Berhasilnya Kapitalisme Menjerat Muda Mudi Hidup Materialistik

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Berhasilnya Kapitalisme Menjerat Muda Mudi Hidup Materialistik

Tinta Media – Saat ini fenomena gaya hidup telah menjadi suatu hal yang
dijadikan tujuan dalam aktivitas kehidupan. Terkhusus pada kaum muda-mudi dari
berbagai generasi yang tidak luput dalam jebakan arus gaya hidup materialistik.

Gaya hidup sudah menjadi hal yang wajib untuk di-upgrade
pada setiap perubahan dan perkembangan masa saat ini. Maka hal ini menjadikan
segelintir kaum muda-mudi berlomba-lomba dalam meng-upgrade gaya hidupnya
sesuai dengan perubahan yang kian signifikan.

Dilansir dari KOMPAS.com, FOMO atau fear of missing out
adalah gejala sosial yang timbul ketika seseorang tidak ingin ketinggalan dan
tidak mau sendirian. Seseorang dapat bersikap FOMO karena pengaruh dari
internet dan media sosial. Membuatnya ingin mendapatkan pengalaman yang
dimiliki orang lain.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) ini telah menjadi salah
satu tren signifikan di kalangan generasi Z. Dengan kehadiran teknologi
digital, terutama media sosial, kecenderungan untuk merasa tertinggal atau
tidak terlibat dalam kegiatan yang dianggap penting menjadi semakin nyata. Dari
perspektif komunikasi, FOMO mencerminkan dampak yang besar dari interaksi
berbasis teknologi terhadap psikologi dan perilaku komunikasi individu,
terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Bukan tidak baik mengikuti perubahan zaman. Justru hal ini
bisa menjadi perhatian penting. Namun perlu diketahui ada batasan yang harus
diperhatikan untuk mengikuti semua perkembangan yang terjadi saat ini. Bagi
kalangan ekonomi menengah ke atas bahwa hal menuruti gaya hidup terlihat mampu
untuk dipenuhi. Tetapi tuntunan gaya hidup saat ini menimbulkan tekanan bagi
semua kalangan bahkan tidak pandang bulu. Semua kalangan tergiur untuk memenuhi
gaya hidup hedonisme ini.

Banyak kalangan yang masih tidak paham akan sisi gelap
hedonisme. Sehingga hedonisme dianggap bersifat wajar bahkan menimbulkan
kebahagiaan bagi yang mampu memenuhinya. Terkadang sampai rela dan nekad
melakukan appaun demi memenuhi arus gaya hidup yang sesuai tren itu tadi. 

Satu hal yang mesti kita perhatikan adalah penyebab
timbulnya gaya hidup hedonisme karena perkembangan zaman yang kian menuntut
harus terpenuhi. Mungkin pada setiap orang akan berbeda dalam menghadapi
situasi. Namun bukankah pada sebagian lain tidak dapat mengontrol kondisi yang
ada sehingga menuntut untuk memenuhi gaya hidup.

Pada faktanya, tekanan gaya hidup saat ini berhasil membuat
kalangan kaum muda rela melakukan hal apapun demi memenuhi gaya hidup.
Pertanyaannya, lantas apakah kita merasa kebahagiaan hakiki berhasil didapatkan
seusai gaya hidup terpenuhi ? Bukankah menuruti gaya hidup akan tidak ada
habisnya untuk menuntut agar terpenuhi ?

Sebagai kaum muda, hendaknya kita harus membuka mindset yang
lurus benar berkepanjangan. Untuk memikirkan bahwa tidak semua gaya hidup harus
segera dipenuhi. Perlu untuk dilihat dan teliti apakah ada manfaat positif yang
didapatkan.  Apakah itu justru memberikan
dampak negatif yang menimbulkan timbulnya ambisi berlebihan hingga menambah
tingkat stres atau bahkan overthinking dan merasa insecure bila tak segera
memenuhi arus gaya hidup tersebut.  

Terkadang, gaya hidup muncul akibat arus budaya luar negeri
yang terbiasa hidup have fun dan bebas, kini masuk ke lini dalam negeri yang
awalnya tidak mengenal budaya have fun dan bebas. Alih-alih katanya perubahan
buat jadi yang lebih baik. Tetapi gaya hidup membuat segelintir kalangan bisa
tersesat dalam menjalani kehidupannya.

Bahkan tak jarang kebanyakan kalangan muslim saja terlupa
akan ke mana seharusnya harta dibelanjakan. Melupakan perihal wajib untuk
dipenuhi demi hawa nafsu duniawi.

Tampak nyata bahwa keberhasilan sistem kapitalisme yang
menyesatkan umat dalam menjalani kehidupan dengan gaya hidup ala Baratnya. Tapi
kita tidak sadar akan bahaya persepsi gaya hidup lebih penting untuk dipenuhi,
padahal ini adalah suatu kerusakan yang menimpa kehidupan kita. Menjadikan kita
sebagai umat tidak fokus akan tujuan-tujuan hidup kita serta tujuan penciptaan
kita di dunia. Pada akhirnya kita tersibukkan untuk meraih hal-hal fana yang
membuat kita makin jauh dari keberkahan rezeki Allah.

Berbeda halnya dengan gaya hidup sesuai aturan Islam yang
tidak berlebihan seperti hedonisme. Dalam kehidupan aturan Islam semua
benar-benar teratur sesuai pada koridornya. Setiap orang tidak akan
tergila-gila pada kesenangan sesaat. Sebab tolak ukur setiap perbuatannya ialah
terikat pada hukum syara. Dan syara itu datang nya dari Allah. Jika ditemukan
suatu tren terkini tidak bermanfaat serta mendatangkan mudharat, maka Islam
dengan tegas melarangnya. Dengan adanya ketaatan serta kesadaran iman dalam di
umat, ia tak akan melakukannya. Apalagi syariat melarangnya.

Sistem kehidupan Islam adalah suatu aturan yang sempurna dan
paripurna bagi seluruh alam tanpa terkecuali. Namun saat sekarang tidak banyak
yang tahu bahwa ada suatu sistem yang akan berhasil membuat rakyatnya sejahtera
sebab semakin terasa efek dari sekularisme ( pemisahan agama dari kehidupan) di
tengah-tengah umat. Maka ini lah waktunya bagi kita untuk mendakwahkan Islam
Kaffah agar umat terselamatkan dari ngerinya arus pemikiran sesat ala
kapitalisme dan kufur.

Wallahu a’lam bisshhowwab.

Oleh : Marsya Hafidzah Z., Mahasiswi Kebidanan

Loading

Views: 13

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA