Tinta Media – Dakwah merupakan seruan terhadap umat, bisa disampaikan dengan lisan maupun tulisan. Seruan itu akan lebih efektif bila mengarah kepada pemikiran yang menjadi awal tindakan. Dalam hal ini, dakwah pemikiran bertujuan untuk meluruskan cara berpikir umat agar sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar.
Dalam era modern yang penuh dengan arus informasi, banyak pemikiran yang menyimpang dan dapat menyesatkan umat dari ajaran Islam. Oleh karena itu, dakwah pemikiran berfungsi untuk memahamkan umat agar menjalani kehidupan ini dengan tuntunan syariat Islam yang lurus.
Bukankah pemikiran yang sehat berawal dari akidah yang lurus? Dakwah pemikiran mengajarkan umat untuk memahami tauhid dengan baik dan menjauhi syirik, bid’ah, serta pemahaman yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunah.
Dalam hal ini, Islam sangat mendorong umatnya untuk berilmu dan memiliki ketajaman berpikir. Dakwah pemikiran mengajarkan umat untuk tidak mudah terpengaruh oleh propaganda, hoaks, atau ideologi yang bertentangan dengan Islam. Perkara bid’ah seringnya berkutat pada persoalan cabang dalam ilmu fikih. Padahal, ada bid’ah yang lebih membahayakan umat, yaitu bid’ah ideologi yang menyangkut cara pandang kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sistem sekularisme yang diterapkan banyak negara saat ini sebenarnya adalah perkara ideologi yang telah menyimpang jauh dari akidah Islam. Tentunya, dakwah pemikiran menjadi sangat penting untuk menyadarkan umat dengan ideologi Islamnya dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Bagi seorang muslim harus memiliki prinsip hidup yang kokoh. Dakwah pemikiran membantu membentuk identitas yang kuat sehingga umat Islam tidak mudah goyah oleh pengaruh budaya dan pemikiran asing yang bertentangan dengan syariat.
Hanya saja, pemikiran harus berdasarkan ilmu. Namun, ilmu harus disertai adab. Pasalnya, ilmu tanpa adanya adab akan melahirkan kesombongan dan kebodohan moral. Oleh karena itu, menanamkan adab dalam berilmu menjadi keharusan yang tidak bisa diabaikan.
Seorang penuntut ilmu harus menyadari bahwa ilmu adalah karunia dari Allah. Kesombongan hanya akan menjauhkan diri dari keberkahan ilmu. Allah Swt. telah mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 37, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong…”
Ada adab sebelum ilmu, seperti halnya menghormati guru adalah bagian dari tradisi keilmuan Islam. Imam Malik bahkan enggan membuka buku di hadapan gurunya sebagai tanda penghormatan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu sangat erat kaitannya dengan adab terhadap guru.
Selain itu, ilmu yang tidak diamalkan dalam gerak dakwah bagaikan pohon tanpa buah. Islam menuntut setiap muslim untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari. Rasulullah saw. bersabda di dalam hadis riwayat Ahmad, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
Adab dalam ilmu sepaket dengan penyampaian dakwah yang mencakup perkara menjaga lisan dari debat kusir yang tidak bermanfaat dan hati dari penyakit seperti riya’ dan ujub. Oleh karena itu, dakwah pemikiran dan adab dalam berilmu harus berjalan seiring untuk melahirkan generasi muslim yang berilmu, beradab, dan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Pemikiran yang lurus akan memperkuat akidah dan wawasan, sementara adab yang baik akan menjaga ilmu tersebut tetap membawa berkah dan manfaat. Adanya keseimbangan antara intelektualitas dan akhlak akan membangun umat yang tidak hanya pandai dalam berdiskusi tetapi juga bijak dalam bertindak.
Wallahu’alam bish Shawwab.
Oleh: Maman El Hakiem
(Pegiat Literasi)
![]()
Views: 14
















