Tinta Media – Sudah enam belas bulan sejak Badai Al Aqsa pada 7 Oktober 2023, Palestina masih dalam ketertindasan. Air mata bahkan darah yang tertumpah tak terbendung jumlahnya. Gedung- gedung mereka dihancurkan, keluarga terpisah, impian anak-anak kandas, nestapa muslim di sana menjadi trending berita tanpa ada tindakan nyata dari tentara kaum muslimin dunia untuk membebaskan mereka.
Lagi, kali ini 22 Januari 2025, persetujuan gencatan senjata diambil meski terancam batal karena adanya anggota kabinet Israel yang masih belum menyetujui hal tersebut. Suara takbir kemerdekaan sementara berkumandang di setiap penjuru Palestina. Namun, pada hari yang sama, Zionis masih mewarnainya dengan darah warga Gaza. Setidaknya, ada 80 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat penembakan brutal tersebut.
Bertahun, berulang gencatan senjata hanya memberikan waktu untuk bersiap dihancurkan kembali. Meski membawa kelegaan dan kegembiraan pada rakyat Gaza, tetapi bukan berarti telah aman dari tipu daya dan penghianatan. Banyaknya sandera yang dibebaskan tidak sebanding dengan kehilangan nyawa orang terkasih dan juga berubahnya ruang hidup menjadi penjara terbesar dunia.
Tabiat Zionis Yahudi Selalu Ingkar Janji.
Sejarah mencatat dalam kitab terdahulu bahwa Allah SWT mengirim 12 nabi untuk berdakwah di kalangan Yahudi. Namun, banyak di antara mereka yang didustakan, diacuhkan perintahnya, bahkan dibunuh. Mereka lebih memilih untuk mengikuti hawa nafsu. Begitu pula ketika masa berlalu dan Islam menguasai dunia, Rasulullah pernah mengusir Yahudi pada tahun ke 5 H karena melakukan persekongkolan dengan suku-suku Arab untuk membunuh Rasulullah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 100, yang artinya,
“Mengapa setiap mereka mengikat janji, sekelompok dari mereka melanggarnya, bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.”
Orang-orang yahudi adalah orang-orang yang suka berkhianat dan suka melanggar janji. Tidak hanya itu, kini mereka telah melanggar setidaknya 188 resolusi yang sudah disepakati dengan PBB, seperti perjanjian Camp David, perjanjian Oslo 1 dan Oslo2, dan yang terakhir Prakarsa Perjanjian Trump.
Masihkah kita percaya dengan mereka? Gencatan senjata kali ini bukan karena tekananTrump kepada Netanyahu, tetapi karena Zionis tidak sanggup mematahkan perjuangan rakyat Gaza. Keteguhan rakyat Gaza dan seluruh rakyat Palestina dalam mempertahankan tanahnya tak mampu dibendung. Mereka tak gentar meski menderita kelaparan, dibunuh, dan banyak pemimpin pejuang yang syahid. Mereka tetap teguh dalam keyakinan.
Hal ini telah membuat pasukan Zionis ketakutan. Akhirnya, gencatan senjata menjadi pilihan, apalagi ketika Amerika Serikat sebagai donatur utama peperangan ini tengah mengalami bencana kebakaran dahsyat di Los Angeles yang menelan kerugian sampai 1000 Triliyun, 3 kali lipat dari dana yang diberikan kepada Israel untuk menduduki Palestina.
Gaza dan Tanah yang dijanjikan
Perlawanan dari penduduk Gaza bukanlah semata karena keinginan mereka mempertahankan apa yang telah mereka miliki selama berabad lamanya. Namun lebih dari itu, akidah yang menghujam ke dalam dada kaum muslimin Gaza telah menjadikan mereka pelindung Al-Aqsa yang merupakan kiblat pertama kaum muslimin sebelum dialihkan ke masjidil haram.
Rosulullah shalallahu alahi wasallam bersabda:
« إني رأيت كأن عمود الكتاب انتزع من تحت وسادتي فأتبعته بصري فإذا هو نور ساطع عمد به إلى الشام ألا و إن الإيمان إذا وقعت الفتن بالشام » [أخرجه الحاكم]
“Sesungguhnya aku melihat penyangga Al-Qur’an dicabut dari bawah tempat duduknya, lalu ketika aku lihat, maka aku mendapati ada cahaya yang memanjang sampai pada negeri Syam. Ketahuilah bahwa keimanan kembali kepada Syam jika terjadi fitnah.“ (HR al-Hakim 5/712-713 no: 8701). Hadis ini dinyatakan shahih oleh beliau dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan al-Albani.
Syam yang kini terbagi atas Yordania, Suriah, Libanon dan Palestina meletakkan Gaza sebagai bagian dari penyangga Al-Qur’an yang mendapati cahaya seperti termaktum dalam hadist tersebut. Kesabaran yang mereka miliki, perjuangan dan rasa syukur yang mereka tanamkan pada generasi muda mereka menjadikan Gaza tangguh tak terpatahkan. Mereka meletakkan dunia hanyalah tempat persinggahan, dan surga sebagai sebaik-baik tempat kembali. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain hidup mulia dengan Islam atau mati syahid di medan jihad.
Keyakinan seperti ini juga harus dimiliki oleh kaum muslim seluruh dunia, menempatkan akidah Islam di atas segalanya, hingga kaum muslim berupaya keras membebaskan Palestina dan negri-negri muslim lainnya dari penjajahan, baik bentuk penjajahan secara fisik maupun nonfisik.
Jihad dan Khilafah Solusi Bebaskan Palestina
Islam selain sebagai agama ruhiyah yang mengatur cara peribadatan seorang hamba kepada tuhannya, juga merupakan agama syahsiyah atau politik, didalamnya ada aturan bagi manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan, dimana manusia terikat segala aktivitasnya dengan Asy Syari’ yakni Allah Subhanahu Wata’ala dalam riayah su’unil ummah atau mengatasi segala problematika umat, baik permasalahan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pernikahan, waris, sanksi pidana maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan luar negeri.
Islam memandang persoalan Palestina adalah persoalan umat muslim seluruh dunia dan mengembalikan kedudukan tanah tersebut sebagai tanah kharajiyah, yakni tanah yang didapat melalui pembebasan atau peperangan adalah kewajiban. Palestina dibebaskan oleh kaum muslim pada masa Khilafah Islamiyah sejak zaman Sayyidina Abu Bakar As Sidiq sampai Sayyidina Umar Bin Khattab saat menjabat sebagai Khalifah. Tanah Kharaj akan menjadi milik kaum muslimin sampai kiamat kelak meski penggunaannya diserahkan pada penduduk setempat, bukan dibagi sebagai harta rampasan perang atau ghanimah.
Sebagai umat yang satu, kondisi Palestina adalah persoalan yang harus diselesaikan bersama, yakni dengan jihad oleh tentara kaum muslim seluruh dunia, dari seluruh negri muslim terlebih oleh wilayah arab yang bertetangga langsung dengan Palestina. Namun adakah hal tersebut bisa dilakukan ketika negri-negri muslim tersekat nationalisme dan masih menganut paham barat kapitalis sekuleris yang memisahkan agama dari kehidupan, dan memandang Palestina hanyalah masalah teritorial semata. Two State dijadikan solusi praktis yang bisa dipastikan akan adanya genosida selanjutnya.
Umat harus menyakini kemenangan adalah milik umat Islam dan pujian hanya milik Allah. Kemenangan akan datang atas pertolongan Allah. Oleh karena itu jalan perjuangan wajib sesuai tuntunan Allah, tidak menyerahkan urusan pada musuh-musuh Allah. Dakwah harus senantiasa disampaikan untuk menyadarkan akan pentingnya persatuan kaum muslim seluruh dunia dalam naungan yang satu yakni khilafah islamiyah atas manhaj kenabian.
Umat harus terus berjuang untuk mewujudkan solusi hakiki, mengembalikan kemulyaan Islam dan kaum muslimin. Bergabung bersama jemaah yang mengkaji Islam kaffah dan mendakwahkannya adalah jalan satu-satunya yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabat untuk membebaskan seluruh negeri dari penghambaan selain Allah. Keberadaan Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah akan mengirimkan pasukan untuk membebaskan Al-Quds di bawah panji-panji Rasulullah SAW. Wallahua’lam bishawab.
Oleh: Yuli Mariyam
Pendidik Generasi Tangguh
![]()
Views: 20
















