IJM: Bukan MBG Tetapi Makan Bergizi dengan Biaya Rakyat!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
IJM: Bukan MBG Tetapi Makan Bergizi dengan Biaya Rakyat!

Tinta Media – Menyorot problem Makan Bergizi Gratis (MBG) Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana mengatakan, bukan MBG tetapi makan bergizi dengan biaya rakyat. “Bukan makan bergizi gratis sebenarnya, tetapi makan bergizi dibayar dengan biaya rakyat. Gitulah kira-kira, itu jauh lebih tepat,” ucapnya dalam video yang bertajuk “Buah Simalakama Itu Bisa Jadi MBG, Coba Catat!!!” di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Selasa (21/4/2026).

Pasalnya, menurut Agung, memang ada problem gizi pada masyarakat Indonesia, tetapi juga ada problem fiskal yang mengharuskan mengambil prioritas. “Problem stunting di Indonesia itu sangat banyak, sangat besar. Tentu ini akan mempengaruhi generasi Indonesia di masa yang akan datang. Karena apa? Gizi buruk di masa golden times (usia anak-anak) tentu akan berpengaruh untuk masa depan,” jelasnya.

Oleh karena itu secara filosofi, ucapnya, program MBG itu sah-sah saja mengingat ada 82,9 juta jiwa mendapat intervensi kesehatan melalui MBG yang diharapkan akan mengalami akselerasi kognitif sehingga kapasitas SDM meningkat.

“Belum lagi yang diharapkan itu bisa menggerakkan ekonomi. Ekonomi gimana? Kan nanti telur dari peternak, sayur-sayuran dari petani terserap ke MBG sehingga diharapkan perputaran ekonomi lokal itu berkembang. Itu kan mimpi awal ingin membangun MBG,” bebernya.

Sayangnya, kata Agung, kondisi fiskal negeri ini sedang tidak baik-baik saja. ”Awal mula di APBN 2025 itu dianggarkan 71 triliun. Tapi estimasi dari INDEF kemungkinan bisa tembus di 121 triliun sampai 215 triliun. Jadi lompatannya tinggi banget,” tukasnya.

Ia melanjutkan, belum lagi kenaikan harga-harga pangan imbas dari konflik di Selat Hormuz yang kesemuanya itu menyebabkan pembengkakan biaya MBG hingga lebih dari 500 triliun. Ia menduga pembengkakan biaya ini akan disolusi dengan menambah utang yang pada akhirnya rakyatlah yang harus membayar utang itu.

Problem ini, terang Agung, memunculkan banyak perdebatan apakah sebaiknya MBG ini layak diteruskan atau diambil prioritas lain. ”Kenapa perdebatan itu terjadi? Ya karena ruang fiskal kita sangat mepet. kita ingin memberikan gizi pada anak Indonesia optimal tapi duitnya enggak ada. Itulah problematik yang terjadi di tengah-tengah kita hari ini,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA