Anak-Anak Gaza Kelak Akan Menuntut Tanggung Jawab Kita

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menerima perjanjian dengan Zionis Yahudi sama saja dengan mempertaruhkan nyawa dan hidup orang-orang tak bersalah, terutama anak-anak yang kondisi psikologisnya masih rentan dan butuh perhatian dan kasih sayang. Sebaliknya, yang terjadi di bumi Syam, terlebih lagi Palestina, Israel telah membunuh lebih dari 50.600 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Di mana letak hati dan pikiran Zionis yang dulunya mengemis-ngemis tanah pada umat Islam, saat Sultan Abdul Hamid II menjabat sebagai khalifah? Mereka seperti batu, bahkan keji melebih iblis.

Pengadilan Kriminal Internasional November lalu mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Zionis Yahudi juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di daerah kantong tersebut (erakini.id, 5/4/2025).

Arogansi dan kebencian penguasa adidaya Barat sangat terlihat jelas pada Islam dan ingin menghancurkannya dengan membantai seluruh kaum muslimin. Tak sadarkah kita akan hal ini?

Allah Taala pun berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 118 yang artinya, “Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Kecaman dan ancaman berbagai negara-negara dunia pun seakan hanya menjadi ‘setan bisu’ karena tak mampu mengirimkan pasukan dan tentaranya untuk melakukan jihad ofensif (menyerang), bukan hanya defensif (perlawanan/pertahanan) yang sudah dilakukan jauh-jauh hari oleh rakyat Palestina, terlebih Hamas. Berapa banyak lagi anak-anak yang harus gugur dan teraniaya?

Penjajahan memang menjadi metode kafir harb (kafir yang jelas memusuhi Islam). Penyiksaan, perampasan, kehancuran terjadi di depan mata. Sekat nasionalisme membunuh akidah kita sebagai seorang muslim. Apakah sifat wahn (takut mati) sudah menjangkiti umat Islam saat ini?

Ketakutan yang dialami para penguasa muslim memanglah wajar, karena mereka tentu masih memiliki kepentingan untuk melanjutkan kekuasaannya, yaitu kekuasaan sekuler-kapitalisme. Ketakutan yang dirasakan para pemimpin kafir pun demikian. Mereka takut Islam akan bangkit dan bersatu untuk menghancurkan kekuasaan zalim yang hanya mementingkan urusan sendiri. Maka dari itu, mereka menjajah, membunuh, dan melempar opini buruk pada Islam bahwa kekerasan, terorisme, dan radikalisme lekat dengan aturan Islam, padahal itu hanyalah fitnah dan tipu daya atas keserakahan kaum kafir.

Zionis Yahudi tetap melakukan penyerangan, bahkan saat tengah genjatan senjata, yang bermula sejak pembatasan Masjid Al-Aqsa di bulan Ramadan, meski Pengadilan Kriminal Internasional pun sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan, mereka melanggar perjanjian. Bahkan, saat gencatan senjata pun mereka melakukan itu secara terang-terangan.

Pada 2019 saja, International Criminal Court atau Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengumumkan, ada dasar yang masuk akal untuk menyelidiki potensi kejahatan perang oleh Israel di Tepi Barat yang diduduki, Yerusalem Timur yang diduduki, dan Gaza. Pemerintahan Trump menentang keras hal ini, membela Israel dan mengambil langkah untuk melakukan pengadilan.

Tahun berikutnya, dalam menghadapi penolakan keras dari dunia internasional, pemerintah menjatuhkan sanksi kepada para pejabat ICC, termasuk Jaksa Agung Fatou Bensouda, dengan membatasi visa dan membekukan aset mereka. Dia ingin duta besar AS untuk Israel, yaitu Gubernur Arkansas Mike Huckabee, yang menentang solusi dua negara yang akan memberikan Palestina sebuah negara dan bahkan mempertanyakan apakah “yang namanya Palestina itu ada”. (Tempo.co, 6/2/2025).

Nasib anak-anak Palestina bukan lagi dipertaruhkan, tetapi sudah ada di ambang kematian beruntun, dihabisi besar-besaran yang memang menjadi proyek besar kaum kafir untuk membersihkan etnis alias genosida umat Islam.

Proyek ini sungguh besar dan berat, jika hanya dipikul oleh satu negara, apalagi hanya sekadar kelompok bersenjata seperti Hamas. Proyek besar harus dilawan dengan proyek besar pula. Negara adidaya harus didobrak dengan negara kuat, yang tidak mungkin hanya dilakukan oleh negara-negara tetangga. Umat Islam harus bersatu, bukan lagi dalam sekat nasionalisme dengan berbagai macam bendera. Umat Islam perlu bendera yang satu dengan kepemimpinan yang satu.

Karena sejatinya, kewajiban jihad bukan hanya dimiliki oleh negeri-negeri ‘panas’ dengan peperangan. Ini karena setiap muslim bersaudara. Siapa saja yang meminta pertolongan dalam agama, maka wajib menolongnya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah al-Anfal ayat 72, yang artinya:

“(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.”

Jihad ofensif (perlawanan) tidak mungkin dilakukan oleh para antek/boneka penguasa Barat. Pengiriman pasukan perlu dilakukan oleh seorang khalifah yang memiliki kepemimpinan satu. Dalam kepemimpinan itu, kekuasaan dan kekuatan ada di tangan kaum muslimin. Membebaskan Syam, khususnya Palestina membutuhkan khalifah dan tentara yang berani, sebagaimana Sayfuddin Qutuz pada Perang Ain Jalut.

Jika proyek besar kaum kafir adalah ‘membersihkan’ umat Islam, maka proyek besar kita melanjutkan kehidupan Islam dan membebaskan Palestina dari cengkeraman musuh. Islam memiliki sistem hidup yang tak sama dengan agama lain. Khilafah (negara Islam) bukanlah negara yang mayoritas memeluk agama Islam, tetapi penerapan ide, pemahaman, hukum dan kehidupan yang diatur oleh Islam.

Itulah mengapa dalam sejarah penaklukan tanpa kekerasan terjadi, karena bukan muslim pun ingin diatur dalam naungan Islam. Sebagaimana yang pernah terjadi pada penaklukan Al-Quds oleh Khalifah Umar bin Khattab pada 20 Rabiul awal 15 H (5 Februari 636 M).

Karena sejatinya, khilafah bukanlah dari dan untuk segelintir orang, tetapi dari umat dan untuk seluruh umat Islam. Maka, sudah semestinya kita wajib membela nasib rakyat, terutama anak-anak Palestina, sebagai bukti tanggung jawab dan hujjah kita di mahkamah akhirat kelak.[]

 

 

Oleh: Alin Aldini,

Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Loading

Views: 13

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA