Tinta Media – Seorang pengusaha berorientasi pada keuntungan bagi diri sendiri dan perusahaannya. Selama bisnisnya maju dan berjaya, kerugian pihak lain kerap diabaikan. Pola pikir seperti ini sangat berbahaya apabila dimiliki oleh pemimpin negara, yakni ketika kebijakan diambil semata-mata berdasarkan hitung-hitungan untung rugi tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang harus ditanggung rakyat.
Dalam Islam, pemimpin berpikir dan bekerja demi kemaslahatan rakyat, bukan untuk keuntungan segelintir orang. Sebaliknya, pemimpin “rasa pengusaha” justru banyak lahir dari sistem kapitalisme, sistem yang menjadikan keuntungan materi sebagai ukuran utama, sementara kepentingan rakyat berada di urutan kesekian.
Fakta kerusakan lingkungan seharusnya menjadi pelajaran. Penebangan hutan besar-besaran untuk tambang dan industri telah berulang kali memakan korban melalui banjir bandang dan tanah longsor. Namun, pembukaan lahan baru, seperti untuk perkebunan kelapa sawit di Papua, tetap dipaksakan.
Padahal, hutan berfungsi sebagai paru-paru bumi. Akar-akar pepohonan menahan tanah dan menyerap air hujan sehingga mencegah banjir dan longsor. Fungsi ekologis ini jelas tidak dapat digantikan oleh perkebunan monokultur. Pemimpin semestinya bijak dalam mengelola sumber daya alam yang sejatinya milik rakyat. Eksploitasi berlebihan hanya akan mengundang bencana, sementara hasilnya dinikmati oligarki dan pejabat korup, sedangkan rakyat menanggung dampaknya.
Seorang pemimpin negara seharusnya tidak bermental pengusaha, melainkan pelindung dan pengayom rakyat. Ia hanya takut kepada Allah Swt., hidup sederhana, tidak serakah terhadap harta maupun kekuasaan. Pemimpin yang amanah memandang sumber daya alam sebagai milik rakyat yang harus dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
Kapitalisme melahirkan pemimpin yang lebih mementingkan keuntungan ketimbang kemanusiaan. Bantuan kemanusiaan dari negara lain dapat ditolak, sementara utang luar negeri berbasis riba yang membebani generasi justru diterima. Rakyat dipersulit dengan pajak yang memberatkan. Dalam pandangan Islam, pemimpin seperti ini jelas bukan pemimpin yang amanah, meski praktiknya jamak ditemui dalam sistem kapitalisme yang mengukur segalanya dengan materi.
Sudah saatnya menyingkirkan kepemimpinan bermental pengusaha dengan mengganti sistem kapitalisme menuju sistem Islam, yakni Khilafah. Sejarah mencatat banyak pemimpin dalam sistem Islam yang hidup sederhana dan amanah. Kepemimpinan yang benar-benar berpikir dan bekerja untuk rakyat hanya terwujud dalam penerapan Islam secara kafah, sehingga rakyat merasa aman dan sejahtera di negeri yang kaya akan sumber daya alam. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 57
















