Tinta Media – Cendekiawan Muslim, Ustadz Ismail Yusanto (UIY), menyoroti adanya upaya sistematis menghilangkan jejak khilafah dalam sejarah Islam di Turki, dengan cara mengeliminasi istilah khilafah dan menggantinya dengan istilah imperium.
Hal itu disampaikan UIY saat menceritakan pengalamannya berkunjung ke museum Topkapi, bekas istana dan pusat pemerintahan Kekhilafahan Islam Turki Utsmaniyah, dalam program Focus to The Point: Turki di Bawah Palu Sekuler: Seberapa Parah Kondisinya? Jumat (24/10/2025) di kanal YouTube UIY Official.
“Narasi itu merupakan kumpulan atau himpunan dari istilah. Nah saya katakan bahwa ada upaya sistematis untuk menghilangkan jejak khilafah di sana itu. Terlihat dari betapa istilah-istilah itu memang istilah-istilah yang semestinya ada atau ada di dalam Islam itu disisihkan atau dieliminasi, dihilangkan,” ujarnya.
UIY lanjut menceritakan, pemandu wisata berkali-kali menyebut istilah “imperium” bukan “khilafah” kepada para wisatawan.
“Saya tulis di dalam buku itu (karyanya yang berjudul “Tapak Dakwah”), guide yang menemani kita di kunjungan yang pertama itu menjelaskan, ketika kita masuk Topkapi itu, begitu rupa dan bolak-balik dia menyebut dengan istilah imperium,” sesalnya.
UIY mengaku sempat menegur pemandu tersebut karena tak pernah menyebut istilah khilafah.
“Kalau enggak pernah dia menyebut khilafah, lalu saya sergah di situ, kan saya tulis not imperium but khilafah. Tapi dia ngotot enggak mau menggunakan istilah khilafah,” tuturnya.
Pemandu itu, sebut UIY, bahkan merupakan sarjana sejarah, namun tidak memahami konteks khilafah.
“Bayangkan! Mereka belajar sejarah tapi keluarnya seperti itu (tidak memahami khilafah). Nah dari sana saya kemudian melihat bahwa oh berarti memang ada upaya sistematis,” tegasnya.
UIY lantas menerangkan bahwa perubahan istilah itu bukan sekadar persoalan bahasa, melainkan bagian dari bentuk pengaburan sejarah Islam.
Sebab menurutnya, jejak kehidupan Islam itu, selain kita bisa lihat dari bangunan, kita juga bisa lihat dari narasi. “Dan narasi ini lebih penting dari bangunan, karena bangunan itu justru dijelaskan oleh narasi,” pungkas UIY.[] Muhammad Ikbal
Views: 63
















