Tinta Media – Siapa yang tidak mengenal Medy Renaldy, seorang content creator yang mengoleksi dan mengulas mainan-mainan, terutama seri langka dan terbatas. Ia memiliki banyak pengikut di berbagai platform media sosial, sebagian besar berasal dari generasi Z dan generasi Alpha. Tak disangka, hobi yang semula hanya menjadi kesenangan kini menjadi sumber rezekinya.
Banyak content creator dengan konsep yang sama seperti Medy Renaldy. Mereka membahas, mengulas, juga mendokumentasikan mainan, action figure, die-cast, dan sebagainya sebagai ide konten. Makin banyak pengikut dan penonton, makin besar juga uang yang didapat. Bahkan, aktivitas bermain gim online pun dijadikannya ide konten yang mampu menarik lebih banyak pengikut dan penonton.
Ini menunjukkan angka kidulting yang cukup tinggi. Apa itu kidulting? Kidulting merupakan istilah untuk sebuah gaya hidup orang dewasa yang memiliki ketertarikan terhadap aktivitas yang fitrahnya ditujukan untuk anak-anak, seperti mengoleksi mainan, bermain gim, dan sebagainya. Tingginya angka kidulting tidak hanya tampak dari kehadiran para content creator tersebut. Jumlah penonton dan pengikut dari kalangan milenial serta generasi Z juga menjadi bukti bahwa makin banyak orang dewasa yang memiliki ketertarikan terhadap hal-hal yang semula diperuntukkan bagi anak-anak. (alazharpeduli.co.id, 30/10/2025)
Kidulting ini dijadikan pelarian dari kepenatan dalam menghadapi masalah hidup. Kidulting menjadi salah satu obat stres, bahkan bagi sebagian orang aktivitas ini dianggap sebagai titik yang membahagiakan. Menurut beberapa psikolog, kidulting bisa menjadi bentuk terapi self care karena dapat meredakan stres, menstimulasi kreativitas, dan menjaga keseimbangan pikiran dengan cara menyenangkan. (rri.co.id, 12/10/2025)
Di era digital ini, makin mempermudah akses untuk mendukung aktivitas kidulting. Tidak hanya bagi perusahaan-perusahaan produsen mainan, namun juga bagi developer gim dan marketplace global. Bagaimana sesungguhnya kidulting ini menjadi jalan pengharapan menuju kebahagiaan? Bagaimana Islam memandang fenomena kidulting?
Menurut Circana, perusahaan riset pasar dan teknologi asal Amerika Serikat, terjadi peningkatan penjualan yang cukup tinggi di industri mainan. Menariknya, para pembeli didominasi oleh orang berusia 18 tahun ke atas, sedangkan pembeli dari kalangan anak-anak justru mengalami penurunan drastis sejak tahun 2021. Circana menjelaskan bahwa fenomena ini dilatarbelakangi oleh faktor nostalgia, hobi, kolaborasi antarmerek, serta budaya fandom atau penggemar.
Kidulting menjadi aktivitas menyenangkan di tengah segala kesibukan dan tuntutan hidup, seperti beban kerja, tugas kuliah, dan sebagainya. Kidulting dianggap pelarian praktis dari stres dan masalah hidup. Seakan bernostalgia ke masa kanak-kanak, ketika beban hidup belum seberat saat dewasa. Bahkan, beberapa psikolog sepakat bahwa jika dilakukan dalam batas wajar, kidulting justru dapat membantu meredakan stres.
Namun, Islam memandang fenomena kidulting ini dengan keprihatinan. Kidulting mencerminkan sisi kelam sistem kapitalis yang memaknai kebahagiaan sebatas pada hal-hal materi. Para kidult rela merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan setiap seri mainan favorit yang mahal dan terbatas. Melihat peluang ini, para kapitalis—seperti perusahaan mainan dan pengembang gim—memanfaatkannya sebagai ladang bisnis. Didukung oleh kemajuan teknologi, transaksi antara _kidult_ dan produsen kini semakin mudah, bahkan berkembang menjadi ide konten bagi para vlogger.
Padahal sebagai Muslim, esensi kebahagian utama adalah keridaan Allah. Rida Allah memberikan kebahagiaan dan ketenangan yang sifatnya abadi. Sementara itu, kidulting hanyalah kebahagiaan semu, kesenangan yang bersifat singkat dan sesaat, bahkan hanya dimanfaatkan jadi ladang cuan bagi kapitalis. Islam memberikan jalan pengharapan kebahagiaan yang lebih konkret dengan beribadah kepada Allah dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah.
Islam tidak melarang manusia memiliki hobi, karena secara fitrah, hobi merupakan salah satu kebutuhan naluriah manusia. Termasuk ketika kidulting dijadikan sebagai jalan untuk mencari nafkah—selama tidak melanggar aturan Allah, hal itu tetap diperbolehkan. Namun, ada hal yang perlu digarisbawahi dan diwaspadai, yaitu jangan sampai hobi membuat kita terlena hingga melalaikan kewajiban yang utama. Sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Hadid ayat 20, bahwa kesenangan hidup dunia hanyalah permainan dan senda gurau yang dapat melalaikan dan memperdaya, sehingga setiap Muslim wajib berhati-hati dalam setiap aktivitasnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Bunda Annisa,
Sahabat Tinta Media
Views: 46
















