Pendidikan Sekuler di Persimpangan: Bunuh Diri Pelajar Kian Mengkhawatirkan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Akhir bulan lalu, dua anak di Cianjur dan Sukabumi ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri. Kasus serupa juga terjadi di Sawahlunto, Sumatera Barat, di mana dua siswa SMP memilih mengakhiri hidupnya di sekolah. Ironisnya, penyelidikan menunjukkan tidak ada unsur bullying dalam peristiwa ini. Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa bunuh diri di kalangan pelajar adalah masalah serius yang terus berulang dan tidak bisa lagi diabaikan.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami gangguan mental—menandakan masalah ini bukan lagi sekadar akibat bullying atau masalah individual, melainkan gejala sosial yang lebih serius. Kondisi ini mencerminkan adanya krisis mendasar dalam pembentukan karakter generasi muda yang terlihat dari kerapuhan kepribadian mereka.

Kerapuhan ini tumbuh dari sistem pendidikan sekuler yang meniadakan fondasi akidah. Pendidikan hari ini lebih banyak mengejar nilai dan prestasi, sementara agama hanya diajarkan secara teori, bukan sebagai pedoman hidup yang menguatkan jiwa. Ditambah, paradigma Barat yang menetapkan kedewasaan pada usia 18 tahun. Anak yang sudah balig tidak dibina untuk berpikir dan bersikap secara akil—dewasa secara akal dan iman. Akibatnya, mereka mudah goyah menghadapi masalah hidup.

Rapuhnya jiwa inilah yang memicu meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan pelajar. Pendidikan sekuler berakar kapitalisme yang diterapkan hari ini hanya melahirkan generasi yang pandai secara intelektual, tetapi miskin makna dan lemah menghadapi realitas—diperburuk oleh media sosial dan komunitas daring yang menormalisasi bunuh diri. Lalu, bagaimana Islam menawarkan solusi?

Dalam sistem pendidikan Islam, akidah menjadi dasar seluruh proses pembelajaran, baik di rumah maupun di sekolah. Tujuannya bukan sekadar mencetak anak cerdas secara intelektual saja, tetapi juga membentuk kepribadian Islam—pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan tuntunan syariat. Dengan begitu, anak mampu menghadapi ujian hidup dengan keteguhan iman dan kesadaran atas tujuan penciptaannya.

Selain itu, pendidikan Islam tidak hanya mengandalkan sekolah sebagai satu-satunya tempat pembentukan kepribadian. Keluarga juga diposisikan sebagai madrasah pertama, tempat anak mendapatkan teladan akhlak, kasih sayang, serta pembiasaan ibadah. Lingkungan masyarakat pun harus mendukung—melalui budaya amar makruf nahi mungkar, suasana sosial yang sehat, dan interaksi yang menumbuhkan ketakwaan.

Inilah keistimewaan sistem pendidikan Islam; ia tidak hanya mempersiapkan anak untuk sukses di dunia, tetapi juga menuntun mereka menuju keselamatan akhirat. Krisis mental yang menimpa generasi hari ini juga menjadi peringatan keras bahwa pendidikan tanpa ruh iman hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan arah dan harapan. Oleh karena itu, sudah saatnya arah pendidikan dikembalikan pada fitrahnya—membentuk manusia beriman, berilmu, dan berjiwa tangguh. Namun, semua itu hanya dapat terwujud di bawah naungan negara yang menerapkan syariat secara menyeluruh. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Farah Hana Shafa Dhiaulhaq,

Aktivis Remaja

Loading

Views: 37

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA