Tinta Media – Berita tentang tuntutan massa Generasi Z (Gen Z) dalam demo Maroko memuncaki daftar artikel Populer Global. Sementara itu, unjuk rasa juga terjadi di Eropa untuk memprotes pencegatan rombongan kapal Global Sumud Flotilla oleh Israel. (Kompas.com 28/09/2025)
Fenomena ini menunjukkan bahwa suara generasi muda, khususnya Gen Z, makin lantang dalam menyuarakan solidaritas untuk Palestina. Mereka menolak narasi usang yang terus digaungkan dunia internasional, two state solution (solusi dua negara) yang dianggap mampu menciptakan perdamaian antara Israel dan Palestina. Namun, bagi banyak pihak, terutama kalangan muda yang melek sejarah dan kritis terhadap imperialisme global, konsep tersebut tidak lebih dari solusi semu yang justru mempertahankan ketidakadilan.
Selama lebih dari tujuh puluh tahun sejak pertama kali diperkenalkan, gagasan two state solution tidak pernah mampu mewujudkan perdamaian dan keadilan yang dijanjikan. Bahkan, banyak kalangan menilai bahwa konsep ini tidak hanya gagal, tetapi juga berpotensi berbahaya karena justru menormalkan praktik kezaliman dan memperpanjang usia penjajahan atas Palestina.
Pertama, solusi dua negara berarti mengakui perampasan tanah umat Islam oleh penjajah. Dengan menerima keberadaan “Negara Israel”, maka dunia secara tidak langsung melegitimasi tindak kejahatan terbesar abad ini —perampasan tanah Palestina yang sah milik umat Islam. Padahal, wilayah tersebut dirampas dengan darah, kekerasan, dan pengusiran massal (Nakba) sejak tahun 1948. Maka, mengakui keberadaan entitas yang lahir dari kejahatan itu sama saja menolak kebenaran dan merestui ketidakadilan.
Kedua, konsep ini memberikan jalan bagi penjajah untuk tetap bertahan dan memperkuat cengkeramannya.
Dalam setiap perundingan, Israel selalu diuntungkan. Mereka menunda, mengingkari kesepakatan, namun terus memperluas permukiman ilegal di Tepi Barat dan memperketat blokade Gaza. Artinya, solusi dua negara bukanlah upaya damai, tetapi strategi politik untuk melanggengkan dominasi Israel dengan cara yang “legal” di mata dunia internasional. Selama konsep ini dipertahankan, Israel akan terus memperluas wilayahnya dengan dalih keamanan, sementara rakyat Palestina makin terpojok di wilayah yang makin sempit.
Ketiga, solusi dua negara menutup jalan jihad dan pembebasan sejati. Islam menegaskan bahwa tanah yang dirampas wajib dikembalikan melalui perjuangan, bukan kompromi. Dalam sejarah Islam, penjajahan tidak pernah diselesaikan dengan negosiasi yang merugikan umat, melainkan dengan penegakan kekuasaan yang adil.
Solusi dua negara justru mengalihkan umat dari jalan pembebasan yang diperintahkan oleh Allah Swt. Dengan mengedepankan diplomasi yang tunduk pada kepentingan negara-negara besar, umat Islam kehilangan arah perjuangan dan terjebak dalam wacana “perdamaian semu” yang menjauhkan dari kewajiban menegakkan keadilan sejati.
Boikot adalah alat penting dalam perjuangan solidaritas karena mampu menekan aspek ekonomi. Oleh karena itu, boikot harus dipandang sebagai bagian dari strategi bukan tujuan akhir. Kemenangan Palestina membutuhkan kepemimpinan yang memobilisasi seluruh Muslim untuk berjuang membebaskan Palestina dan menyatukan umat dalam naungan Khilafah Islamiah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Shira Tara
Sahabat Tinta Media
Views: 33
















