Darah Gaza dan Diamnya para Penguasa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Penderitaan muslim di Gaza belum juga berakhir akibat serangan militer yang dilancarkan oleh zionis Israel. Sepanjang bulan Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri, warga Gaza terus hidup dalam ancaman genosida. Sejak Israel kembali melanjutkan operasi militernya pada 18 Maret 2025, diperkirakan sekitar 1.309 warga Palestina telah menjadi korban jiwa. Tentara Israel juga menyerang tenaga medis, jurnalis, dan relawan kemanusiaan.

Israel juga memblokir masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza, menyebabkan 2,4 juta penduduknya menghadapi risiko kelaparan dan kekurangan obat-obatan. Karena fasilitas kesehatan dan Rumah Sakit telah hancur, membuat banyak warga Gaza tidak mendapatkan layanan medis yang memadai.

Dengan segala hal yang terjadi di sana, masihkah kita abai? Masihkah kita bisa tidur nyenyak, sementara saudara muslim kita setiap harinya selalu ketakutan dengan bunyi ledakan yang tak kunjung usai?

Apa kalian lupa dengan apa yang disampaikan oleh Rasullullah, bahwa seorang dikatakan beriman dengan sempurna jika ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri? (HR al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan pentingnya wujud rasa cinta kepada sesama muslim. Bahkan, Rasulullah saw. Menafikan kesempurnaan iman seseorang sampai terwujud rasa kasih sayang kepada saudara seiman.

Sesama muslim itu ibarat satu tubuh. Artinya, jika ada bagian tubuh yang sakit, maka yang lain juga ikut merasakannya. Di balik rasa sakit tersebut, pasti ada ikhtiar atau usaha untuk bisa sembuh dari rasa sakit. Begitu pula seharusnya saat ini. Jangan sampai ada seorang muslim yang mengabaikan penderitaan kaum muslimin lain di belahan dunia mana pun, termasuk di Gaza.

Ali al-Qaradaghi, Sekretaris Jenderal Cendekiawan Muslim Internasional mengatakan pentingnya bantuan tidak hanya makanan, tetapi juga kekuatan militer dan ekonomi politik untuk menghentikan musuh. Ia juga menyampaikan bahwa diamnya penguasa Arab dan dunia Islam termasuk kejahatan besar.

Sudah sangat jelas bahwa satu-satunya solusi yang paripurna untuk menyelesaikan krisis di Gaza adalah melalui jihad fisabilillah yang dipimpin oleh seorang khalifah dengan institusinya Khilafah. Khalifah yang akan mengerahkan kekuatan militer guna membela warga Gaza dan mengusir penjajah Zionis. Jalan diplomasi terbukti tidak efektif, apalagi hanya berupa retorika kosong yang terus diulang oleh para pemimpin. Al-Qur’an secara tegas memerintahkan jihad defensif saat terjadi serangan terhadap kaum muslimin, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2]: 194 dan 191.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah juga menjelaskan di dalam kitab Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, bahwa jihad menjadi fardu ‘ain ketika umat Islam diserang. Dalam hal ini, kewajiban tersebut bukan hanya berlaku untuk muslim di sana, tetapi juga untuk kaum muslimin di sekitar wilayah Palestina.

Namun, faktanya sekarang para penguasa Arab dan dunia Islam bukan hanya berdiam diri, tetapi juga menutup perbatasan untuk mencegah masuknya pengungsi Gaza yang menderita. Ironisnya, mereka justru memudahkan para Zionis Yahudi untuk melancarkan aksi. Mereka tetap menjalin hubungan dagang dengan penjajah, enggan untuk mengerahkan kekuatan militernya dan tidak ada perlawanan terhadap kejahatan Zionis.

Saat ini telah terjadi konspirasi besar antara para penguasa muslim dengan Amerika dan Zionis. Umat jangan sampai tertipu oleh retorika mereka. Sikap diam mereka sejatinya adalah bentuk persetujuan terhadap genosida yang terjadi, sementara kekuasaan mereka tidak sebanding dengan darah seorang mukmin. Khilafah juga akan menutup pelabuhan dan jalur pelayaran serta penerbangan, agar tidak lagi dilalui kapal dan pesawat asing yang akan mengirimkan bantuan kepada entitas Yahudi.

Penindasan akan terus berlanjut jika tidak ada pemimpin yang bisa menetapkan aturan secara kaffah. Khilafah akan menghilangkan semua fasilitas negara-negara penjajah di wilayah kaum muslimin serta memutuskan kerja sama apa pun yang pro terhadap Zionis.

Maka dari itu, kita wajib memperjuangkannya dengan terlibat dalam kegiatan dakwah yang bertujuan untuk menegakkan kembali Khilafah sesuai dengan metode dakwah Rasulullah. Umat hanya membutuhkan pemimpin politik ideologis yang mempunyai kesadaran politik, yang mampu memimpin mereka bangkit dan melawan segala bentuk penjajahan di seluruh dunia. Inilah urgensi kaum muslimin berjuang menegakkan Khilafah karena hal tersebut merupakan bagian dari syariat Islam.

Setiap muslim wajib melaksanakan kewajiban ini. Oleh karena itu, jelas umat membutuhkan jihad dan Khilafah untuk mengusir zionis Yahudi dari tanah Palestina.

Oleh: Hamidatus S
Aktivis Revolusioner

Loading

Views: 7

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA