Tindak Asusila Makin Subur di Era Liberalisme Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dewasa ini, masyarakat tak henti dibuat kaget dengan beragam berita-berita yang viral. Salah satunya ialah tindak pemerkosaan yang terjadi di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara. Berdasarkan kabar yang beredar di instagram @potretlabura, seorang anak berusia 15 tahun (kelas 1 SMP) dirudapaksa oleh empat orang, yaitu ayah kandung (49), teman ayahnya (36), pamannya (45), dan seorang dukun inisial R (60). Hal ini bukan sekali ini saja terjadi, tetapi berlangsung sejak korban di bangku kelas 6 SD.

Berdasarkan keterangan Kapolres Labuhanbatu, AKBP Choky Sentosa Meliala, kini keempat pelaku telah diringkus. Adapun kasus ini terungkap saat pelaku sekaligus ayah korban melaporkan dukun inisial R (60) pada 27 September 2025 ke Polres Labuhanbatu. Ternyata dari rangkaian penyelidikan, ayah korban juga pernah memerkosa korban. Bahkan, aksi bejatnya dilakukan sejak 4 tahun lalu. (Kompas, 02/09/2025)

Memalukan! Kejadian ini tak hanya ada di satu tempat, melainkan di daerah-daerah lainnya dengan model kasus yang serupa, yakni pemerkosaan oleh keluarga sendiri. Hal ini kian menunjukkan darurat rusaknya moral masyarakat. Rusaknya masyarakat dapat terlihat dari fondasi dasarnya, yakni keluarga. Keluarga yang semestinya menjadi tempat bernaung dan berlindung, justru menjadi tempat menakutkan bagi anak.

Terlebih lagi, anak yang mengalaminya di bawah umur dan dia berada di bawah tekanan, na’uzu billah. Didikan pemikiran sekuler makin menancap kuat dalam tubuh masyarakat sehingga akalnya tak lagi digunakan untuk membedakan perbuatan baik dan buruk, benar atau salah. Timbangan perbuatan mereka bukan diasaskan pada wahyu, melainkan hawa nafsu semata.

Belum lagi kemudahan akses konten-konten porno yang mudah didapatkan menjadi dorongan untuk menuntaskan hasrat seksual tidak pada tempatnya. Sungguh, kerusakan itu kian nyata di depan mata dan makin dekat dengan kita.

Kasus ini memperlihatkan kepada kita beberapa hal penting:

Pertama, rusaknya moral pelaku. Tindakan rudapaksa jelas menunjukkan lemahnya kontrol diri dan hilangnya rasa takut kepada hukum maupun Tuhan.

Kedua, lingkungan yang seharusnya aman, ternyata justru berbahaya. Tetangga yang seharusnya menjadi keluarga kedua malah menjadi ancaman.

Ketiga, lemahnya sistem pengawasan sosial. Masyarakat masih cenderung abai atau enggan peduli ketika ada tanda-tanda pelecehan.

Keempat, keterbatasan penegakan hukum. Walaupun pelaku bisa dijerat undang-undang, kenyataannya masih banyak korban yang belum mendapat keadilan atau pemulihan secara menyeluruh.

Jika dibiarkan, kasus serupa akan terus berulang karena tidak hanya menyangkut perilaku individu, tetapi juga lemahnya sistem perlindungan anak dan ketidakpedulian sosial. Maka, tak heran jika pengulangan kasus serupa akan terus terjadi.

Islam dengan tegas melarang segala bentuk pelecehan dan perzinaan. Tindakan rudapaksa adalah dosa besar karena termasuk dalam kejahatan hudud. Ngerinya lagi, ancamannya sangat berat di sisi Allah.

Adapun beberapa solusi menurut Islam dalam menyelesaikann persoalann ini adalah:

Pertama, penegakan hukum yang tegas (hudud dan takzir). Islam menetapkan hukuman berat bagi pelaku zina, terlebih lagi jika dilakukan dengan kekerasan (pemerkosaan). Dalam konteks modern, negara wajib menegakkan hukum yang adil dan memberi efek jera, tidak hanya penjara ringan.

Kedua, menumbuhkan rasa takwa dan kontrol diri. Pendidikan akhlak sejak dini penting agar seseorang memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang beriman akan menjauhi zina karena sadar bahwa perbuatan itu adalah kehinaan besar.

Ketiga, penguatan peran keluarga dan tetangga (masyarakat). Islam menekankan pentingnya amar makruf nahi mungkar. Tetangga bukan sekadar tinggal berdampingan, tetapi juga saling menjaga. Seharusnya masyarakat aktif mencegah dan melaporkan jika ada tanda-tanda mencurigakan.

Keempat, pemulihan korban secara utuh. Islam sangat melindungi anak-anak. Korban harus mendapat perlindungan, kasih sayang, dan dukungan penuh dari keluarga serta masyarakat, agar tidak larut dalam trauma. Rasulullah saw. mencontohkan sikap penuh empati kepada anak-anak yang tertimpa musibah. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Melda Utari,

Sahabat Tinta Media

Views: 18

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA