Membebaskan Gen Z dari Jerat Sekularisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Gen Z sering disebut sebagai generasi digital. Hampir setiap hari mereka berhadapan dengan layar, informasi, tren, dan berbagai macam opini. Jari mereka begitu cepat mengikuti perkembangan. Mereka juga berani menyampaikan pendapat dan tidak segan mempertanyakan banyak hal. Namun, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan: apakah mereka benar-benar merdeka?

Di satu sisi, anak muda merasa bebas memilih gaya hidup, menentukan kesukaan, bahkan membangun identitasnya sendiri. Di sisi lain, pilihan itu sering kali dibentuk oleh tren, algoritma, popularitas, materi, dan tekanan lingkungan. Tanpa disadari, sesuatu yang dianggap sebagai kebebasan justru bisa berubah menjadi bentuk pengendalian baru.

Persoalan generasi muda hari ini ternyata bukan hanya soal pendidikan atau kemampuan akademik. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebut derasnya arus informasi digital dapat memengaruhi pola pikir hingga perilaku remaja. Bahkan menurut data, 34,9 persen kesehatan mental remaja Indonesia terganggu (Antara, 22/9/2026).

Kondisi ini tentu patut menjadi perhatian. Bayangkan saja, pengguna termuda layanan konseling kesehatan jiwa Healing 119 berada pada usia 8–10 tahun. IPKI menyebut kesepian menjadi salah satu persoalan yang muncul, terutama pada remaja awal (Antara, 9/9/2026).

Kekhawatiran terhadap dunia digital juga terlihat dari hasil survei. Survei Poltracking menunjukkan 77,4 persen masyarakat mendukung pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Alasannya antara lain, kekhawatiran terhadap konten berbahaya, perundungan siber, kecanduan digital, dan eksploitasi online (Antara, 5/6/2026).

Lantas, mengapa generasi yang mudah terhubung justru menghadapi persoalan yang makin rumit? Tentu tidak tepat jika semua masalah ditimpakan kepada gawai. Teknologi hanyalah salah satu sarana. Persoalan yang lebih mendasar adalah nilai apa yang membentuk cara berpikir dan perilaku generasi muda.

Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, ukuran benar dan salah akhirnya mudah bergeser. Kebebasan individu, kesenangan, popularitas, dan kepentingan materi sering ditempatkan sebagai ukuran utama. Inilah cara pandang sekularisme yang dapat membuat manusia kehilangan arah ketika menentukan tujuan hidup.

Anak muda kemudian terus mendengar kalimat, “Jadilah dirimu sendiri.” Kalimat itu terdengar indah. Akan tetapi, siapa yang membentuk “diri” tersebut? Apakah keluarga? Ataukah algoritma media sosial, influencer, industri hiburan, teman sebaya, dan lingkungan yang setiap hari mereka konsumsi?

Islam memberikan ukuran yang berbeda. Kemandirian tidak berarti hidup tanpa aturan. Manusia akan benar-benar merdeka ketika hanya tunduk kepada Allah Swt., bukan menjadi pengikut tren, materi, manusia, atau hawa nafsu.

Allah Swt. berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan. Karena itu, Gen Z tidak cukup hanya dibekali keterampilan agar mampu bertahan menghadapi persaingan. Mereka juga harus memahami untuk apa hidup ini, kepada siapa mereka tunduk, dan ke mana semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan.

Islam membangun generasi melalui pembinaan yang menyeluruh. Pertama, keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama anak mengenal akidah, ibadah, dan akhlak. Orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga mendampingi anak ketika menghadapi derasnya arus informasi digital.

Kedua, pendidikan. Pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai, ijazah, dan keterampilan kerja. Pendidikan harus membentuk kepribadian Islam sehingga lahir generasi yang beriman, berpikir kritis, produktif, sekaligus memiliki tanggung jawab kepada Allah dan masyarakat.

Ketiga, negara. Negara memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang melindungi generasi. Pendidikan, ekonomi, media, dan kebijakan publik semestinya diarahkan untuk kemaslahatan, bukan semata-mata mengikuti kepentingan pasar.

Karena itu, persoalan Gen Z tidak akan selesai hanya dengan seminar motivasi, larangan menggunakan gawai, atau nasihat sesaat. Semua itu bisa menjadi bagian dari ikhtiar. Namun, persoalan yang bersifat sistemis membutuhkan perubahan cara pandang terhadap kehidupan.

Gen Z membutuhkan Islam bukan sekadar sebagai identitas, tetapi sebagai ideologi yang menjadi pedoman kehidupan. Mereka harus dibebaskan dari belenggu sekularisme dan dikembalikan kepada aturan Sang Pencipta.

Generasi yang benar-benar merdeka bukanlah generasi yang bebas melakukan apa saja. Mereka adalah generasi yang memahami tujuan hidup dan memilih tunduk kepada Allah Swt.

Karena itu, perubahan tidak boleh berhenti pada individu. Diperlukan perjuangan untuk membangun kehidupan yang menjadikan Islam sebagai landasan. Saatnya membebaskan Gen Z dari sekularisme dan mengganti sistem yang menjauhkan manusia dari syariat dengan sistem yang menjadikan syariat sebagai pedoman kehidupan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Deny Haryanto
(Sahabat Tinta Media)

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA