Gen Z Pengangguran Terbanyak, Islam Mampu Berikan Solusi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Akhir-akhir ini lowongan pekerjaan menjadi hal yang paling disoroti. Ratusan hingga ribuan generasi muda berlomba-lomba membuat lamaran kerja, sementara jumlah pekerja yang dibutuhkan sangat terbatas, sehingga banyak yang tidak mendapatkan pekerjaan.

Dalam laman cnbcindonesia.com (01/05/2025) disebutkan bahwa kenaikan drastis jumlah pengangguran ini dimulai pada saat pandemi Covid-19 menyerang. Saat itu, perekonomian nyaris lumpuh. Perusahaan banyak gulung tikar dan reikruitmen berkurang.

Meskipun jumlah pengangguran tingkat sekolah menengah masih lebih banyak jumlahnya, tetapi mereka lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang tidak menuntut ijazah perguruan tinggi.

Mereka yang lulusan sarjana saat ini kerap terjebak dalam mimpi dan ekspetasi yang tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Banyak dari mereka yang tak mau bekerja di luar bidang studi yang mereka miliki, menolak pekerjaan yang kurang bergengsi, menuntut gaji atau posisi ideal menurut mereka sehingga harus menunggu lebih lama, sementara waktu terus berjalan.

Penyebab Tingginya Angka Pengangguran

Membludaknya jumlah pengangguran ini sudah pasti disebabkan karena sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia, terutama sejak pandemi. Banyak pengusaha yang bangkrut, juga perusahaan yang melakukan PHK.

Saat ini, negara hanya menjadi jembatan antara sumber daya manusia dengan pihak industri yang menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam sistem kapitalis, tentu saja pemerintah mendahulukan kepentingan yang menguntungkan. Kebanyakan lowongan diisi oleh kenalan orang dalam atau dimuluskan oleh amplop tebal. Banyak juga perusahaan yang mulai mempekerjakan warga negara asing, sehingga rakyat sendiri terpinggirkan.

Bagaimana Negara Islam Mengurusi Rakyat?

Dalam Islam lapangan pekerjaan untuk rakyat merupakan tanggung jawab khalifah sebagai kepala negara, karena negara Islam berfungsi sebagai raa’in (pengurus rakyat).

Negara melarang swasta maupun asing mengelola sumber daya alam. Berbagai industri diciptakan dan diurus sendiri, sehingga membutuhkan banyak pekerja dan terciptalah lapangan pekerjaan yang begitu luas. Jadi, banyaknya lulusan dunia pendidikan pasti akan terserap.

Dalam Islam, tidak ada pengangguran, kecuali orang-orang yang fisiknya lemah, sehingga harus dinafkahi oleh keluarganya atau negara. Berbagai sumber daya alam yang ada dikelola oleh negara secara langsung, yang hasilnya dapat digunakan untuk kemaslahatan umat.

Dalam negara Islam, pendidikan tidak ditujukan untuk menargetkan generasinya sebagai pekerja industri, meskipun mereka secara tidak langsung sangat berkompeten dalam bidang tersebut.

Asas pendidikan dalam negara Islam adalah akidah dan tujuan pendidikannya adalah menciptakan generasi berkepribadian islami dan menguasai Iptek. Kurikulum yang digunakan juga sesuai syariat dengan tujuan menjadikan anak didik yang ahli dalam ilmu agama serta mampu menjadi pakar dalam ilmu pengetahuan maupun teknologi.

Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhori).

Pemerintah dalam negara Islam berlaku sebagai pelayan dan pengurus umat, bukan penguasa, sehingga tidak akan mengutamakan kepentingan dan keuntungan pribadinya di atas kebutuhan umat.

Seperti inilah jika syariat Islam diterapkan, sangat berbeda dengan sistem kapitalis yang hanya merugikan dan menyengsarakan umat. Islam hadir untuk memudahkan dan menjaga manusia dalan menjalani kehidupan. Oleh sebab itu, harusnya kita sadar dan kembali kepada syariat Islam secara kaffah. Wallahu ‘alam bisshawab.

 

Oleh: Audina Putri

(Aktivis Dakwah)

Views: 42

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA