Tinta Media – Saat berbicara tidak membawa kebaikan dan hanya menimbulkan masalah, diam adalah emas. Seperti halnya saat juri dan MC yang merasa benar serta menyalahkan peserta yang memiliki jawaban benar mendapat hujatan dari netizen dan kariernya juga terancam. Sementara itu, salah satu MC pria yang memilih diam selamat dari hujatan, bahkan mendapat pujian dari masyarakat karena memilih diam.
Kita juga melihat para pemimpin negeri ini banyak bicara dengan mengobral janji-janji manis, tetapi tidak untuk ditepati. Diam lebih baik daripada banyak bicara, tetapi hanya menyakiti hati rakyat. Seorang pemimpin tidak boleh asal bicara, melainkan harus memikirkan terlebih dahulu sebelum menyampaikan gagasannya karena banyak orang mendengarnya. Namun, sangat disayangkan jika yang disampaikan justru kebohongan dan sesuatu yang menyakiti hati rakyat. Pemimpin tidak perlu banyak bicara karena setiap perkataan harus mengandung kebenaran yang dibutuhkan oleh rakyat, bukan hanya menguntungkan pejabat dengan berbagai dalih pembenaran.
Janji menciptakan 19 juta lapangan pekerjaan, tetapi faktanya hanya membuat proyek yang menguntungkan para pejabat dan orang terdekat. Katanya akan mengejar koruptor sampai Antartika, tetapi faktanya justru memberi lahan aman bagi pejabat untuk mencuri uang rakyat dengan dalih anggaran untuk rakyat, sehingga mereka tidak bisa dijerat oleh hukum yang dibuat oleh mereka sendiri. Mereka hanya pandai bicara, tetapi tidak mendengar dan memikirkan suara rakyat. Mereka hanya suka membuat klarifikasi dan pembenaran atas apa yang sudah dilakukan. Merasa hebat dan paling benar sehingga menolak kritik dan mengabaikan suara rakyat.
Rakyat tidak butuh kata-kata, tetapi tindakan nyata untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat. Rakyat tidak butuh janji, tetapi solusi yang bisa membuat negeri ini keluar dari krisis. Rakyat ingin hidup makmur dan sejahtera di negeri yang indah bagaikan penggalan tanah surga serta memiliki sumber daya yang melimpah.
Jika tidak mampu berbicara yang benar, diam itu lebih baik. Jika mau bicara, pikirkan terlebih dahulu sehingga apa yang disampaikan merupakan hasil dari proses pemikiran cemerlang yang ditunggu semua orang. Pemimpin yang asal bunyi biasanya menghasilkan perkataan yang tidak konsisten. Bahkan, dia sendiri pun tidak memahami apa yang disampaikan. Dia menuduh orang yang menunjukkan kesalahannya sebagai antek-antek. Namun, dia tidak menyadari bahwa dirinya sendiri yang layak disebut antek-antek asing.
Sejak keputusannya bergabung dengan BoP, dia ada dalam kendali Amerika, Donald Trump, dan juga Israel. Sehingga saat ada TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian ditembak Israel, dia tidak marah dan tidak mengecam Israel. Saat ada warga Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla dan membawa bantuan makanan serta obat-obatan untuk warga sipil di Gaza, Palestina, ditangkap Israel, dia juga tidak marah seperti kemarahannya yang ditujukan kepada warganya sendiri yang mengkritik kebijakannya.
Pemimpin yang baik harus mau mendengar suara rakyat dan membela kepentingan mereka, bukan membela kepentingan asing dan oligarki. Tidak perlu banyak bicara, tetapi setiap kata yang terucap adalah apa yang dibutuhkan oleh rakyat. Pemimpin berwibawa tidak banyak bicara, tetapi kata-kata yang terucap sangat bernilai ibarat emas.[]
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media Sidoarjo
![]()
Views: 25
















