Generasi Muda Takut Menikah, Buah Bobroknya Ekonomi Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Generasi Z di era digital saat ini banyak yang memilih menunda pernikahan, bahkan tidak sedikit pula yang menghindarinya. Sikap ini kemudian menjadi tren yang semakin menguat seiring perubahan sosial dan ekonomi. Fenomena tersebut bukan semata-mata lahir dari keinginan pribadi, melainkan hasil dari tekanan yang kompleks, seperti ekspektasi keluarga terhadap pernikahan, luka masa lalu yang memicu trauma, pengaruh media sosial, serta tantangan finansial yang tak kunjung mereda (Medcom.id, 30/11/2025).

Banyak anak muda menempatkan kestabilan ekonomi sebagai prioritas utama dibandingkan menyegerakan pernikahan dan membangun keluarga. Stabilitas finansial di usia muda dianggap sebagai bentuk eksistensi dan upaya bertahan di tengah gempuran kapitalisme dalam berbagai aspek kehidupan. Hidup menjadi semakin sulit karena harga kebutuhan yang terus melonjak. Kondisi ini membuat generasi muda ragu melangkah menuju pernikahan. Ditambah lagi, sebagian memiliki ambisi menggelar pesta pernikahan mewah, sementara penghasilan terbatas. Akibatnya, mereka lebih memilih menunda menikah dan fokus pada pekerjaan.

Tantangan finansial dalam sistem kapitalisme, apabila tidak dibarengi dengan keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah Swt., akan melahirkan ketakutan berkepanjangan, termasuk takut menikah. Banyak yang khawatir setelah menikah kondisi ekonomi akan semakin berat karena kebutuhan hidup bertambah. Apalagi ketika memiliki anak, biaya hidup dianggap semakin membengkak. Kekhawatiran tidak mampu memberikan kehidupan terbaik bagi istri dan anak membuat sebagian orang memilih menunda menikah, bahkan enggan menikah sama sekali karena merasa hidup sendiri saja sudah sulit.

Ketakutan berlebihan terhadap rezeki merupakan buah dari diterapkannya sistem buatan manusia, yakni kapitalisme sekuler. Sistem ini tidak hanya melahirkan aturan yang tidak memanusiakan manusia, tetapi juga melemahkan akidah Islam, termasuk keyakinan tentang rezeki. Seorang muslim seharusnya tidak diliputi kecemasan berlebihan terhadap masa depan, termasuk persoalan rezeki setelah menikah. Memang benar bahwa menikah dan memiliki anak akan menambah tanggungan, namun setiap jiwa telah Allah tetapkan rezekinya masing-masing. Keyakinan ini harus tertanam kuat dalam diri kaum muslim. Allah Swt. Maha Pemurah, dan tugas manusia adalah berikhtiar serta memohon kepada-Nya. Adapun hasil dan jumlah rezeki sepenuhnya merupakan kehendak Allah, bukan wilayah manusia.

Hidup dalam sistem kapitalisme juga menyulitkan pemenuhan kebutuhan pokok karena harga-harga terus melambung. Memiliki hunian menjadi impian yang semakin jauh karena harga rumah kian mahal. Lapangan pekerjaan pun terbatas dengan persaingan yang ketat dan gaji yang sering kali tidak layak. Buah lain dari kapitalisme sekuler adalah kebebasan tanpa batas, termasuk dalam pergaulan dan kepemilikan.

Dalam realitas pergaulan saat ini, banyak anak muda lebih memilih berpacaran daripada menyegerakan pernikahan. Pacaran dianggap lebih mudah dan tidak membutuhkan biaya besar, sementara naluri kasih sayang tetap dapat tersalurkan tanpa ikatan pernikahan. Budaya ini sangat berbahaya karena membuka pintu kemaksiatan. Dari zina mata dan perasaan, dapat berujung pada zina yang lebih besar. Pacaran sejatinya merupakan pintu awal menuju zina.

Selain pacaran, kini muncul pula narasi marriage is scary yang tak kalah berbahaya. Hubungan bebas meski telah memiliki pasangan yang sah juga termasuk perbuatan zina. Dalam Islam, zina bagi orang yang sudah menikah memiliki hukuman yang lebih berat. Namun, karena hukum Islam belum diterapkan, budaya marriage is scary justru semakin masif di tengah masyarakat. Narasi ini berdampak secara psikologis, membuat generasi muda semakin takut menikah. Budaya tersebut merupakan buah dari sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pelakunya sering kali tidak memikirkan dampak jangka panjang, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun generasi mendatang. Akibatnya, kepercayaan terhadap pernikahan sebagai ikatan suci semakin luntur, dan hidup bebas tanpa komitmen dianggap lebih menarik.

Dalam sistem kapitalisme sekuler, kepemilikan harta tidak diatur secara adil antara kepemilikan pribadi dan kepemilikan umum (milkiyah ‘ammah). Semua orang bebas bersaing tanpa batas, sehingga yang kuat semakin berkuasa, sementara yang lemah semakin tersingkir. Sistem ini menyerupai hukum rimba. Akibatnya, manusia sulit hidup sesuai fitrah dan keadilan. Sistem kehidupan akan benar-benar memanusiakan manusia apabila aturan yang diterapkan bersumber dari Allah Swt., yakni sistem Islam. Wallahualam bissawab.

Oleh: Rina Ummu Syahid
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 38

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA