan di Palestina semakin memburuk akibat tindakan Israel yang menghalangi bantuan ke Gaza serta membatasi akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadan. Situasi ini mengundang kecaman global, namun respons dunia tetap terbatas.
Pada awal Maret 2025, Israel menghentikan masuknya bantuan ke Gaza setelah Hamas menolak proposal gencatan senjata. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beralasan bahwa penghentian bantuan ini bertujuan untuk menekan Hamas agar melepaskan tawanan tanpa penarikan pasukan Israel.
Keputusan ini mendapat kritik dari Inggris, Prancis, dan Jerman, yang menyatakan bahwa tindakan Israel melanggar hukum kemanusiaan internasional. Mereka menekankan bahwa bantuan kemanusiaan tidak boleh dijadikan alat politik.
Kondisi di Gaza semakin memburuk dengan kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Laporan Program Pangan Dunia menyebutkan bahwa persediaan makanan di Gaza hanya cukup untuk kurang dari dua minggu, sementara rumah sakit beroperasi dalam kondisi kritis.
Selain itu, Israel membatasi akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Hamas menyerukan agar umat Islam tetap beribadah di Masjid Al-Aqsa sebagai bentuk perlawanan terhadap pendudukan Israel.
Kegagalan Sistem Kapitalisme dan Nasionalisme
Kondisi ini menunjukkan kegagalan nasionalisme dan kapitalisme dalam menjaga hak-hak kemanusiaan. Nasionalisme yang membatasi kepedulian hanya pada batas negara menyebabkan banyak pemimpin Muslim tidak bertindak tegas terhadap penjajahan Israel atas Palestina.
Dalam sistem saat ini, peta-peta negara membentuk batasan nasional yang menyebabkan negara-negara Muslim terpecah dan mengabaikan nasib saudara seiman mereka. Sikap ini sangat berbahaya karena menjadikan penderitaan Palestina sebagai “urusan negara lain,” padahal umat Islam seharusnya bersatu sebagai satu kesatuan umat.
Solusi Islam Kaffah di Bawah Naungan Khilafah
Hanya Islam kaffah di bawah naungan Khilafah yang dapat menyatukan umat Islam dan membebaskan Palestina. Dalam Islam, umat adalah satu tubuh, sehingga penderitaan satu bagian tubuh harus dirasakan oleh seluruhnya.
Berikut solusi Islam kaffah untuk membebaskan Palestina:
1. Menyatukan negara-negara Muslim
Khilafah akan menyatukan seluruh negeri Muslim dalam satu kepemimpinan, sehingga Palestina tidak akan lagi dibiarkan berjuang sendiri.
2. Menggerakkan jihad fi sabilillah
Dalam Islam, membela saudara seiman yang tertindas adalah kewajiban. Khilafah akan mengerahkan kekuatan militer untuk membebaskan Palestina dari penjajahan.
3. Menghentikan ketergantungan pada Barat
Saat ini, negara-negara Muslim banyak bergantung pada kekuatan Barat yang mendukung Israel. Dengan Khilafah, sumber daya umat akan digunakan untuk membela kepentingan Islam, bukan sekadar mengejar keuntungan ekonomi.
4. Membangun ekonomi Islam yang kuat
Sistem ekonomi Islam akan memastikan kesejahteraan umat dan menjamin pasokan bantuan bagi wilayah yang mengalami krisis, tanpa perlu bergantung pada negara-negara asing.
5. Menghilangkan nasionalisme yang memecah belah umat
Islam mengajarkan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan, bukan terkotak-kotak oleh batas negara. Hanya dengan sistem khilafah, umat Islam bisa bersatu dan melawan ketidakadilan dengan kekuatan penuh.
Krisis Palestina hanya dapat diselesaikan dengan penerapan Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah. Selama dunia masih terjebak dalam nasionalisme dan kapitalisme, penderitaan rakyat Palestina akan terus berlanjut. Umat Islam harus menyadari bahwa satu-satunya jalan keluar adalah dengan bersatu di bawah kepemimpinan Islam yang sejati, yang akan membela kehormatan umat dan membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajahan.
Allahu Akbar!
Oleh: Anggun Istiqomah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 18
















