Krisis Moral dalam Dunia Pendidikan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Potret buram dunia pendidikan hari ini sangat memprihatinkan, bahkan sungguh di luar nalar ketika terjadi pengeroyokan seorang guru oleh muridnya. Di satu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tidak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

 

Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra, terlibat adu jotos dengan siswanya. Peristiwa tersebut terekam dalam video berdurasi 58 detik yang beredar luas. Tidak berhenti di situ, Agus Saputra melaporkan peristiwa adu jotos tersebut ke Polda Jambi sebagai tindak penganiayaan.

 

“Kita sudah meminta penjelasan dari kepala sekolah. Hari ini telah dilakukan mediasi duduk bersama Forum Komunikasi Kecamatan, yang dihadiri camat, lurah, kapolsek, para siswa, serta majelis guru,” kata Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Harmonis (DetikSumbagsel, 14/01/2026).

 

Inilah buah dari sistem pendidikan sekuler kapitalisme yang menjauhkan aturan Islam dari kehidupan. Dalam Islam, seorang siswa dituntut untuk takzim dan hormat kepada gurunya. Sebaliknya, guru pun diwajibkan mendidik dengan penuh kasih sayang, bukan dengan hinaan.

 

Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik personal atau luapan emosi sesaat. Ini merupakan problem serius dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru dan murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi hubungan penuh ketegangan, bahkan kekerasan.

 

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak individu yang pintar, tetapi membentuk manusia yang beradab dan berkepribadian mulia. Rasulullah saw. bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

 

Selain itu, negara juga wajib memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan semata-mata kompetensi akademis yang berorientasi pasar.

 

Dengan demikian, rusaknya moral generasi saat ini merupakan akibat dari gagalnya sistem yang mengatur arah pendidikan di negeri ini, yakni sekular kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Maka, tidak mengherankan jika di kalangan remaja marak terjadi kekerasan, tawuran, dan kemaksiatan. Semua itu merupakan buah busuk dari sekularisme.

 

Oleh karena itu, solusi untuk menyelamatkan generasi dari berbagai tindak kezaliman dan lingkaran kemaksiatan adalah Islam. Islam mencetak generasi yang beradab dan berakhlak mulia. Akidah Islam ditanamkan dalam setiap kurikulum sejak dini hingga balig, sehingga dalam diri generasi terbentuk benteng yang mampu mencegah perbuatan negatif serta membedakan antara yang hak dan yang batil. Dengan demikian, akan tercipta generasi unggul yang cerdas berpikir dan beradab mulia. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Ummu Zaki,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 31

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA