Tinta Media – Belakangan ini, generasi yang sering disebut Gen Z (lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an) kerap mendapat label “generasi labil”. Media maupun masyarakat sering menyematkan stigma itu. Padahal, hari ini, Gen Z paling tua usianya sudah menginjak 27 tahun. Mereka sudah bekerja, menikah, bahkan sebagian sudah memiliki anak. Menyebut Gen Z hanya sebagai generasi labil adalah kesimpulan sepihak tanpa melihat kontribusi positif mereka.
Realitas dan Fitrah yang Terganggu
Dalam kerangka pendidikan berbasis fitrah (FBE) yang digagas Ustaz Harry Santosa, setiap anak lahir membawa fitrah yang harus ditumbuhkan. Ada fitrah keimanan, belajar, bakat, hingga fitrah sosial. Ketika ada generasi muda yang tampak labil atau gamang dalam mengambil keputusan, sering kali bukan semata karena “kurang iman” atau “mental lemah”, melainkan karena fitrah mereka tidak terasuh optimal sejak dini.
Kondisi ini juga tidak eksklusif hanya pada Gen Z. Generasi sebelumnya pun pernah melalui problem serupa, hanya bentuknya berbeda sesuai zamannya. Bedanya, Gen Z tumbuh di era digital, distraksi budaya populer, dan liberalisasi gaya hidup, maka kerusakan fitrah itu tampak lebih nyata dan massif.
Fenomena Demo Gen Z
Dalam beberapa tahun terakhir, Gen Z turun ke jalan. Mereka menolak kebijakan yang dianggap tidak adil, mengkritik isu korupsi, hingga menyuarakan keprihatinan terhadap krisis lingkungan. Fenomena ini mematahkan narasi bahwa mereka hanya penikmat gadget dan hiburan semata. Akan tetapi, ada keresahan kolektif yang berubah menjadi aksi nyata.
Sayangnya, kurangnya arah ideologis menyebabkan aksi-aksi itu mudah dipolitisasi atau putus di tengah jalan. Namun, keberanian mereka menunjukkan fitrah muda belum padam, tinggal menunggu dituntun dengan visi yang benar.
Sekularisme: Sumber Kebingungan Generasi
Generasi muda hari ini tumbuh dalam sistem sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Kebahagiaan diukur dengan materi, gaya hidup, dan popularitas. Tidak ada tuntunan menyeluruh yang menjawab pertanyaan mendasar, seperti tujuan hidup atau sikap terhadap ketidakadilan.
Akibatnya, banyak dari mereka mencari validasi di dunia maya, larut dalam pacaran bebas, konsumtif, bahkan narkoba. Sebagian yang lain memilih jalan protes, tetapi tanpa pola perjuangan yang jelas. Semua ini bukti bahwa sistem sekuler gagal menumbuhkan generasi sesuai fitrahnya.
Islam dan Fitrah Muda
Islam memandang pemuda sebagai kekuatan perubahan. Rasulullah ﷺ membina para sahabat muda, seperti Ali bin Abi Thalib, Mush‘ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid, hingga mereka tampil sebagai generasi tangguh yang menjadi pilar peradaban. Islam selaras dengan fitrah muda: semangatnya diarahkan, idealisme disalurkan, dan keberaniannya dituntun oleh akidah dan syariat.
Jika fitrah ini diasuh dalam sistem Islam, maka energi pemuda tidak akan sia-sia. Mereka tidak sekadar resah, tetapi punya panduan jelas menuju perubahan. Mereka paham tujuan hidup bukan hanya sukses dunia, melainkan rida Allah. Mereka paham bahwa kebangkitan sejati terwujud dengan mengganti sistem sekuler pada Islam kafah.
Harapan: Gen Z dan Kebangkitan
Oleh karena itu, alih-alih terus mengecap Gen Z sebagai generasi labil, kita perlu melihat potensi besar mereka. Bisa jadi, justru merekalah generasi pembebas Al-Aqsa, saksi kembalinya peradaban Islam. Generasi yang tidak hanya bicara di media sosial, tetapi benar-benar menjadi agen kebangkitan.
Tugas generasi sebelumnya adalah membersamai, menuntun, dan menyiapkan arah. Tidak cukup sekadar mengkritik kelemahan mereka. Harus ada usaha kolektif untuk membangun lingkungan yang sehat, dakwah yang menyentuh, dan sistem yang mendukung.
Penutup
Gen Z memang menghadapi tantangan besar: krisis identitas, distraksi digital, hingga sistem sekuler yang menyesatkan. Namun, mereka juga membawa harapan, yaitu energi perubahan, keberanian, dan fitrah muda yang segar.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Gen Z mampu, tetapi apakah kita siap menyiapkan arah yang benar bagi mereka? Karena bila fitrah muda ini disinergikan dengan ideologi Islam, kebangkitan bukan sekadar kemungkinan, tetapi sebuah kepastian. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ria Rizki,
Sahabat Tinta Media
Views: 30
















