Pelaparan Gaza, Kegagalan Pemimpin Muslim dan Janji Allah bagi Umat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Di tepi Gaza yang porak-poranda, udara dipenuhi bau mesiu bercampur lapar. Piring-piring kosong berjejer di rumah-rumah yang separuhnya runtuh. Sementara itu, di tengah puing-puing reruntuhan, anak-anak menatap langit yang tak lagi biru, melainkan kelabu oleh asap dan ancaman.

Sejak Oktober 2023, Jalur Gaza bagai panggung duka yang tak pernah sepi, menyaksikan ribuan nyawa tercabut paksa. Sudah lebih dari 60.000 jiwa, termasuk 18.000 anak yang tumbang di bawah badai agresi Israel yang tak kunjung reda. Serangan demi serangan yang dilancarkan bukan hanya menghancurkan bangunan dan merenggut nyawa, tetapi juga memutus jalur kehidupan melalui pelaparan sistemis yang disengaja. (Metrotvnews.com, 03/08/2025)

Pemblokiran bantuan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya menjadi senjata untuk mematahkan semangat rakyat Gaza yang bertahan di tengah kepungan. Fakta-fakta terbaru menunjukkan bahwa strategi kelaparan ini bukanlah dampak sampingan perang, melainkan bagian dari taktik perang yang direncanakan secara matang.

Sudah jelas bawah Israel secara sengaja membiarkan serangan pada 7 Oktober 2023 terjadi, agar punya alasan membantai Gaza. Penderitaan rakyat Gaza bukanlah dampak instan dari peperangan, melainkan bagian dari rencana politik dan militer yang kejam dan terukur. Dunia tengah menatap sebuah genosida zaman ini, ketika dentum peluru dan ledakan bom beriringan dengan deru kelaparan, merobek raga, dan sekaligus meremukkan asa suatu bangsa.

Di tengah kenyataan pahit ini, langkah politik yang diambil sebagian negara Arab dan Muslim justru menimbulkan keprihatinan mendalam. Untuk pertama kalinya, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir secara resmi mendesak Hamas untuk melucuti senjata dan menyerahkan kekuasaan atas Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina (PA). Langkah ini disampaikan dalam forum resmi dan mengisyaratkan adanya perubahan sikap yang signifikan. Akan tetapi, desakan ini pada dasarnya berarti mengakhiri perlawanan bersenjata rakyat Gaza terhadap penjajahan Israel. Padahal, situasi di lapangan masih menunjukkan bahwa Gaza berada dalam cengkeraman blokade dan serangan. (Detik.com, 30/07/2025)

Bukan hanya itu, Mesir bahkan menekan Imam Besar Al Azhar untuk mencabut pernyataannya yang menyebut Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kelaparan di Gaza. Upaya membungkam suara dari institusi keagamaan tertinggi ini menjadi tanda bahwa tekanan politik tidak hanya terjadi di arena internasional, tetapi juga merambah ruang moral dan spiritual umat Islam. Semua ini terjadi di saat dunia tengah menyaksikan bukti nyata kejahatan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

Sementara itu, di belahan dunia lain muncul tanda-tanda perubahan sikap yang membawa sedikit harapan. Pengakuan resmi Prancis terhadap Palestina sebagai negara memicu gelombang dukungan dan menjadi sinyal kuat bagi negara lain untuk mengikuti. Perubahan ini lahir setelah opini publik global mulai terbentuk. Melihat dengan mata kepala sendiri kehancuran yang dialami Gaza dan menyadari bahwa yang terjadi adalah pelanggaran kemanusiaan paling brutal di era modern.

Islam telah menetapkan bahwa umat ini adalah khairu ummah, umat terbaik, sebagaimana disebut dalam QS Ali Imran ayat 110, yang memiliki tanggung jawab menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Janji Allah dalam QS An-Nur ayat 55 tentang pengangkatan kaum beriman sebagai khalifah di bumi dan penggantian rasa takut menjadi keamanan bukanlah utopia, melainkan realita yang telah terbukti dalam sejarah panjang peradaban Islam. Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan para khalifah telah menunjukkan bahwa kemuliaan umat akan terwujud ketika syariat Allah diterapkan secara kaffah.

Sejarah mencatat kisah Khalifah Al-Mu’tashim Billah pernah dengan tegas mengerahkan pasukan besar hanya untuk membela kehormatan seorang muslimah yang dilecehkan. Sementara itu, Sultan Abdul Hamid II pun menolak tawaran emas dari kaum Zionis demi menjaga Palestina yang ia yakini sebagai amanah suci. Kepemimpinan berprinsip dan berani seperti inilah yang membuat umat Islam disegani dan tanah suci tetap terpelihara.

Kemuliaan itu harus diperjuangkan kembali. Kesadaran umat akan janji Allah harus dibangkitkan dan diarahkan untuk mengambil langkah nyata. Jalan ini memerlukan kepemimpinan yang lahir dari jemaah dakwah ideologis yang konsisten mengajak umat menegakkan Islam secara kaffah. Dengan menapaki thariqah dakwah Rasulullah ﷺ, perjuangan akan mendapatkan pertolongan Allah. Pembebasan Palestina pun bukan mimpi, tetapi akan menjadi kenyataan ketika kepemimpinan Islam tegak dan menyerukan jihad sebagai solusi tuntas.

Momentum genosida Gaza harus dimanfaatkan untuk membangkitkan umat. Luka ini bukan hanya penderitaan, tetapi panggilan untuk kembali kepada kemuliaan Islam. Saat janji Allah terwujud, pelaparan sistemis dan agresi militer akan sirna, digantikan oleh keadilan, keamanan, dan kesejahteraan di bawah naungan syariat-Nya. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Dewi Kumala Tumanggor

Aktivis Muslimah

Views: 38

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA