Tinta Media – Entitas zionis Yahudi telah melanggar semua aturan perang di Gaza sejak 7 Oktober 2023. Pertama, entitas zionis Yahudi terus melakukan genosida dan menyerang warga sipil Palestina di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 45.200 orang, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Menurut PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), Selasa (24/12/2024), setiap jamnya satu anak tewas di jalur Gaza akibat serangan brutal zionis Yahudi. Mereka yang selamat pun terluka secara fisik dan emosional, tanpa akses pendidikan dan layanan kesehatan, bahkan anak-anak Gaza terpaksa mengais di atas puing-puing bangunan. Mereka kehilangan nyawa, masa depan, dan juga harapan.
Entitas zionis Yahudi juga menyerang bebagai fasilitas umum. Salah satunya serangan yang dilancarkan ke RS Kamal Adwan, yang menjadikan hancurnya fasilitas kesehatan utama yang masih beroperasi di Gaza Utara. Organisasi kesehatan dunia (WHO, Jum’at 28/12/2024) menyatakan, bahwa penghancuran kesehatan secara sistematis di Gaza menjadi-jadi, kematian puluhan ribu jiwa rakyat Palestina yang membutuhkan penanganan kesehatan secara mendesak, kata WHO.
Kondisi Gaza, terutama anak-anak makin mengenaskan, akibat kebiadaban zionis yahudi yang membabi buta dalam menyerang semua termasuk anak-anak, serta fasilitas umum yang seharusnya tidak ditarget untuk diserang, seperti rumah sakit- rumah sakit. Kaum muslim tidak bisa berharap kepada dunia internasional, seperti negara-negara barat semisal AS, Prancis, Inggris, dan Jerman yang secara terbuka memberi dukungan bantuan keuangan dan militer kepada entitas yahudi. Sebaliknya para pemimpin dunia Islam hanya mengecam dan mengemis bantuan PBB. Mirisnya lagi, mereka kerap menjadikan isu Palestina hanya untuk pencitraan dan justru mengambil solusi dua negara arahan barat yang tidak akan pernah menyelesaikan perang ini, karena justru menjadi justifikasi dari keberadaan entitas Yahudi di tanah Palestina, sebagai penjajah.
Dalam genosida yang terus berlanjut menimpa kaum Muslimin Gaza, para pemimpin Muslim merasa puas ketika mereka sudah memberikan bantuan logistik, baik berupa makanan dan obat-obatan, termasuk fasilitas tenda pengungsian, tanpa bantuan militer dan persenjataan sedikitpun. Padahal negeri-negeri Islam mempunyai kekuatan militer yang besar untuk dapat membantu Palestina. Namun kenyataannya, militer dan persenjataan mereka hanyalah dibiarkan di barak dan gudang persenjataan mereka. Inilah hakikatnya pengkhianatan mereka terhadap kaum muslimin Gaza. Diperparah lagi dengan mayoritas pemimpin negeri muslim, yang melakukan normalisasi dengan entitas zionis Yahudi, sehingga memiliki hubungan bilateral, yang justru dapat menyokong eksistensi mereka, baik secara politik maupun ekonomi. Artinya, tangan para pemimpin muslim berlumuran darah muslim Palestina.
Mereka telah memberikan bahan bakar untuk kendaraan tempur zionis yang dipakai untuk menggempur Gaza, membunuhi penduduknya tanpa kecuali, termasuk anak-anak dan bayi-bayi. Entitas Zionis mendapatkan minyak bumi, dan mengandalkan pasokan air dengan membeli dari Yordania dan Turki. Para pemimpin muslim telah mengkhianati saudara mereka di Palestina. Bentuk pengkhianatan yang lainnya adalah mereka menjadikan wilayah negara mereka sebagai jalur perlintasan militer AS yang membantu entitas. Mereka tidak hanya mengkhianati Palestina tetapi juga telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, karena mereka bersekutu dengan musuh-musuh Allah.
Nasionalisme yang begitu diagung-agungkan dalam sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini di seluruh dunia, telah memecah belah umat Islam, yang sejatinya tidak akan pernah memberikan keadilan, karena berpijak pada hawa nafsu dan kepentingan semata. Mereka diam, tak bergerak, tak menggunakan kekuatan tangan dan lisannya untuk mencegah kejahatan mereka, padahal Gaza telah berteriak lantang meminta pertolongan.
Saatnya kaum Muslim bersatu , dengan menyatukan pemikiran dan perasaan mereka yang berlandaskan pada aqidah Islam. Karena muslim itu bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sakitnya. Jadi yang diderita kaum muslim di Gaza maka kita sebagai kaum muslim ikut merasakan penderitaan mereka. ketika perasaan dan pemikiran telah menyatu ini akan mendorong umat terutama para pengemban dakwah Islam, para pemuda muslim untuk bangkit melawan rezim mereka dan bergerak kepalestina untuk membebaskan palestina.
Rasulullah saw bersabda:
” Siapa saja yang bangun di pagi hari dan tidak memikirkan urusan kaum muslim, maka ia bukan termasuk golongan kaum muslim” (H.R ath-thabrani).
Sabda Rasul ini mewajibkan kaum muslim untuk berjuang membangkitkan umat dan menyatukan umat, dengan berupaya melepaskan diri dari kungkungan ideologi kapitalisme sekularisme. Dan aktivitas ini hanya bisa dilakukan oleh partai politik ideologis.
Krisis palestina adalah pelajaran penting tentang persatuan dunia di bawah kepemimpinan Islam, yang menghidupkan syiar dakwah, jihad, serta menebar rahmat bagi semesta alam. Palestina adalah semangat untuk bersatu melawan kezaliman dan tontonan ketidakadilan negara-negara barat kepada Islam dan kaum muslim.
Zionis Yahudi Israel yang didukung negara-negara Barat, dengan menggunakan kekuaatan militer, memborbardir dan meluluhlantakan Gaza dan membantai kaum muslim disana, hanya bisa dilawan dengan mengirimkan bantuan militer, mengerahkan segenap kekuatan, dengan persatuan kaum muslim di bawah kepemimpinan Khalifah yang satu untuk seluruh dunia. Dalam komando kepemimpinan Islam untuk mengumandangkan seruan jihad. Para pemuda menuntut tegaknya khilafah dan mengangkat seorang Khalifah untuk memimpin kaum muslim setelah untuk membebasan palestina. Karena kepemimpinan akan menjadi perisai ketika ia ditegakan dengan landasan Islam.
Wallahu alam bis shawab .
Oleh: Elah Hayani
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 7
















