Tinta Media – Palestina terus mengalami serangan bertubi-tubi tanpa henti dari Zionis Israel. Banyak nyawa melayang. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Ironisnya, dunia, termasuk negara-negara muslim, seolah acuh tak acuh terhadap tragedi ini.
Dikutip dari erakini.id, 5/4/2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa setiap hari, sejak serangan berulang dimulai pada 18 Maret 2025, sekitar 100 anak kehilangan nyawa. Sementara itu, Amerika Serikat tetap menunjukkan dukungan berkelanjutan kepada Israel, tanpa memperhatikan penderitaan yang mengintai di Gaza.
Dalam rangka memperingati Hari Anak Palestina, berbagai badan di Palestina dan PBB mengungkapkan kisah-kisah memilukan tentang anak-anak yang menjadi korban serangan Israel. Philippe Lazzarini, kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), menegaskan melalui akun X-nya bahwa pembunuhan anak-anak tidak dapat dibenarkan. (Arab News, Sabtu, 5 April 2025)
Sejak konflik di Gaza dimulai, sekitar 1,9 juta orang, termasuk ribuan anak, terpaksa menjadi pengungsi di tengah ketakutan, kehilangan, dan kebisingan pemboman. Sejak Oktober 2023, lebih dari 50.600 warga Palestina telah menjadi korban tewas akibat serangan brutal Israel, dengan banyak di antaranya adalah wanita dan anak-anak.
Rumah sakit juga kewalahan menangani jumlah pasien yang terus meningkat. Banyak dari mereka terpaksa tergeletak di lantai akibat terbatasnya ruang dan kekurangan pasokan medis. Beberapa pasien bahkan kehilangan nyawa karena kehabisan darah sebelum mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Serangan yang dilakukan Israel menunjukkan kebrutalan yang tak berperikemanusiaan, dengan kejahatan yang dilakukan oleh Zionis mencapai puncaknya. Ratusan ribu anak menjadi korban genosida, telah menciptakan kesedihan mendalam di kalangan anak-anak yang kini terpaksa hidup sebagai yatim piatu akibat kehilangan orang tua mereka. Saat ini, sebanyak 39 ribu anak di Gaza hidup tanpa orang tua, dengan rata-rata 100 anak meninggal setiap harinya. Banyak dari mereka adalah anak-anak yang tidak pernah mengerti mengapa kekejaman itu menimpa mereka.
Di tengah situasi memilukan ini, ada janji tentang hak asasi manusia (HAM) dan berbagai aturan internasional yang seharusnya melindungi hak-hak anak. Namun kenyataannya, semua itu tidak mampu menghentikan atau bahkan mencegah penderitaan yang dialami oleh anak-anak Palestina.
Kondisi ini seharusnya menjadi pelajaran bagi umat bahwa harapan tidak bisa digantungkan pada lembaga-lembaga internasional atau aturan hukum yang ada. Masa depan Gaza dan Palestina harus diraih oleh mereka sendiri.
Palestina membutuhkan pembelaan. Satu-satunya institusi yang mampu melakukan pembelaan hanyalah khilafah, yang berfungsi sebagai pelindung dan perisai. Khilafah tidak membiarkan kezaliman menimpa rakyat. Selama 13 abad, khilafah telah terbukti menjadi benteng yang kokoh dan memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan anak-anak, agar mereka dapat menjadi generasi yang cemerlang dan membangun peradaban yang gemilang dari zaman ke zaman.
Setiap muslim memiliki kewajiban untuk terlibat dalam perjuangan mengembalikan khilafah, agar mereka tidak berdiam diri melihat anak-anak Gaza dan orang tua mereka dibantai oleh Zionis serta sekutunya. Masalah anak-anak di Gaza hanya dapat diatasi ketika persoalan Palestina dituntaskan secara menyeluruh, dan solusi mendasar tersebut hanya dapat diwujudkan melalui jihad dan Khilafah.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 191, “Dan bunuhlah mereka di mana pun kamu menemui mereka, serta usirlah mereka dari tempat yang mereka usir kamu. Sesungguhnya fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka menyerangmu di sana. Jika mereka melawanmu, maka perlakukanlah mereka dengan perlawanan. Inilah yang menjadi balasan bagi orang-orang kafir. ”
Untuk mencapai perlindungan yang sejati, keberadaan khilafah adalah suatu keharusan. Hanya khilafah yang mampu memberikan pembelaan serta perlindungan bagi umat Islam, terutama di Palestina dan di berbagai tempat kaum muslimin mengalami penindasan. Khilafah adalah satu-satunya yang dapat menghadapi musuh-musuh umat Islam.
Dalam menyerukan jihad dan mewujudkan khilafah, kita perlu mengedukasi masyarakat tentang solusi yang tepat untuk masalah Palestina, serta langkah-langkah yang harus diambil untuk mencapainya. Oleh karena itu, sangat diperlukan suatu kelompok dakwah Islam yang ideologis, yang bertugas menyadarkan umat tentang solusi hakiki ini dan mengajak mereka untuk bersatu dalam perjuangan menegakkan Khilafah, sesuai dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Wallahu A’lam bish-shawab.
Oleh: Azizah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 12
















