Tinta Media – Survei yang dilaporkan Talent Acquisition Insights 2024 oleh
Mercer Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 69 persen perusahaan di Indonesia
menyetop rekrut karyawan baru pada tahun lalu lantaran khawatir ada pemutusan
hubungan kerja (PHK). (cnnindonesia.com, 26/4/24).
Survei tersebut sudah membuat para pencari lowongan
pekerjaan patah harapan. Kini, fakta yang sangat pahit harus dialami para
karyawan perusahaan besar di tanah air ini. Menurut catatan CNBC
Indonesia, dalam kurun waktu setahun terakhir (2023-2024), sudah ada 8 pabrik
‘raksasa’ yang tutup di Jabar. Sebelum pabrik Bata yang akhirnya tutup dan
melakukan PHK massal terhadap 233 pekerjanya, publik juga gempar karena
tutupnya pabrik ban PT Hung-A Indonesia yang beroperasi di Cikarang, Jawa
Barat. PT Hung-A Indonesia tutup pada awal Februari 2024 hingga menyebabkan
seluruh karyawan yang berjumlah sekitar 1.500 orang diberhentikan sejak 16
Januari 2024.
Jawa Barat menjadi salah satu provinsi penyumbang angka PHK
cukup tinggi. Di atas Jawa Barat ada DKI Jakarta dengan jumlah angka PHK 8.876
pekerja, disusul kemudian Jawa Tengah dengan angka PHK 8.648 pekerja.
(cnnindonesia.com, 8/5/24).
Nasib rakyat kembali terguncang. Tak ada kepastian yang
jelas, bahkan bagi mereka yang saat ini masih berstatus karyawan karena
gelombang PHK bisa saja sewaktu-waktu menyerang mereka. Maka, pupus sudah
harapan para pencari loker yang ingin menggantungkan nasib di perusahaan atau
pabrik.
Keniscayaan dalam Sistem Kapitalisme
Ketidakstabilan ekonomi karena berbagai kondisi global
berperan dalam memicu maraknya PHK. Hal ini menjadi suatu keniscayaan dalam
sistem Kapitalisme. Ini karena tenaga pekerja menjadi bagian dari komponen
produksi sehingga untuk menstabilkan keuangan perusahaan ketika kondisi
mengharuskan untuk menekan biaya produksi, sangat memungkinkan yang ditekan
adalah biaya gaji karyawan, dengan kata lain adalah PHK. Demi menghindari
kerugian, mereka tak segan untuk memangkas biaya yang dirasa memberatkan,
mengingat prinsip produksi kapitalisme adalah untung sebesar-besarnya dan modal
sekecil-kecilnya.
Terjadinya PHK masal akan berdampak meningkatkan angka
kemiskinan dan berbagai hal lainnya. Karena kapitalisme adalah sistem yang
berpihak pada oligarki, maka selamanya kesejahteraan tak akan pernah berpihak
pada rakyat.
Faktanya, rakyat hanya dimanfaatkan tenaganya untuk
mendulang banyak keuntungan dan memuluskan berbagai kepentingan para oligarki.
Ketika rakyat tak lagi dibutuhkan bahkan menjadi beban, maka tak segan untuk
dibuang dan diabaikan. Mereka tak lagi melihat rakyat itu sebagai manusia yang
juga harus dihargai dan dilindungi hak-haknya sebagai manusia. Maka,
kapitalisme bak drakula yang membutuhkan manusia untuk dihisap darahnya.
Setelah habis, mereka diabaikan begitu saja.
Maka, kemiskinan dalam sistem kapitalisme menjadi suatu
keniscayaan karena sistem ekonominya telah banyak merampas hak-hak rakyat.
Bukan saja di dunia ketenagakerjaan melalui UU Ciptaker, terapi juga telah
mengambil hak kepemilikan rakyat lewat para penguasa yang memfasilitasi
berbagai kepentingan oligarki atas nama investasi dan lain sebagainya.
Ditambah abainya peran negara dalam membuka lapangan
pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan. Negara menyerahkan sepenuhnya lapangan
pekerjaan ke pihak swasta dan menjadikan lapangan pekerjaan sebagai tempat
bergantung hampir seluruh masyarakat. Negara tidak berinisiatif untuk
memberikan pembekalan life skill dan memberikan modal usaha untuk warganya.
Sistem kapitalisme telah menjadikan output pendidikan
hanya mencetak para generasi pekerja. Sedikit generasi negeri ini yang
mengoptimalkan potensinya untuk membangun negeri karena minimnya support negara
dalam menunjang kemampuan generasi tersebut.
Maka, jadilah generasi bangsa ini generasi pekerja yang saat
ini nasibnya sangat memprihatinkan. Banyaknya pengangguran dan gelombang PHK
yang tinggi membuat semakin meningkatnya angka kemiskinan. Inilah keniscayaan
dalam sistem kapitalisme, yaitu PHK masal menjadi masalah yang tak
terselesaikan.
Islam Solusi yang Menyejahterakan
Islam menjamin kesejahteraan setiap individu rakyat dengan
berbagai mekanisme dalam sistem Islam kafah, termasuk sistem ekonomi. Negara
memiliki kewajiban menyediakan berbagai pelayanan untuk membantu kepala
keluarga menunaikan kewajibannya dalam mencari nafkah, di antaranya membuka
lapangan pekerjaan, memberikan pelatihan life skill hingga memberikan modal
usaha.
Selain itu, negara Islam juga memberikan jaminan usaha bagi
perusahaan yang ada dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk rakyat sehingga
perusahaan dan rakyat tidak berjuang sendiri.
Negara IsIam juga memiliki berbagai sumber pemasukan
sehingga mampu mengatasi kemiskinan dan menjamin kebutuhan pokok, baik individu
maupun komunal, baik secara langsung ataupun tidak, seperti sandang, pangan dan
papan untuk individual dan pendidikan, kesehatan dan keamanan untuk hak
komunal. Dengan jaminan kebutuhan pokok ini saja sebagian besar beban hidup
masyarakat sudah teratasi. Masyarakat hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan
pribadi, seperti kebutuhan jasmani, yaitu makan dan minum.
Inilah gambaran sistem Islam dalam menyelesaikan masalah
ketenagakerjaan yang sangat menyejahterakan. Maka, satu-satunya cara untuk
mewujudkan kesejahteraan tersebut adalah dengan tegaknya kembali khalifah
Islamiya. Wallahu a’lam.
Oleh: Heti Suhesti (Aktivis Dakwah)
![]()
Views: 10














