Tinta Media – Pendidikan adalah hak dasar setiap manusia dan merupakan pilar penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Sayangnya, hingga hari ini, potret pendidikan Indonesia masih memprihatinkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia baru mencapai 9,22 tahun — setara jenjang SMP. Artinya, sebagian besar rakyat Indonesia belum merasakan pendidikan hingga tingkat SMA, apalagi perguruan tinggi.
Di saat pemerintah gencar menyerukan pentingnya masyarakat menjadi pintar, akses terhadap pendidikan yang layak justru masih menjadi barang mahal, khususnya di daerah-daerah terpencil. Ribuan kecamatan bahkan belum memiliki fasilitas sekolah menengah atas. Anak-anak harus berjalan berkilo-kilo meter, melintasi sungai, hutan, dan pegunungan demi mendapatkan hak dasarnya.
Sistem Sekuler Penyebab Ketimpangan
Ketimpangan ini tak bisa dilepaskan dari penerapan sistem sekuler yang memisahkan urusan agama dari kehidupan, termasuk dalam tata kelola pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan industri dan ekonomi kapitalis semata, bukan sebagai sarana membentuk manusia beradab, bertakwa, dan berilmu.
Akibatnya, pendidikan hanya diprioritaskan di wilayah perkotaan, sementara daerah terpencil dibiarkan tertinggal. Sekolah menjadi layanan berbasis bisnis — mahal, eksklusif, dan tidak merata. Padahal, Islam telah menempatkan pendidikan sebagai kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi negara tanpa terkecuali.
Islam: Pendidikan adalah Hak Seluruh Umat
Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah hak seluruh rakyat tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, maupun geografis. Rasulullah saw. bersabda,
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan.”
(HR. Ibnu Majah)
Artinya, negara wajib memastikan seluruh rakyat bisa mengakses pendidikan dengan mudah dan gratis. Bahkan, dalam sejarah peradaban Islam, negara membuka madrasah, baitul hikmah, dan majelis ilmu di berbagai wilayah hingga pelosok.
Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah memerintahkan pembangunan madrasah di wilayah Syam, Mesir, dan Kufah. Begitu pula Khalifah Harun al-Rasyid yang membangun Baitul Hikmah sebagai pusat pendidikan terbuka bagi seluruh rakyat, tanpa biaya dan tanpa diskriminasi.
Solusi Islam untuk Pendidikan Merata
Jika sistem Islam diterapkan, maka persoalan ketimpangan pendidikan ini dapat diatasi. Berikut solusi yang ditawarkan Islam:
Pertama, negara wajib menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas. Dalam sistem Khilafah, negara bertanggung jawab penuh atas pemenuhan kebutuhan pendidikan rakyat, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, tanpa pungutan biaya.
Kedua, pendidikan berbasis akidah Islam. Kurikulum pendidikan disusun berdasarkan akidah Islam yang membentuk pribadi bertakwa, berilmu, dan bermanfaat bagi umat. Ilmu umum dan ilmu agama diajarkan bersamaan untuk membentuk generasi cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Ketiga, membangun infrastruktur pendidikan yang merata. Negara akan memastikan seluruh wilayah, termasuk pelosok, memiliki fasilitas pendidikan lengkap, guru berkualitas, dan sarana pendukung yang memadai.
Keempat, memuliakan guru dan ilmuwan. Dalam Islam, guru dan ilmuwan mendapat kedudukan mulia dan kesejahteraan yang layak, sehingga profesi ini menjadi cita-cita generasi muda, bukan sekadar pekerjaan pelarian.
Kelima, menghapus komersialisasi pendidikan. Islam menolak pendidikan berbasis kapitalisme yang menjadikan sekolah sebagai lahan bisnis. Pendidikan adalah pelayanan publik yang menjadi tanggung jawab negara.
Ketika pendidikan dibiarkan dikelola dalam sistem sekuler kapitalis, ketimpangan dan keterbatasan akses pendidikan hanya akan menjadi persoalan turun-temurun. Sudah saatnya umat Islam kembali kepada syariat Islam kaffah yang pernah membuktikan kejayaan pendidikan selama 13 abad lebih.
Islam bukan hanya agama ibadah spiritual, tapi juga sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek, termasuk pendidikan. Jika diterapkan, maka tak akan ada lagi cerita rakyat disuruh pintar, tapi dipersulit untuk belajar.
Oleh: Anggun Istiqomah
Sahabat Tinta Media
Views: 13
















