Layakkah MBG Dipertahankan untuk Generasi Emas?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Korban keracunan MBG sepanjang Januari 2026 tembus hampir 2.000 pelajar. Namun, sepertinya tidak ada tindakan keras dari aparat. Sementara itu, kakek penjual es gabus ditindak keras karena diduga es gabusnya beracun, meskipun belum ada bukti dan tidak ada korban yang keracunan setelah mengonsumsi es gabusnya. Negeri ini, aparatnya keras pada yang lemah, tetapi tidak berdaya saat berhubungan dengan penguasa. Seharusnya pemerintah tidak menutup mata atas banyaknya kejadian keracunan setelah mengonsumsi MBG. Rakyat menjadi korban atas ambisi penguasa untuk menunjukkan bahwa program unggulannya masih berjalan dengan baik.

 

Seharusnya pemerintah berintrospeksi dan mengevaluasi, bukan memaksakan programnya seolah-olah baik-baik saja dan bermanfaat bagi rakyat. Faktanya, MBG hanya bermanfaat bagi pejabat dengan mengorbankan rakyat. Rakyat seharusnya menjadi prioritas utama, bukan ambisi politik penguasa. Rakyat seharusnya didengar, bukan dianggap ancaman.

 

Perlu diketahui bahwa anggaran MBG bersumber dari anggaran pendidikan yang mencapai Rp223 triliun atau sekitar 29% dari total anggaran pendidikan Rp769,1 triliun. Dengan dana yang begitu besar terserap MBG, pendanaan untuk operasional pendidikan menjadi berkurang. Tentunya hal ini berpotensi mengurangi ruang fiskal untuk pemenuhan hak pendidikan berkualitas. Padahal, persoalan ketimpangan akses pendidikan dan kesejahteraan guru masih belum memadai hingga saat ini.

 

Kemendikdasmen membutuhkan sekitar Rp183,4 triliun untuk menggratiskan sekolah dasar dan menengah pertama. Jika dana MBG dialihkan untuk penyelenggaraan pendidikan, maka sekolah dasar negeri maupun swasta dapat digratiskan. Kondisi guru honorer yang masih menerima gaji sangat rendah, hanya sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per bulan, juga terdampak pemotongan akibat efisiensi anggaran pendidikan yang dialihkan untuk MBG. Tujuan MBG yang mulia untuk mewujudkan generasi emas dengan memberi makanan bergizi gratis masih jauh dari harapan.

 

Banyak masyarakat mempertanyakan program MBG, apakah masih perlu dipertahankan dengan mempertimbangkan beberapa hal: banyaknya kasus keracunan MBG di lapangan; dana operasional pendidikan yang diperlukan untuk membangun pendidikan berkualitas banyak terserap untuk program MBG yang hasilnya jauh dari harapan; serta dugaan kebocoran dalam penggunaan anggaran MBG. Karena itu, ada saran dari masyarakat agar dana MBG diberikan kepada orang tua siswa agar dapat menyediakan makanan bergizi untuk anaknya. Orang tua tidak mungkin mengambil keuntungan jika itu untuk anaknya. Dengan demikian, makanan terbaik, bergizi, dan sesuai selera dapat dinikmati anak-anak serta tidak ada yang mubazir. Anggaran MBG yang besar alangkah baiknya digunakan untuk menjamin kesejahteraan guru agar generasi emas dapat terwujud sesuai harapan. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Mochamad Efendi,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 33

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA