Tinta Media – Hari Raya Idul Adha 1446 H baru saja berlalu. Saat itu, umat Islam di seluruh dunia berbahagia, berkumpul dalam rangka menunaikan ibadah haji di Tanah suci. Perayaan hari raya Idul Adha dilakukan bersamaan oleh seluruh umat Islam tahun ini menjadi bukti bahwa Idul Adha mampu mempersatukan umat Islam. Seluruh umat Islam berkumpul menjadi satu walaupun mereka berasal dari berbagai bangsa, suku, ras dan warna kulit yang berbeda-berbeda.
Memang sudah sewajarnya dan harus begitu karena kaum muslim adalah kaum yang satu, diikat dengan ikatan yang sahih, yaitu akidah Islam. Tidak ada perbedaan hanya karena masalah tempat asal dan warna kulit. Namun, mereka adalah sama di hadapan Allah, yaitu sebagai seorang hamba Allah. Kebersamaan merayakan hari raya Idul Adha memang sangat diharapkan terjadi terus-menerus, begitu pun dengan perayaan hari raya Idul Fitri.
Namun faktanya, ketika daulah Islam runtuh, kaum muslimin tercerai-berai seperti anak ayam kehilangan induk. Ikatan pemersatu, yaitu ikatan akidah hilang dan digantikan dengan ikatan semu, yaitu nasionalisme. Seluruh negeri muslim tersekat-sekat menjadi negara bangsa. Pemikiran Barat dicekokkan ke dalam dada kaum muslimin sehingga pemikiran Islam berhasil dihilangkan, kecuali hanya dalam ibadah ritual.
Peradaban Barat berhasil menggeser kegemilangan peradaban Islam yang sudah berdiri berabad-abad lamanya. Mirisnya, bukan hanya pemikiran yang berhasil diubah, tetapi eksploitasi sumber daya alam pun dilakukan di berbagai negeri muslim. Sumber daya alam yang melimpah ruah justru dikuasai asing. Negara hanya sebagai regulator. Penjajah gaya baru diciptakan sampai-sampai kaum muslimin tak sadar jika mereka sedang dijajah.
Umat Islam semakin menderita akibat ikatan semu yang dicekokkan oleh peradaban Barat, seperti halnya ikatan semu dalam perayaan hari raya idul Adha. Mereka merayakan tanpa ada ruh, sehingga perayaan hari raya Idul Adha hanya sekadar seremonial belaka, tanpa ada perubahan mendasar yang nampak dalam kehidupan.
Kaum muslim kembali dalam kehidupan yang tercerai-berai, saling berseteru, memfitnah, mencela sesama muslim, bahkan antargolongan tertentu.
Bahkan, mereka lupa akan penderitaan saudara muslim di negeri lain. Kaum muslimin lupa bahwa mereka adalah umat yang satu, seharusnya saling menjaga dan membela, bukan cuek dan individualis. Miris, umat Islam yang mayoritas seharusnya menjadi umat yang mempunyai kekuatan besar dan disegani, tetapi justru menjadi korban akibat sekat nasionalisme.
Mengingat masa Rasulullah, masyarakat yang beragama dari berbagai suku, ras, dan agama terbukti mampu disatukan menjadi umat yang satu. Semua disatukan oleh ikatan sahih, yaitu ikatan akidah Islam dan syariat Islam. Sehingga, momen hari raya Idul Adha seharusnya menjadi dorongan bagi umat agar tunduk dan taat secara mutlak pada aturan Allah. Ketundukan ini harus secara menyeluruh, bukan hanya dalam masalah ibadah ritual saja.
Agar persatuan umat bisa segera terwujud, maka tidak ada cara lain kecuali dengan adanya sebuah institusi negara Khilafah, yang akan menyatukan umat Islam sedunia tanpa ada yang terzalimi. Dalam sistem pemerintahan Islam, seorang khalifah akan menerapkan aturan Islam di setiap aspek kehidupan, dari masalah individu, masyarakat, ataupun negara.
Dakwah dan jihad adalah politik luar negeri yang akan dilakukan oleh daulah Islam agar Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Begitulah daulah Islam menjadikan umat Islam sebagai umat yang satu, menghilangkan sekat-sekat dan batas wilayah.
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Dartem
Sahabat Tinta Media
Views: 33
















