Tinta Media – Puluhan Siswi di SMA Sulthan Baruna, Desa Padaluyu, Kecamatan Cikadu, Cianjur jalani tes kehamilan. Adanya siswi yang hamil usai libur semester menjadi alasan pihak sekolah melakukan tes tersebut (detikjabar, 22 Januari 2025).
Tujuan kebijakan tes kehamilan siswi dari pihak sekolah SMA Sulthan Baruna yaitu untuk mencegah kenakalan remaja, khususnya pergaulan bebas. Seperti kasus kehamilan siswi yang pernah terjadi di sekolah tersebut.
Kegiatan tes kehamilan puluhan siswi direkam oleh salah seorang guru dan diunggah ke media sosial. Video itu pun menjadi viral dan menuai berbagai komentar netizen.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Jawa Barat, Nonong Winarni, turut menanggapi video viral dari SMA Sulthan Baruna. Menurut Nonong, program itu memiliki tujuan yang baik. Namun, aktivitas tersebut tidak perlu diunggah ke media sosial sehingga menjadi konsumsi publik. Nonong berpendapat bahwa apa pun hasil dari tes tersebut hanya untuk kepentingan internal sekolah, bukan untuk konsumsi publik, termasuk proses pelaksanaannya (Kompas.com, 23 Januari 2025)
Pergaulan bebas saat ini sudah seperti hal yang biasa. Pergaulan bebas remaja harus diatasi sampai tuntas dan dicegah agar kasus serupa tidak terus berulang. Namun, tes kehamilan bukan pencegah pergaulan bebas remaja. Hal ini karena seks bebas tidak selalu menyebabkan kehamilan, dan hasil tes kehamilan yang negatif belum tentu berarti tidak pernah melakukan seks bebas.
Remaja saat ini mudah terbawa pergaulan bebas. Ini disebabkan oleh masifnya tayangan pacaran, pornografi, ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), di media sosial atau TV, baik dalam bentuk film, iklan, lagu, atau pun tingkah laku artis yang diikuti oleh penggemarnya. Tontonan yang menjadi tuntunan bagi remaja terus menerus dipertontonkan kepada remaja sehingga remaja mudah terjerumus melakukan pergaulan bebas. Negara yang menerapkan sekularisme kapitalisme tidak menghentikan tayangan-tayangan tersebut.
Sistem pendidikan sekulerisme juga memisahkan agama dari kehidupan, sehingga agama hanya sebatas melakukan ibadah ritual di rumah ibadah, di luar rumah ibadah kebebasan berperilaku misalnya seperti pacaran boleh dilakukan. Sistem pendidikan di negara sekulerisme tidak membina remaja dengan Islam.
Sistem sanksi juga tidak tegas menghukum pelaku perzinaan dan penyebar pornografi. Bahkan perzinaan yang dilakukan secara sukarela tidak disebut tindakan kriminal. Padahal jelas itu adalah tindakan maksiat. Konten pornografi pun tak habis-habis karena lemahnya sistem sanksi di negara penganut sekulerisme kapitalisme.
Remaja yang setiap harinya melihat tayangan-tayangan tak mendidik, melihat aurat dimana-mana, tren pacaran yang biasa melakukan zina, mendorong naluri nau’ remaja sehingga mudah melakukan seks bebas. Akar permasalahannya adalah sistem sekulerisme kapitalisme yang membuat remaja terbawa arus pergaulan bebas.
Solusi dari masalah pergaulan bebas adalah mencabur akar permasalahannya yaitu sistem sekulerisme kapitalisme dan menggantinya dengan sistem yang benar yaitu sistem Islam yang berasal dari Allah SWT.
Dalam Islam, sistem pendidikan akan menanamkan akidah dan membina remaja menjadi taat kepada Allah SWT. Remaja akan menutup aurat, menghindari ikhtilat, dan menundukkan pandangan dari lawan jenis non mahram.
Sistem sanksi Islam juga akan menindak tegas pelaku zina dengan rajam atau cambuk, yang akan menjadi penggugur dosa dan efek jera sehingga mencegah terjadinya zina. Negara akan menghapus semua konten pornografi dan menghukum pelaku penyebaran konten pornografi. Remaja hanya akan melihat konten positif setiap harinya sehingga semakin kokoh akidahnya.
Dengan demikian, tes kehamilan di sekolah tidak cukup mencegah pergaulan bebas. Solusi tuntas dan pencegah pergaulan bebas adalah mengganti sistem sekulerisme kapitalisme dengan sistem Islam.
Wallahu a’lam bishawab.
![]()
Views: 7
















