Tinta Media – Persoalan kemiskinan dewasa ini tak kunjung menemukan solusi yang tuntas bahkan kondisinya kian memprihatinkan, berbagai solusi parsial kapitalistik yang ditempuh alih-alih menyelesaikan masalah justru makin menambah parah problem kemiskinan yang ada. Sudah saatnya kita campakkan Kapitalisme-Sekularisme dan mengambil Islam sebagai satu satunya solusi dalam persoalan kemiskinan, Mengapa?
Pertama, solusi kapitalisme bersumber pada akal manusia yang terbatas yang didasarkan pada fakta empiris semata sehingga berubah berdasarkan situasi dan kondisi yang ada. Sedangkan solusi Islam berdasarkan wahyu dari Allah SWT Yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan, Maga mengetahui apa yang terbaik untuk manusia dan telah memberi petunjuk yang sempurna buat manusia. (QS. Al-Maidah:3,An-Nahl :89)
Kedua, sistem ekonomi kapitalisme menitikberatkan pandangannya pada Produksi Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi negara, dengan prinsip “trickle down effect” diasumsikan bahwa dengan Produksi Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi yang tinggi secara otomatis juga akan meningkatkan taraf perekonomian individu rakyat. Sementara dalam Sistem Ekonomi Islam, lebih banyak menekankan pada aspek distribusi sumber daya ekonomi yang berkeadilan, sehingga kekayaan itu tidak hanya berputar di kalangan elite tertentu. (QS. Al Hasyr :7).
Ketiga, sistem ekonomi kapitalisme memberikan peluang yang besar kepada para pemilik modal untuk menguasai sumber daya yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Realitas membuktikan, sebagian besar-kalau bukan seluruhnya – sumber daya itu dikuasai hanya oleh segelintir konglomerat dan korporasi. Sebaliknya dalam Islam, sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak, terkategori sebagai kepemilikan umum yang haram dimiliki individu, kelompok maupun korporasi. Dalam Hadits Nabi dinyatakan : “Kaum muslimin berserikat (kepemilikan bersama) dalam tiga perkara : air, padang rumput dan api”(HR. Muslim).
Keempat, dalam sistem kapitalisme, negara memandang kemiskinan dengan standar yang lebih bersifat materi, misal :dengan ukuran pendapatan per kapita tanpa melihat lagi soal terpenuhinya kebutuhan per orang. Sedangkan Islam memandang bahwa kemiskinan itu ketika seseorang tidak dapat memenuhi dasarnya, solusinya lebih mengarah pada jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok orang per orang.
Kelima, dalam sistem kapitalisme, kehidupan menjadi sangat individualistik, jauh dari sikap empati bahkan sering kali tidak peduli terhadap persoalan orang lain. Sebaliknya, Islam mendorong manusia untuk saling peduli terhadap keadaan sesama manusia. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya) : “Tidaklah pantas orang yang beriman tidur dalam keadaan kenyang sedang tetangganya kelaparan dan dia mengetahui.”
Keenam, dalam kapitalisme, tidak ada dorongan kuat kepada individu untuk bekerja guna memenuhi kebutuhannya. Sedangkan Islam mewajibkan laki dewasa untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan orang yang menjadi tanggungannya. Jika individu bersangkutan tidak mendapatkan pekerjaan, negara wajib menyiapkan lapangan pekerjaan untuknya, serta memberikan modal usaha yang diperlukan. .
Ketujuh, dalam kapitalisme, terkait kebutuhan kolektif masyarakat (pendidikan, kesehatan dan keamanan), bukan menjadi kewajiban negara, boleh saja diserahkan kepada swasta, dan lain-lain. Sebaliknya dalam sistem Islam, negara berkewajiban menyediakan layanan pendidikan, kesehatan dan keamanan dengan murah bahkan gratis “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”
Kedelapan, dalam kapitalisme, pajak (yang juga dipungut dari orang miskin) dan menjadi salah satu sumber pendapatan. Sebaliknya dalam Islam, Negara diharamkan memungut pajak, disisi lain Zakat (yang hanya diambil dari orang yang berkelebihan harta) yang kemudian didistribusikan diantaranya kepada fakir dan orang miskin.
Kesembilan, dalam kapitalisme, subsidi – kalau pun diberikan oleh negara – hanyalah merupakan alat untuk mengendalikan harga – harga atau untuk tetap berjalannya kegiatan bisnis, sementara dalam Islam subsidi bisa juga diberikan kepada sektor layanan publik misalnya jasa transportasi umum, telekomunikasi atau untuk sektor energi (listrik dan bbm).
Hanya Islam satu-satunya solusi problem kemiskinan, hanya saja berbagai solusi itu hanya dapat dijalankan oleh pemimpin yang amanah di bawah naungan Daulah Khilafah.
Wallahu a’lam bisshowab.
Oleh: Junaedi Bahar
Pembina Majelis Fikrul Mustanir Kabupaten Jeneponto
Views: 36
















