Sekularisme Penyebab Sakit Mental

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Fisiknya gagah, gayanya modis, penampilan up to date, bahkan fasilitasnya lengkap. Namun siapa sangka, mentalnya justru bermasalah. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga jiwanya terganggu, dan entah apa pula penyebabnya.

Ada yang divonis depresi, mengalami gangguan kecemasan (termasuk fobia dan gangguan panik), skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan makan (seperti anoreksia dan bulimia), gangguan obsesif kompulsif (OCD), hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).

Data terbaru Kementerian Kesehatan RI (2023) mengungkap bahwa 20% penduduk Indonesia—sekitar 54 juta orang—mengalami gangguan mental emosional. Sekitar 9,8% remaja pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun hanya 8% penderita yang mendapatkan penanganan profesional. Setiap tahun, tercatat lebih dari 2.000 kasus bunuh diri. Angka-angka ini menunjukkan kesenjangan besar dalam layanan kesehatan mental, ditambah stigma sosial yang masih kuat. Karena itu, edukasi masif tentang kesehatan jiwa menjadi sangat penting.

Penyebab yang Kompleks

Jika ditelaah, faktor penyebab penyakit mental sangatlah kompleks—mulai dari sosial hingga ekonomi. Kemiskinan, tekanan finansial, pengangguran di kalangan muda, dan budaya kerja berlebihan (overwork culture) menjadi pemicu utama.

Faktor budaya juga turut berpengaruh: stigma negatif terhadap gangguan mental, minimnya edukasi kesehatan jiwa, dan masih tabunya masyarakat membicarakan masalah psikologis. Lingkungan pun berperan—polusi udara, kepadatan penduduk, dan minimnya ruang publik untuk relaksasi. Tak kalah penting, faktor teknologi seperti kecanduan media sosial, cyberbullying, dan perbandingan sosial yang tidak sehat ikut memperburuk keadaan.

Sayangnya, negara saat ini hanya fokus pada solusi pragmatis. Pemerintah sibuk mengobati pasien yang sudah terdeteksi tanpa menggali akar masalahnya. Padahal, banyak yang mengalami gangguan mental tanpa terdata atau tertangani.

Dari semua faktor tersebut, ada penyebab utama yang sering diabaikan: jauhnya masyarakat dari pemahaman akidah yang benar akibat sekularisme. Masyarakat tidak terdidik dengan pemahaman Islam secara utuh. Agama hanya dipandang sebatas ritual ibadah, bukan sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Padahal, Islam menawarkan pandangan hidup yang benar dan menenangkan jiwa.

Islam Punya Solusi

Islam menempatkan pendidikan berbasis akidah Islam di rumah, sekolah, dan seluruh jenjang pendidikan. Pendidikan seperti ini akan melahirkan generasi berkepribadian Islam—dengan pola pikir dan sikap yang islami. Mereka akan memiliki mental yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Penerapan ekonomi Islam pun membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Dengan sistem ini, masalah ekonomi dapat diselesaikan sehingga tekanan hidup berkurang. Pengangguran dapat diminimalisasi, bahkan dihilangkan.

Negara Islam juga akan mengontrol tayangan di media sosial agar menjadi sarana edukasi dan dakwah yang menguatkan akidah umat. Masyarakat akan teredukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan tanggap terhadap indikasi gangguan jiwa di sekitarnya.

Negara Islam akan selalu siap siaga menghadapi setiap masalah dengan solusi Islam. Semua kebijakan berpijak pada syariat sebagai fondasi kehidupan.

Betapa pentingnya penerapan sistem Islam secara menyeluruh untuk menuntaskan berbagai problem kehidupan. Tanpanya, mustahil persoalan, termasuk penyakit mental, dapat diselesaikan hingga tuntas.
Sudahkah kita turut memperjuangkannya? Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Sri Syahidah,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 32

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA