Tinta Media – MBG merupakan program unggulan pemerintah, tetapi bukan berarti harus dipaksakan tetap berjalan jika hasilnya tidak sesuai harapan. Dalam kondisi tertentu, apabila memang MBG harus dihentikan, maka jangan dipaksakan untuk tetap ada. Meskipun MBG adalah program unggulan pemerintah, pelaksanaannya tetap harus mendengar dan memperhatikan aspirasi masyarakat.
MBG jangan dipaksakan berjalan saat umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Memberikan makanan pada siang hari berarti mendorong anak untuk tidak berpuasa. Padahal, kita ketahui bersama bahwa puasa Ramadan hukumnya wajib. Seharusnya MBG dihentikan sementara selama bulan Ramadan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.
Lalu, bagaimana dengan anggaran yang sudah terlanjur dikeluarkan? Tentunya anggaran tersebut dapat dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Daripada memaksakan MBG tetap berjalan sehingga mendorong anak meninggalkan kewajiban berpuasa, lebih baik anggaran diberikan dalam bentuk uang untuk memenuhi kebutuhan anak.
MBG merupakan program yang gagal dan rawan disalahgunakan. Anggarannya besar, tetapi banyak masalah di lapangan. MBG seolah dipaksakan agar anggaran besar tersebut terus dapat dinikmati dan dimainkan angka-angkanya untuk pembiayaan program pemerintah ini. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pada Januari 2026 anggaran MBG tercatat sekitar Rp855 miliar per hari, kemudian meningkat menjadi Rp1,2 triliun per hari pada Mei 2026. Anggaran yang fantastis tersebut tidak sebanding dengan banyaknya kasus di lapangan yang mempertanyakan kelayakan makanan yang diklaim bergizi dan sangat dibutuhkan anak agar dapat belajar secara maksimal di sekolah.
Banyak kasus di lapangan, mulai dari keracunan massal hingga menu yang tidak sesuai harapan. Bahkan, saat libur sekolah pun program ini masih dipaksakan untuk tetap berjalan. Banyak cuitan di media sosial dari masyarakat yang kecewa terhadap pelaksanaan MBG. Namun, suara mereka tidak ditanggapi dan dianggap angin lalu. Ungkapan kekecewaan justru dianggap sebagai nyinyiran dari pihak yang tidak menyukai MBG.
Pemerintah seharusnya melakukan introspeksi diri dan evaluasi atas pelaksanaan MBG yang menuai banyak kecaman, bukan malah memaksakan agar anggaran terus digunakan meskipun hasilnya tidak maksimal. Banyak pihak menyarankan agar dana besar MBG dialokasikan untuk biaya pendidikan atau diberikan dalam bentuk uang kepada orang tua yang kurang mampu, sehingga mereka dapat menyediakan makanan bergizi sesuai dengan kebutuhan dan selera anak. Bukan menu yang dipaksakan, yang pada akhirnya banyak tidak dimakan karena tidak sesuai selera.
Semua program tidak akan berjalan maksimal dalam sistem kapitalisme karena setiap orang selalu menghitung untung dan rugi. Mulai dari proses penganggaran, pencairan dari atas hingga pelaksanaan program, semuanya berorientasi pada keuntungan. Mereka berprinsip bahwa tidak ada makan siang gratis. Semua yang dilakukan harus menguntungkan, padahal ini merupakan program untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah agar mereka dapat belajar secara maksimal dengan asupan gizi yang tercukupi. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 41
















