Tinta Media – Sufmi Dasco Ahmad (Wakil Ketua DPR) berbicara terkait kecelakaan maut yang menyebabkan 11 mengalami luka berat dan ringan dan menewaskan delapan orang. Kecelakaan tersebut terjadi pada hari Selasa (4/2/2025) malam di Gerbang Tol Ciawi, Bogor, Jakarta (Beritasatu.com, 5/2/2025).
Menurutnya, salah satu penyebab sering terjadi kecelakaan ada karena rem blong. Untuk itu, perlu di cek secara rutin oleh dinas lalulintas maupun pemilik kendaraan agar kondisi kendaraan selalu dalam keadaan baik, demi keselamatan.
Untuk mengurangi angka kecelakaan, Dasco juga menyarankan supaya menghilangkan sistem tap manual di pintu tol agar pembayaran dilakukan tanpa menghentikan kendaraan. Teknologi ini sudah dilakukan di beberapa negara. Kemudian, aparat kepolisian juga dihimbau untuk memperketat pengawasan terhadap pemimpin kendaraan dengan memberikan sanksi sesuai undang-undang pada pemilik kendaraan yang lalai untuk melakukan pengecekan berkala, jelas Dasco.
Pada dasarnya, setiap musibah yang terjadi adalah datang dari Allah Swt. Meskipun demikian, bukan berarti manusia itu cukup menerima itu tanpa berfikir sebab musababnya. Kecelakaan bertubi-tubi yang sering terjadi dijalan tol itu akibat dari kelalaian manusia, juga sistem yang diterapkan. Keduanya saling berkolerasi hingga mengakibatkan terjadinya carut marut tata kelola transportasi yang mengakibatkan kecelakaan maut dijalan tol. Secara person adalah tentang kapabilitas seorang sopir. Sedangkan secara sistemnya adalah tentang mekanisme pengaturan kendaraan di jalan tol dan aturan pemberian SIM pada seseorang.
Di samping itu, lemahnya penegakan hukum, kurang optimalnya pengawasan hingga lemahnya regulasi keselamatan juga berimbas pada nasib rakyat. Bukti bahwa negara hanya sebagai regulator saja. Kecelakaan berulang sudah seharusnya menjadi titik kritis bagi pemerintah untuk segera berbenah dalam hal tata kelola transportasi, khususnya transportasi darat.
Rasanya mustahil pemerintah berhasil menyelesaikan masalah transportasi jika masih terkungkung dalam belenggu sistem kapitalisme sekuler. Karena setiap proyek pembangunan infrastruktur dalam sistem kapitalisme hanyalah sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Ketika pandangannya hanya keuntungan, maka semua aktifitas seperti perbaikan jalan menjadi tidak maksimal. Lahan korupsi juga terbukti lebar ketika turun anggaran untuk perbaikan jalan. Perbaikan terkesan asal-asalan sehingga sangat mudah rusak kembali. Kemudian, kendaraan seharusnya dilakukan pengecekan secara berkala agar kondisi kendaraan selalu dalam kondisi aman dan layak jalan.
Di sisi lain, gaji sopir yang tidak sesuai dengan lamanya jam kerja akan membuat sopir akan berusaha mengirit bahan bakar dengan cara mematikan mesin ketika berada di jalan yang menurun. Akibatnya sangat berbahaya bagi orang lain dan dirinya sendiri karena bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan kalau tiba-tiba rem blong. Fakta seperti itu memang pernah terjadi. Begitulah ketika sistem rusak dan merusak masih di adopsi di negeri ini. Rakyat tidak diurus dengan benar, namun hanya dijadikan lahan bisnis bagi negara.
Padahal Islam punya aturan yang shahih, datang dari Allah SWT sebagai solusi yang tepat. Islam memandang bahwa jalan adalah sebuah keutuhan manusia yang harus di perhatikan dengan baik. Jalan membutuhkan perhatian yang serius dari seorang pemimpin sebagai pengurus urusan rakyat berdasarkan sabda Rasul SAW yang diriwayatkan Bukhari ,“Pemimpin adalah raa’in dan penanggung jawab urusan rakyatnya”.
Oleh karena itu, sudah seharusnya untuk melakukan perbaikan jalan maupun kendaraannya. Misalnya dengan pengecekan secara berkala agar kendaraan selalu dalam keadaan baik dan layak jalan. Begitupun dengan pengemudi kendaraan yang harus memenuhi syarat untuk bisa berkendara dengan aman, bekerja sesuai aturan dengan upah yang sesuai. Karena seorang pengemudi, terutama sopir angkutan umum itu membawa banyak orang yang harus dijaga keselamatannya. Sebuah tanggung jawab yang besar bagi sopir itu sendiri.
Dalam Islam, hubungan antara rakyat dengan pemimpin adalah hubungan yang berlandaskan akidah Islam, bukan hubungan sebagai penjual dan pembeli. Maka, semua pelayanan, perbaikan jalan maupun kebijakan aturan yang dibuat semata-mata hanya untuk kesejahteraan rakyat. Begitu juga dengan sanksi jika terjadi pelanggaran-pelanggaran akan ditindak tegas sesuai aturan Islam. Dengan aturan Islam yang kaffah, kemungkinan terjadinya berbagai insiden dijalan tol maupun di jalan umum lainnya bisa diminimalisir.
Semua itu bisa terwujud ketika Islam dipakai untuk mengatur kehidupan dalam sebuah institusi negara khilafah Islamiyyah. Sistem yang pernah gemilang pada masanya bisa menjadi pelajaran bahwa kaum muslim harus bangkit dari keterpurukannya.
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Dartem
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 6
















