Tinta Media – Pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang menganggap guru sebagai beban telah menyakiti hati banyak orang. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Meskipun dengan gaji kecil, guru sudah berjasa mencetak generasi cemerlang. Sementara itu, pejabat dan anggota DPR yang kontribusinya tidak jelas mendapatkan gaji besar sampai seratus juta. Masih belum puas, korupsi juga banyak dilakukan oleh mereka yang berada di kursi kekuasaan. Lalu, siapa sebenarnya yang menjadi beban negara?
Kewajiban negara untuk menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk mencetak generasi unggul yang siap menghadapi tantangan zaman. Generasi unggul yang memiliki kemampuan, keahlian, dan karakter yang baik diharapkan mampu membangun negara menjadi lebih maju.
Lalu, untuk apa negara ada jika tidak mampu menyejahterakan guru? Guru dituntut profesional, tetapi kesejahteraan diabaikan. Padahal, jika kesejahteraannya terjamin dan terpenuhi segala fasilitas, sarana, dan prasarana penunjang pendidikan, maka cita-cita mencetak generasi unggul pun bisa terwujud.
Sebenarnya, yang manjadi beban negara adalah pejabat dan anggota legislatif dengan gaji tinggi, tetapi tidak mempu menjalankan amanah menyejahterakan rakyat. Parahnya lagi, mereka banyak yang terlibat korupsi yang merugikan rakyat dan negara. Ditambah, beban bunga utang luar negeri yang harus dibayar oleh negara akibat tidak mampu mengelola sumber daya alam yang melimpah.
Sungguh aneh jika APBN defisit, sementara rakyat harus membayar berbagai macam pajak yang membebani kehidupan mereka. BUMN yang seharusnya menjadi sumber pendapatan negara pun merugi. Jika tidak mampu menjalankan amanat rakyat, sebaiknya para pejabat dan wakil rakyat mundur daripada menjadi beban rakyat.
Negara dalam sistem kapitalisme tidak mengurusi rakyat agar bisa hidup aman dan sejahtera. Para pejabat dan aparatnya hanya mengurusi urusan mereka sendiri dan menuruti ambisi untuk memperkaya diri dengan gratifikasi dan korupsi. Apakah kita masih mau mempertahankan sistem kapitalisme yang menyengsarakan rakyat?
Saatnya kita kembali pada sistem Islam, di mana negara hadir untuk mengurusi rakyat. Sudah menjadi kewajiban negara untuk menyejahterakan rakyat, termasuk guru yang memiliki kontribusi besar untuk mewujudkan generasi unggul tonggak peradaban. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media
Views: 58
















