Kesenjangan Pendidikan, Kapitalisme Harus Dicampakkan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pendidikan saat ini menjadi persoalan yang begitu pelik dan terjadi banyak ketimpangan. Kesenjangan terlihat ketika tidak semua masyarakat mampu menjangkau. Maka, mengakibatkan menurunnya angka pendidikan khususnya di jenjang pendidikan tinggi. Berdasarkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) menyatakan bahwa yang paling tajam merosot adalah di pendidikan tinggi. Padahal, pendidikan adalah penentu nasib bangsa dalam menapaki peradaban. (CNN Indonesia, 14/08/2025)

Seharusnya pemerintah peka dengan persoalan pendidikan saat ini. Bukan hanya membuat survei, tetapi betul-betul mencari akar masalah dari persoalan ini.

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi terjadinya persoalan ini. Pertama, saat ini sistem yang dianut adalah sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini berlandaskan pada manfaat semata, di mana setiap sektor hanya bertujuan untuk mendapatkan cuan. Semua aspek kehidupan termasuk pendidikan dijadikan akomodasi oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil suatu keuntungan. Akibatnya, layanan pendidikan jauh dari kata merata.

Begitu pun dengan akses ke sekolah saat ini di tempat-tempat terpencil, terlebih sarana transportasi pun sulit. Belum lagi masih banyak anak-anak yang mengalami masalah stunting dan gizi buruk. Jangankan untuk bersekolah, mengatasi masalah makan saja sangat sulit. Ditambah pendidikan begitu mahal sehingga tidak semua lapisan masyarakat dapat merasakannya. Pendidikan berkualitas hanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu saja.

Faktor kedua adalah negara dalam sistem kapitalisme menjadi regulator bagi sang pemilik modal dengan menggadang-gadangkan paham demokrasi. Paham ini menjamin kebebasan kepemilikan. Jadi, pihak swasta atau asing diberikan kebebasan untuk mengelola sumber daya alam dan sektor-sektor industri. Alhasil, masyarakat menjadi sangat sulit untuk mencari pekerjaan dan jauh dari kata sejahtera.

Kapitalisme hanya mengutamakan kepentingan pribadi dalam memenuhi ambisi dengan tolak ukur kebahagian adalah terpenuhinya kebutuhan materi semata. Mereka hanya peduli dan mengutamakan daerah yang mereka anggap bernilai ekonomi, sedangkan daerah-daerah terpencil terabaikan dari segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan kesehatan

Faktor ketiga, para kapitalis menganggap bahwa segala aspek kehidupan hanya sebagai komoditas tanpa mempedulikan aspek kemanusiaan. Bagi mereka yang terpenting adalah adanya manfaat yang menguntungkan. Pendidikan begitu sulit dijangkau apalagi di daerah terpencil yang sarana dan prasarana tidak mendukung. Bangunan sekolah yang tidak layak, tenaga guru yang kurang, begitu pun yang tinggal di daerah kota masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah karena mahalnya biaya pendidikan.

Dalam sistem kapitalisme, kualitas sekolah ditentukan dari kemampuan finansial sehingga begitu terlihat kesenjangan sosial saat ini. Belum lagi akan diadakan sekolah khusus bagi masyarakat yang tidak mampu. Apakah ini bisa menjadi solusi atau bahkan malah menjadikan ketimpangan yang begitu nampak? Jelas bahwa pendidikan saat ini begitu diskriminatif. Lalu, bagaimana pendidikan akan merata dan dapat dijangkau semua lapisan masyarakat jika sistem yang ada tidak mampu menyelesaikan persoalan ini?

Hanya dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah yang dapat menjadi solusi tuntas untuk semua persoalan umat saat ini. Dalam konteks ini, Islam akan memberikan solusi dari permasalahan ini dengan berbagai mekanisme yang sesuai dengan hukum syarak.

Pertama, Islam akan menetapkan bahwa negara sebagai pengurus rakyat. Negara akan menjamin kesejahteraan dalam berbagai aspek kehidupan. Negara akan melayani semua kebutuhan dasar rakyat, termasuk pendidikan. Karena, dalam Islam pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan menjadi hak bagi setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Dalam aspek ekonomi, negara akan mengelola sumber daya alam dan sektor-sektor industri. Kemudian, hasilnya akan diberikan kepada rakyat guna memenuhi kebutuhan hidup, membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya, memberikan layanan pendidikan, dan kesehatan serta layanan-layanan yang diperlukan oleh masyarakat dengan gratis.

Islam memandang pendidikan sebagai hak publik tanpa terkecuali. Islam juga akan memberikan pendidikan yang gratis, merata, dan tentunya berkualitas bagi semua warga. Tidak ada kesenjangan sosial dalam sistem Islam karena berlandaskan kepada akidah Islam, bukan asas manfaat.

Negara akan menjamin sarana dan prasarana untuk mempermudah dalam mengakses pendidikan baik di daerah perkotaan maupun daerah-daerah terpencil. Tidak ada diskriminatif, membedakan antara kaya dan miskin, misalnya membangun prasarana publik seperti jalan, jembatan, sekolah, dll. Islam juga begitu memperhatikan kesehjateraan guru sebagai tenaga pendidik karena sudah mencerdaskan generasi peradaban.

Islam memiliki badan pengelolaan sumber-sumber harta yaitu baitulmal. Sumber harta dalam Islam terbagi menjadi tiga kepemilikan, yaitu kepemilikan negara, umum, dan pribadi. Harta tersebut akan disalurkan sesuai pos-pos masing-masing sehingga tidak ada penyelewengan dana apalagi korupsi dana pendidikan.

Maka, hanya dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh yang akan menjadi solusi tuntas dalam megentaskan persoalan pendidikan. Pendidikan dalam Islam begitu penting karena dapat melahirkan generasi-generasi penerus peradaban yang mulia. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Iske

Sahabat Tinta Media

Views: 43

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA