Krisis Dunia 2024: Gerhana Melanda Amerika Serikat, Momentum Terang bagi Indonesia?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia saat ini
tengah berhadapan dengan pelemahan ekonomi yang diperkirakan akan berlangsung
cukup lama. Amerika Serikat dikabarkan hanya akan tumbuh 2,1 persen pada tahun
2024 dan 1,9 persen pada tahun 2025. Sementara Tiongkok akan tumbuh 4,8 persen
pada 2024 dan 4,2 persen pada tahun 2025.

Sementara Jepang salah satu yang ekonomi terbesar setelah
China di Asia akan semakin merosot dari pertumbuhan 1,9 persen tahun 2023
menjadi 1,5 persen pada tahun 2024 dan terus merosot ke 1,1 persen di tahun
2025. Perekonomian jepang tampaknya mengikuti alur krisis yang melanda Amerika
Serikat saat ini sebagai dua ekonomi Pacifik yang terikat sangat kuat.

Dunia sangatlah mengkhawatirkan krisis yang melanda Amerika
Serikat (AS). Peningkatan defisit anggaran pemerintah AS juga menimbulkan kekhawatiran
Tiongkok sebagaimana diberitakan china Daily _The soaring deficit is making
Chinese and other foreign buyers of US debt nervous, which could make them
reluctant lenders down the road. It could also force the Treasury Department to
pay higher interest rates to make US debt attractive longer-term._

_”These are mind-boggling numbers,” said Sung Won
Sohn, an economist at the Smith School of Business at California State
University. “Our foreign investors from China and elsewhere are starting
to have concerns about not only the value of the dollar but how safe their
investments will be in the long run.”_

Defisit anggaran AS memang makin mengkhawatirkan yang
menandai memburuknya ekonomi negara tersebut. Sebagaimana dikatakan  _that the deficit in June totaled $94.3
billion, pushing the total since the budget year started in October to $1.09
trillion. The administration forecasts that the deficit for the entire year
will hit $1.84 trillion in October._

Sementara satu satunya jalan yang dapat ditempuh oleh AS
agar bisa _soft landing_ adalah meningkatkan belanja pemerintah. Artinya
defisit anggaran dinaikkan untuk menjawab krisis anggaran yang makin parah. Ini
sekaligus menjawab tantangan unemployment yang mencapai 9,5 persen termasuk
terburuk sejak great depression. Sebuah anomali yang besar.

Adapun kondisi keruntuhan sektor penting dalam ekonomi AS
digambarkan dari data bahwa  _Congress
already approved a $700 billion financial bailout for banks, automakers and
other sectors, and a $787 billion economic stimulus package to try to jump-start
a recovery. Outlays through the first nine months of this  budget year total $2.67 trillion, up 20.5
percent from the same period a year ago._

Sementara total utang AS sebagaimana diberitakan _the US
debt now stands at $11.5 trillion. Interest payments on the debt cost $452
billion last year — the largest federal spending category after Medicare-
Medicaid, Social Security and defense. The overall debt is now slightly more
than 80 percent of the annual output of the entire US economy, as measured by
the gross domestic product. During World War II, it briefly rose to 120 percent
of GDP._

Masalah terbesar adalah AS  
saat AS adalah tidak menjawab krisis dengan berhutang ke The Fed dan
bank swasta terbesar di dunia tersebut tidak mencetak uang untuk diberikan
sebagai utang kepada pemerintah AS. Sekarang AS menaikkan suku bunga untuk
menarik uang dari seluruh penjuru dunia ke dalam ekonomi AS. Inilah yang akan
secara significant membuat kering kantong pemerintah negara yang menjadi sekutu
terkuat AS dalam ekonomi termasuk juga China, Jepang dan Inggris.

*Bagaimana Indonesia*

Krisis dunia ditandai dengan berbagai peristiwa penting
diantaranya adalah kebijakan pengetatan moneter AS sebagai yang paling ketat
selama 4 dekade terakhir, pelemahan ekonomi China, pertumbuhan ekonomi Inggris
di bawah 1 persen sementara inflasi negara tersebut di atas 7 persen.

Pada saat yang sama dua peristiwa besar mengancam
keselamatan penduduk dunia yakni perang Russia Ukraina dan perubahan iklim yang
ditandai dengan berbagai bencana besar melanda dunia. Menyangkut perubahan
iklim ini akan menjadi agenda utama yang menuntut jawaban segera secara global
dan masing-masing negara. Mengapa? Karena penyelesaian krisis keuangan dunia
saat ini tidak boleh dijawab dengan uang kotor atau uang yang dihasilkan oleh
industri kotor atau uang yang pengadaannya didasarkan pada aktivitas yang
membawa kerusakan bagi lingkungan hidup.

Maka atas dasar itu dunia ke depan akan menatap ke Indonesia
sebagai _climate change super power_ atau sebagai sandaran utama bagi sumber
kauangan baru dalam menjawab krisis keuangan global. Sebagaimana pemerintah
Inggris sendiri beberapa waktu lalu telah memberikan gelar kepada Indonesia
sebagai super powernya green energy atau super powernya transisi energi yang
tidak ada tandingannya di dunia.

Sebagaimana dinyatakan oleh Cawapres terpilih Prabowo
Subianto dan Gibran Rakabuming Raka bahwa Indonesia adalah gudangnya green,
baik itu sumber sumber green energi maupun sebagai gudang oksigen global.
Setiap satu batang pohon di Indonesia akan menjadi dasar bagi transaksi
keuangan global saat ini dan masa yang akan datang.

Indonesia tentu akan memberi jawaban yang paling baik atas
krisis global saat ini baik jawaban terhadap perang yang sedang dipropagandakan
oleh global kapitalis lama, maupun jawaban atas krisis iklim yang diakibatkan
oleh ulah oligarki negara-negara Industri yang belum mau memusnahkan aset aset
kotor mereka. Negosiasi Indonesia ke depan untuk yang didasari oleh semangat
Non Blok yakni perdamaian abadi, keadilan sosial akan menjadi jawaban atas
perang dan bahaya besar krisis iklim. Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir
Batin.

Oleh : Salamuddin Daeng (Ketua Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia)

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA