Tinta Media – Di era pendidikan yang terus berkembang, peran guru menjadi pondasi utama bagi generasi yang akan datang. Namun pada kenyataannya, masih ada banyak guru yang dihadapkan pada berbagai masalah, seperti gaji yang tidak sebanding dengan tanggung jawab yang diemban, hingga perlakuan tidak pantas terhadap profesi mulia mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah para pendidik ini telah mendapatkan penghargaan dan perlindungan yang layak?
Dalam rangka perayaan Hari Guru Nasional di Indonesia, pemerintah telah menetapkan tema perayaan tahun ini untuk mencerminkan peran luar biasa para guru dalam membimbing generasi muda dalam membangun bangsa yang kuat. Logo resmi perayaan Hari Guru Nasional 2024 juga telah dirilis, yang didominasi oleh warna merah dan putih, serta menampilkan tulisan yang mencerminkan tema perayaan tersebut. Selain itu, berbagai instansi, baik pusat maupun daerah, lembaga pendidikan, dan kantor perwakilan Indonesia di luar negeri diharapkan menggelar upacara bendera dengan tema Hari Guru Nasional.
Dengan mengusung tema dan logo khusus serta melalui upacara sebagai bentuk penghargaan kepada guru-guru, perayaan Hari Guru Nasional seakan menjadi momen yang membanggakan. Pada momen tersebut, pengajar diberikan penghormatan dan apresiasi atas dedikasi serta kontribusi mereka dalam membentuk generasi penerus yang gemilang.
Namun, di balik gemerlap perayaan tersebut, terdapat realitas pahit yang sering terlupakan. Misalnya, masalah kesejahteraan para guru. Karena meskipun guru menjadi ujung tombak pendidikan, faktanya masih banyak yang menerima upah rendah, serta ancaman terhadap masa depan dan reputasi para guru akibat kriminalisasi yang semakin marak. Ini merupakan hal yang patut diperhitungkan juga.
Hal ini tidak hanya berdampak pada mereka secara individu, tetapi juga memengaruhi kualitas pendidikan yang diberikan kepada generasi penerus bangsa. Sekaligus, mengindikasikan bahwa perlindungan bagi para pendidik sejatinya masih belum memadai.
Di sisi lain, di tengah masyarakat juga terdapat para guru yang terlibat dalam perilaku yang merusak citra profesi, seperti kasus intimidasi, kekerasan fisik dan seksual, serta keterlibatan dalam kegiatan kriminal. Sungguh ironis, guru yang seharusnya menjadi teladan bagi generasi muda, malah menjadi sorotan utama karena perilakunya.
Hal tersebut disebabkan karena sistem kapitalisme demokrasi sekuler yang hanya berorientasi pada materi. Dalam sistem kapitalisme, peran guru sering dianggap sebagai pekerja semata, atau pengasuh siswa, hingga nantinya mereka memasuki dunia kerja.
Sistem pendidikan yang ada juga hanya tertuju pada persiapan untuk bekerja setelah menyelesaikan pendidikan dengan orientasi finansial sebagai prioritas utama.
Semua dikarenakan konsep pendidikan saat ini yang didasarkan pada sekularisme, yang mengecualikan peran Allah SWT dalam kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Dampaknya, pendidikan lebih menekankan aspek material dan pengetahuan sains tanpa memperhatikan nilai-nilai Islam. Hal ini menyebabkan kurikulum pendidikan menjauh dari ajaran Islam dan lebih menitikberatkan pada keuntungan duniawi, sehingga nilai keberkahan ilmu yang diperoleh oleh guru dan para siswa sering kali terlupakan.
Oleh karena itu, untuk mengatasi tantangan yang dihadapi para guru, diperlukan langkah-langkah konkret yang harus diimplementasikan dalam menangani permasalahan tersebut.
Dalam konteks pandangan Islam, pendekatan dalam menjaga harkat dan martabat guru serta meningkatkan kualitas pendidikan sangat ditekankan. Islam mengajarkan penghargaan atas ilmu dan para pengajarnya, serta pentingnya perlindungan dan penghargaan tinggi terhadap ilmu dan para pengajarnya, yaitu guru.
Lebih dari itu, Islam menegaskan pentingnya memberikan perlindungan dan meningkatkan kualitas ilmu bagi para pendidik. Pandangan Islam tentang perlakuan terhadap guru tidak hanya sebatas retorika semata, melainkan sebuah sistem yang terstruktur dan terarah.
Sistem ekonomi Islam juga turut berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk para pendidik. Negara memberikan gaji yang layak sebagai penghormatan atas dedikasi mereka dalam membentuk generasi penerus. Selain itu, terdapat jaminan keamanan bagi guru ketika menjalankan tugas mulia tersebut.
Adanya pendidikan berbasis Islam akan membentuk generasi yang memiliki nilai-nilai Islam yang akan membimbing individu untuk berperilaku baik, berbuat positif, dan berakhlak mulia sesuai ajaran Islam.
Sebab, pendidikan dalam Islam bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga mengenai integritas yang akan membentuk individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab di dunia dan akhirat. Dari individu-individu yang memiliki kepribadian Islam inilah akan lahir para guru dan siswa terbaik.
Dengan demikian, adanya perayaan Hari Guru Nasional tak hanya seremonial semata, melainkan momentum untuk merenungkan peran dan tantangan yang dihadapi oleh para pendidik. Semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan para guru sendiri, perlu bersatu dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik dan mendukung perkembangan pendidikan di tanah air dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan sistem Islam. Wallahu’alam.
Oleh: Indri Wulan Pertiwi
Aktivis Muslimah Semarang
![]()
Views: 12
















