Penjajahan Zionis, Guncangan Besar Seluruh Umat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Sorotan dunia internasional tertuju pada Gerakan Global March to Gaza, dari Al-Arish menuju gerbang Raffah, setelah sebelumnya kapal Madleen yang berusaha menuju perbatasan Gaza. Aksi ini sebagai bentuk estafet nurani kolektif yang menolak diam atas krisis kemanusiaan di Palestina (republika.co.id, Sabtu, 14/6/2025).

 

Ribuan orang dilibatkan dalam konvoi ini dari berbagai negara. Mereka hadir bukan sebagai perwakilan diplomatik resmi, melainkan independen (dengan biaya sendiri) sebagai representasi moral dan kemanusiaan.

 

Anggota konvoi sesudah landing, sejak pemeriksaan imigrasi sudah diinterogasi dan diawasi terus. Jika kurang pintar bersiasat, ada yang langsung dideportasi. Aksi ini memang belum ada izin resmi dari pemerintah setempat. Hal ini akan sulit karena para penguasa muslim adalah boneka Amerika. Oleh karena itu, dengan pintarnya mereka bersiasat.

 

Gerakan Global March to Gaza muncul akibat kemarahan umat yang sangat besar. Hal itu menandakan bahwa umat tidak bisa mengharapkan lagi lembaga-lembaga internasional dan para penguasa hari ini. Penjajahan Zionis telah menjadi hazah anifah (goncangan besar) bagi umat. Bukan hanya umat Islam, tetapi juga masyarakat internasional pada umumnya.

 

Masyarakat akan bangun dari tidur ketika ada goncangan yang menghantam kehidupan. Mereka akan mencoba melakukan perubahan atas kondisi buruk yang menimpa. Mereka tidak akan diam terhadap ketidakadilan dan penjajahan yang menyengsarakan serta mengancam nyawa.

 

Akan tetapi, saat terjadi Gerakan Global March to Gaza, faktanya para peserta aksi tertahan di pintu Raffah. Hal ini semakin menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan apa pun tidak akan pernah bisa menyolusi masalah di Gaza karena ada pintu penghalang terbesar di negeri-negeri kaum muslimin, yaitu nasionalisme dan konsep negara bangsa.

 

Kedua paham ini telah menghilangkan hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka, sehingga membiarkan saudaranya dibantai, bahkan ikut menjaga kepentingan penjajah demi meraih keridaan negara adidaya untuk kekuasaan mereka, yakni Amerika.

 

Perubahan besar yang diperlukan Palestina tidak cukup berhenti pada amalan praktis. Aksi besar-besaran memang upaya tulus yang bisa memberi tekanan karena menunjukkan kekuatan umat, tetapi harus diiringi dengan sebuah pemahaman Islam ideologis, sehingga perubahan besar ini bisa terwujud.

 

Bahaya nasionalisme dan konsep negara bangsa harus dipahami oleh umat Islam, dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya. Kedua hal itu justru digunakan musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan khilafah dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri Islam.

 

Solusi untuk Palestina harus bersifat politik, yakni fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia (Khilafah) yang akan menjadi junnah (perisai) bagi seluruh rakyat dan wilayah di bawah kekuasaannya. Maka, hal ini sangat urgen untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat dan telah terbukti konsisten meperjuangkan tegaknya khilafah. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

 

Oleh: Peni Hendayani,

Sahabat Tinta Media

 

Views: 37

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA