Tinta Media – Di tengah kemudahan dan kecanggihan teknologi, komunikasi justru semakin sering mengalami krisis adab. Kita hidup di zaman ketika pesan bisa dikirim dalam hitungan detik, tetapi respons yang sering kali tertunda bisa berhari-hari. Banyak yang sengaja tidak membuka pesan, mematikan tanda baca, atau menghilang tanpa kabar meski terlihat aktif di aplikasi lain. Fenomena seperti ini bukan hal kecil; ia menunjukkan menurunnya sensitivitas hati dan melemahnya penghargaan terhadap sesama.
Komunikasi adalah bagian penting dari kehidupan. Hubungan keluarga, pekerjaan, persahabatan, hingga urusan sosial, semuanya bergantung pada bagaimana kita berbicara, merespons, dan menghargai orang lain dalam berinteraksi. Ketika adab komunikasi melemah, hubungan pun ikut melemah.
Fenomena Komunikasi Tanpa Tanggung Jawab
Beberapa perilaku yang kini semakin umum ditemui antara lain:
• Pesan tidak dibalas berhari-hari tanpa penjelasan.
• Pesan penting dibiarkan menggantung, sementara aktivitas lain di media sosial tetap berjalan.
• Orang merasa bebas mengabaikan pesan tanpa memikirkan perasaan atau kebutuhan pengirim.
• Kejelasan digantikan oleh diam sehingga menimbulkan kebingungan dan prasangka.
Dampak dari perilaku ini cukup serius. Banyak hubungan retak hanya karena miskomunikasi. Banyak pekerjaan terhambat karena tidak ada jawaban. Bahkan dalam keluarga, sikap saling menunggu balasan bisa menimbulkan jarak dan ketidaknyamanan. Komunikasi yang tidak jelas menciptakan masalah-masalah kecil yang bertumpuk, yang pada akhirnya merusak kepercayaan.
Mengapa Adab Komunikasi Makin Menurun?
Beberapa alasan menurunnya adab komunikasi, antara lain:
1. Teknologi memberi ruang untuk menghindar. Kemudahan di era digital membuat seseorang bisa memilih diam tanpa harus bertatap muka. Ini menciptakan zona nyaman yang membuat orang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas komunikasi.
2. Orientasi pada kenyamanan diri. Banyak orang lebih mengutamakan suasana hati sendiri dibanding kewajiban sosial. Ketika sedang lelah atau sibuk, komunikasi dianggap beban. Padahal, balasan singkat pun sering cukup untuk memberi kepastian.
3. Minim perhatian terhadap adab. Kita mempelajari banyak hal teknis, tetapi sering lupa mempelajari adab. Padahal, ulama terdahulu sangat menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Komunikasi tanpa adab akan mudah melukai.
4. Ketidakjujuran kecil yang dianggap biasa. Tidak membuka pesan atau pura-pura belum membaca kerap dijadikan cara untuk menghindar. Padahal, kejujuran dalam komunikasi adalah kunci keharmonisan. Kebiasaan mengulur waktu tanpa alasan justru menurunkan rasa saling percaya.
Pandangan Islam: Komunikasi adalah Amanah
Islam sangat menekankan pentingnya komunikasi yang baik. Komunikasi bukan hanya teknik, tetapi bagian dari akhlak seorang muslim.
1. Menjawab adalah bentuk penghormatan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa menjawab salam adalah hak seorang muslim atas muslim lainnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya memberikan respons. Jika salam saja wajib dijawab, bagaimana dengan pesan yang membawa kebutuhan atau urusan penting?
2. Sikap menggantung dapat menyakiti hati. Allah memerintahkan kita berkata baik. Diam yang menimbulkan kebingungan atau melukai perasaan adalah bentuk ketidakbaikan. Bahkan, ucapan sederhana dan jelas dapat menjadi sedekah.
3. Kejujuran adalah prinsip utama. Dalam Islam, kejelasan dan kejujuran lebih baik daripada menghilang tanpa alasan. Sikap tidak jujur dalam komunikasi dapat membuka pintu prasangka, sesuatu yang sangat dilarang dalam ajaran agama.
4. Menjaga hubungan adalah amal kebaikan. Setiap upaya menjaga silaturahmi memiliki nilai ibadah, termasuk menjawab pesan dengan baik, memberi kabar, dan tidak membiarkan pihak lain menunggu dalam ketidakpastian.
Solusi Islam untuk Memperbaiki Adab Komunikasi
1. Berikan balasan, meski singkat. Tidak harus panjang—cukup memberi kabar bahwa pesan telah diterima. Ini menunjukkan penghargaan dan kesadaran terhadap pentingnya komunikasi.
2. Bersikap jujur jika belum bisa merespons. Mengatakan, “Saya belum sempat membalas, nanti saya lanjutkan,” jauh lebih baik daripada diam. Kejujuran kecil seperti ini membangun kepercayaan.
3. Klarifikasi agar tidak menimbulkan prasangka. Jika memang ada alasan tertentu, sampaikan. Islam mengajarkan untuk menghindari salah paham. Klarifikasi adalah cara sederhana untuk menjaga hubungan tetap sehat.
4. Niatkan komunikasi sebagai ibadah. Ketika kita berniat menjaga adab demi kebaikan, Allah memberi pahala. Komunikasi yang baik bisa menjadi ladang amal karena ia menjaga hati manusia.
5. Dahulukan adab daripada rasa malas. Adab mengajarkan kita untuk mendahulukan kepentingan orang lain, terutama dalam hal yang tidak memberatkan. Merespons pesan adalah bagian dari itu.
Teknologi memang memudahkan, tetapi adab tetap harus dijaga. Jangan sampai kemudahan di era digital membuat hubungan menjadi sulit. Ketidakjelasan dalam komunikasi terlihat sepele, tetapi efeknya bisa besar. Dalam Islam, menjaga kata-kata dan sikap adalah bagian dari menjaga hati sesama.
Ketika kita berkomunikasi dengan jujur, jelas, dan penuh adab, bukan hanya hubungan yang menjadi lebih baik, tetapi hidup kita pun menjadi lebih berkah. Jika adab dikembalikan ke tempatnya, komunikasi akan kembali menjadi jembatan yang saling menguatkan, bukan yang memutus dan meninggalkan dalam penantian. Wallahualam bissawab.
Oleh: Eka Sulistya,
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 38
















