Muslimah Berkarir Surga Tanpa Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hi, Guys! Edisi kali ini kita akan bahas tips and trik mencari calon pasangan menurut pandangan Islam. Memang sih, kalau sudah bahas pasangan, selalu bikin kita mabuk kepayang. Tapi, harus banget nih, dipersiapkan dari sekarang, karena pepatah mengatakan, masa depan peradaban ada di tangan perempuan.

Wah … ternyata di balik perempuan yang dominan manja, suka baper (bawa perasaan), dan terkenal cerewet, ternyata ada peran penting di muka bumi ini, Guys.

Perempuan Masa Kini

Pemahaman mayoritas anak muda sekarang saat mencari  pasangan identik mapan, tampan, nan rupawan. Ini mengingat standar hidup kebarat-baratan, Guys, sehingga, yang penting good looking nan good rekening. Wah, yang penting tajir melintir, Guys! Perkara ibadah, nanti bisa belajar bareng.

Sering kali dijumpai, remaja kebucinan seperti kerasukan iblis, pacaran serasa sudah halal di mata agama dan hukum. Miris nan kronis, ya, Guys! Padahal, perempuan memiliki peran besar dalam peradaban, tetapi realitas hari ini banyak kemaksiatan bersumber dari perempuan Misalnya, tidak menjaga aurat, hamil di luar nikah, aborsi, bahkan rela buang bayi kandungnya dengan dalih anak tidak diinginkan. Sekolah hanya sebagai status pendidikan, tetapi tidak terdidik. Aktivitas sehari-hari disibukkan dengan scrolling sosmed yang lagi FYP, selalu merasa FOMO kalau tidak update. Parah sekali pergaulan dunia remaja hari ini, ya, Guys. Semoga sahabat smart bukan bagian, dari mereka, ya!

Tren Baru

Marak dijumpai unggahan potongan video di platform TikTok yang menunjukkan tren baru. Seorang ibu membuat konten hingga lupa dengan tugas rumah seperti masak, mencuci, menyeterika, bahkan membiarkan anaknya main sendiri tanpa pengawasan. Secara transparan, warganet khususnya ras ibu-ibu berdalih baper melihat kebucinan influencer Malaysia Aisar Khaled terhadap influencer Indonesia, Fujianti Utami Putri. (Ar Rayyan Gallery09, 7/12/24)

Memang, kultur hari ini memandang performance seseorang dominan lebih menarik, ketimbang kepribadian seseorang, apalagi ketaatan terhadap Sang Pencipta. Miris, ya, Guys. Hal ini terjadi karena barometer kebahagian dalam pernikahan detik ini berstandar pasangan dengan love language act of service, ditambah tampan, dan mapan dalam segi finansial.

Memang tidak salah, ketika memilih calon pasangan hidup, perempuan maupun laki-laki memandang fisik dan keuangan. Ini senada dengan sabda Rasulullah saw,

“Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

Seakan ada makna tersirat dari perkataan Rasulullah, baik perempuan ataupun laki-laki, bahwasanya fisik dan harta bukan satu-satunya standar dalam memilih pasangan. Siap finansial sebelum nikah memang bagus, karena berdasarkan riset, maraknya kasus penceraian, salah satunya bersumber dari masalah ekonomi, Guys.

Mengingat biaya hidup makin tinggi, banyak perempuan bergaya elit, tetapi kehidupan sangat sulit. Gaya hidup konsumtif, aslinya keuangan kejepit, berlaga sosialita, padahal minta orang tua. Ish … ish .. Memalukan!

Berdasarkan data yang diperbaharui Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa kasus perceraian di Indonesia disebabkan oleh lima perkara, yaitu:

Pertama, pertengkaran yang terjadi secara bergulir, terdapat 251.828 kasus di tahun 2023.

Kedua, perceraian marak terjadi karena masalah terimpit perekonomian, terdapat 108.488 kasus.

Ketiga, salah satu pihak ditinggalkan, bisa juga berawal dari LDR (long distance relationship), terdapat 34.322 kasus.

Keempat, faktor KDRT yang marak dijumpai sekarang di medsos. Isteri dibaku hantam oleh suami sendiri, terdapat 5.174 kasus perceraian.

Kelima, pasangan yang doyan mabuk, terdapat 1.752 kasus. Bahkan sekarang marak kasus perjudian online meningkat guys, menyebabkan 1.572 kasus. Miris! Mayoritas muslim terbesar di dunia, tetapi tingkat kriminalnya pun pecah rekor! (Cnbc Indonesia, 15/06/24)

Budaya Sekuler

Data ini, membuat culture shock, tetapi sembunyi dalam payung budaya sekuler. Apa itu sekuler, Guys? Sekuler adalah semacam pemahaman seseorang, bahwa agama itu hanya berperan dalam ranah ibadah individu saja. Dalam dunia pergaulan remaja saja, aturannya multitafsir, standarnya menimbulkan makna rancu. Misalnya, perempuan gegana (gelisah galau merana) mau menikah, tetapi keuangan belum stabil, mental masih labil, alhasil karena budayanya sekuler, jadinya jalurnya pacaran serasa suami sendiri. Naudzubillah!

Hari ini, maksiat go publik, bahkan mendapatkan panggung dengan views dan likes tembus rekor muri. Komentarnya juga tidak pakai saringan, misalnya, “Masyaallah, bucin banget bikin baper!”

Sudah pacaran, mendekati zina, tetapi dipuji pakai nama Allah pula. Miris!

Semua itu karena budaya sekuler sudah menggurita. Hari ini, yang benar mengingatkan kepada yang berbuat salah malah dihujat, dicap sok suci, disuruh ngurus hidup masing-masing saja. Jadi, tren ibu-ibu yang lalai dengan kewajiban rumahnya, tidak perlu dipermasalahkan, karena dianggap tidak merugikan orang lain. Budaya sekuler punya slogan, ‘Urusan dosa, hanya urusan Tuhan dan individu’, jadi tidak usah koar-koar saling mengingatkan.

Padahal, Allah berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sejatinya zina merupakan suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Allah menentang dengan tegas apa pun perbuatan yang mendekati zina, apalagi berzina. Mirisnya, hari ini maksiat diklaim syariah. Misalnya, pacaran islami, pacaran syar’i, bullshit! Inilah iblis berkedok manusia. Visi-misi utama iblis menjerumuskan manusia ke neraka.

Perempuan Berkarir Surga

Realitas ini sangat berbanding terbalik, dengan fakta sejarah, ketika perempuan mulia di masa kegemilangan Islam. Banyak sekali perempuan berkarir surga, artinya sukses di dunia dan selamat di akhirat.

Senada dengan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani di dalam kitab Muqaddimah Dustur, pada bab “Nizhamul Ijtima’i”, dijelaskan secara tegas, tanpa keraguan sedikit pun dalam memosisikan perempuan. Misalnya, hukum asal seorang perempuan dalam Islam adalah sebagai ummun wa rabbatul bait atau seorang pendidik bagi anak-anak serta pengelola rumah suaminya. Perempuan ataupun isteri merupakan kehormatan yang wajib dijaga.

Kemudian, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan, di kitab Nizhamul Ijtima’i, atas dasar hukum ini bahwa standarisasi aktivitas seorang perempuan dalam kehidupan sehari-hari, baik menjadi wanita karir, bekerja, atau menjadi pengusaha, tidak boleh melanggar hukum syara.

Harus dipahami bahwa aktivitas utama dan pertama seorang perempuan adalah menjadi al ummu wa madrasatul ula. Artinya, menjadi sosok ibu dan madrasah (sekolahan) pertama bagi anak-anaknya, dengan basis standar akidah Islam.

Seorang ibu bertanggung jawab penuh untuk menanamkan amidah Islam sebelum baligh, sehingga ketika sudah dibebani dengan syariat, anak-anak sudah terbiasa melakukan perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Wah, pantes saja, Guys, peran perempuan sangat penting dalam menentukan masa depan suatu peradaban. Misalnya, ketika tinta sejarah Islam menunjukkan fakta sejarah kegemilangan peradaban Islam. Semua itu tidak luput dari peran para shahabiyah (sahabat Nabi yang perempuan). Banyak shahabiyah cerdas, pemberani, dan tangguh yang ikut serta dalam medan jihad fisabilillah, seperti Asma binti Yazid al-Anshariyyah, Asma binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka’ab, serta Salma binti Khashafah.

Sosok Salma binti Khashafah adalah salah satu contoh bagaimana seharusnya seorang muslimah memilih pasangan dan berkiprah mengambil peran di dunia. Sayyidina Salma awalnya merupakan isteri dari seorang panglima perang ahli strategi, yaitu salah satu panglima perang penakluk Persia bernama al-Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani. Namun, dalam perjalananan jihad fisabilillah, al-Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani syahid. Pada akhirnya, beliau menitipkan amanat dan isterinya kepada Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash.

Singkat cerita, Sa’ad bin Abi Waqqash menerima pesan dari al-Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani dan beliau menikahi Salma binti Khashafah. Bisa dibayangkan, ya, Guys, jika barometer sayyidina Salma pada waktu itu semata-mata penampilan dan kemewahan, rasanya mustahil sosok Salma binti Khashafah mengambil peran dalam berbagai aksi militer, serta peran yang sangat menonjol dalam perang Qadisiyyah dan melaksanakan amanah dari almarhum suaminya.

Tidak ada alasan lain, kecuali keimanan sosok Salma binti Khashafah terhadap Allah. Pembeda antara perempuan masa kini dan era Rasulullah adalah tingkat keimanannya. Perlu diketahui, bahwa keimanan yang benar berangkat dari proses berpikir, sehingga paham kenapa harus beragama Islam dan siapa Tuhan Sang Pencipta. Sejatinya, Islam adalah agama yang sangat rasional dan selalu relevan dalam setiap perkembangan zaman, Guys, bahkan mampu menyelesaikan setiap problematika kehidupan yang kian beragam.

Jadi jelas, ya, Guys, apa pun persoalannya, selalu libatkan peran Allah di seluruh aktivitas dan ujian kita. Lagi galau persoalan jodoh, pendidikan, pekerjaan, bahkan pusing masalah negara, Islam menjawab seluruh permasalahan dan pertanyaan umat. Ingat, Islam bukan sekadar agama, tetapi juga mabda (ideologi)! Muslimah cerdas, muslimah bertakwa, muslimah berkarir surga, tidak sekuler!  Taat untuk sekarang, maksiat nggak zaman lah, yauw! See you soon Sahabat Smart!

 

 

Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak.

Penulis Ideologis

Loading

Views: 36

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA