Bencana atau Warning dari Allah? Kita yang Tentuin Maknanya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pernah nggak lagi santai scrolling, tiba-tiba muncul berita banjir bandang, jalan ambles, rumah kebawa arus, warga ngungsi, dan respons kita cuma:
“Yah, musibah lagi.”

Padahal mungkin masalahnya bukan sekadar hujan deras. Bisa jadi bumi lagi kasih kode keras, karena manusia makin seenaknya.

Soalnya, bencana hari ini itu bukan seperti zaman dulu yang sifatnya alami. Sekarang banyak yang terjadi karena pola hidup dan cara kita membangun dunia yang rakus, serakah, dan lupa menjaga keseimbangan.

Sering ada yang bilang perubahan iklim itu lebay atau hoaks. Tapi kenyataannya suhu bumi makin panas, cuaca makin ekstrem, musim makin kacau, dan hujan yang dulu terjadi setahun sekali sekarang bisa muncul berkali-kali dalam waktu dekat.

Dan akar masalahnya jelas: energi fosil, eksploitasi alam, dan gaya hidup konsumtif. Dunia dulu ngegas pakai batu bara, minyak, dan gas buat ngejar pembangunan. Hasilnya? Iya, teknologi maju. Tapi bumi babak belur.

Ironisnya, negara yang paling banyak nyumbang kerusakan justru yang paling santai berubah. Mereka bikin konferensi iklim, selfie dengan background “Save The Planet”, tapi di belakang layar tetap bangun tambang baru.

Indonesia? Kita di posisi serba bingung. Mau berkembang tapi terjebak sistem global yang lebih mikirin cuan daripada keberlangsungan alam.

Salah satu luka terbesar ada di daratan seperti, deforestasi, hutan ditebang buat sawit, tambang, atau properti. Tanah jadi nggak bisa nyerap air, sungai kehilangan penahan, dan lereng tanpa akar jadi gampang longsor.

Lucunya, kerusakan ini sering dibungkus kalimat manis:
“Demi investasi.”
“Demi pembangunan.”
“Demi lapangan kerja.”

Padahal kalau kita jujur, ini seperti masa depan yang dijual demi keuntungan jangka pendek.

Sebenernya masalah utamanya bukan teknologi, bukan sawit, bukan tambang. Tapi cara pandang hidup manusia.

Selama kita masih pakai mindset:
“Yang penting untung, lingkungan urusan nanti,”
maka bencana cuma tinggal nunggu waktu.

Islam sendiri nggak anti teknologi. Ilmu itu wajib. Tapi ada garis batasnya, manusia bukan pemilik bumi, cuma penjaga, misalnya.
Eksploitasi yang merusak, meskipun legal dan menghasilkan uang, tetap salah secara moral.

Dan setiap kali ada bencana, itu bukan cuma tragedi. Itu semacam wake up call.

Yang jadi korban diuji sabarnya.
Yang selamat diuji pedulinya.
Pemimpin diuji amanahnya.
Orang kaya diuji hartanya.
Orang berilmu diuji keberaniannya untuk ngomong.

Pertanyaannya sederhana tapi berat untuk kita semua, “kita cuma sedih sebentar lalu lupa? Atau kita mulai berubah?”.

Namun faktanya, Indonesia ada di dua persimpangan:

1. Tetap seperti sekarang—eksploitasi jalan terus, ekonomi jalan, tapi bumi makin rusak dan hidup makin rentan.

2. Atau bangun peradaban yang mikirin masa depan, pakai teknologi dengan tanggung jawab, dan hidup selaras dengan nilai Islam dan alam.

Karena yang paling menakutkan bukan banjir, bukan longsor, bukan badai.
Yang paling menakutkan adalah ketika manusia tidak belajar apa-apa dari semua itu.

Bumi bisa sembuh tanpa kita.
Tapi kita nggak bisa hidup tanpa bumi.[]

Oleh: Setiyawan Dwi
Jurnalis

Loading

Views: 39

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA