Pemimpin Hebat Tidak Antikritik

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pemimpin adalah manusia biasa yang bisa salah dalam memutuskan sesuatu. Jadi, pemimpin yang hebat bukan berarti tidak pernah salah, tetapi dia mau introspeksi diri dengan mendengarkan dan mempertimbangkan kritik dan masukan dari rakyat, agar bisa menjadi lebih baik dalam kepemimpinannya.

Pemimpin hebat tidak antikritik. Mereka tidak menganggap orang-orang yang berani mengkritisi program unggulan yang jauh dari harapan sebagai musuh. Harusnya mereka paham bahwa kritik dan saran merupakan bukti kecintaan rakyat pada pemimpinnya agar mau memperbaiki dan tidak jatuh dalam kehancuran yang menyakitkan.

Khalifah yang terkenal dan berwibawa, Umar bin Khattab RA sangat menyukai kritik. Beliau terbuka terhadap masukan rakyatnya. Beliau bahkan pernah berucap, “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibku kepadaku.”

Umar pernah menegur seorang Badui yang menyela khutbahnya dan mengkritik kebijakan pembagian kain. Setelah orang Badui tersebut menjelaskan, beliau menerima kritik tersebut dan merevisi keputusannya.

Umar sangat menghargai rakyat kecil. Saat dikritik oleh seorang warga fakir, beliau langsung merespon dan memperbaiki kesalahannya dengan memanggul sendiri bantuan gandum.

Umar juga  sering mendengarkan kritik secara langsung di depan umum, saat berada di keramaian, atau di atas mimbar. Sikap Umar ini mencerminkan prinsip keadilan dan tanggung jawab besar seorang pemimpin yang sadar bahwa dirinya tidak luput dari kesalahan.

Pemimpin saat ini harusnya menjadikan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang sangat suka dikritik sebagai teladan jika ingin menjadi pemimpin hebat yang dicintai rakyat. Beliau mau mendengarkan dan memikirkan suara rakyat, dan tidak segan merevisi keputusan yang dianggap salah. 

Faktanya, sangat sulit menemukan pemimpin ideal seperti Umar dalam sistem sekuler yang  meninggalkan Islam saat berpolitik.  Kekuasaan dijadikan tujuan, bukan untuk mengurusi rakyat, tetapi kesempatan untuk memperkaya diri. Segala cara dilakukan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Janji manis ditebar untuk mendapatkan simpati dan dukungan, tetapi rakyat ditinggalkan dan tidak didengar saat kekuasaan sudah dalam genggaman.

Banyak program atau keputusan diambil hanya mengikuti ego dan keinginan penguasa. Para pemimpin saat ini merasa paling hebat dan benar sehingga tidak mau mendengar dan memikirkan suara rakyat.

Sebagai contoh, program unggulan MBG yang menghabiskan anggaran besar, ternyata pelaksanaannya jauh dari apa yang diharapkan. Ketua BEM UGM menyatakan bahwa MBG adalah proyek yang menguntungkan pejabat, bukan rakyat. Dia bahkan menyebut bahwa MBG adalah laling berkedok gizi.

Banyak pula masyarakat, mulai dari guru, orang tua, bahkan siswa penerima MBG yang kecewa dengan program ini. Banyak postingan mereka yang menunjukkan bahwa menu MBG tidak memenuhi standart gizi, bahkan tidak layak untuk dimakan. 

Banyak pengamat dari kalangan akademisi juga menyoroti tentang program yang baik hanya dalam tataran teori, tapi praktiknya jauh dari harapan.

Namun, semua kritikan dan fakta atas kegagalan program dianggap angin lalu yang tidak perlu didengar dan ditindaklanjuti. Bahkan, puluhan ribu siswa keracunan setelah mengonsumsi MBG tidak dianggap serius.

Banyak pula program lain yang seolah asal-asalan, hanya  mengikuti ambisi penguasa, sehingga bisa dipastikan akan gagal dalam pelaksanaan. Padahal, anggarannya sangat besar. Harusnya, dana tersebut bisa digunakan untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat.

Begitu pula keputusan untuk bergabung dengan BoP (_Board of Peace_) mendengar aspirasi rakyat. Padahal, keputusan seorang pemimpin membawa nama rakyat. Anggaran negara untuk membayar iuran untuk menjadi anggota permanen sekitar US$1 miliar atau setara dengan Rp16,7 triliun hingga Rp17 triliun juga milik rakyat.

Pemimpin kepala batu yang tidak mau mendengarkan dan memikirkan kritikan akan hancur dan berakhir sangat menyakitkan di dunia, terlebih nanti di akhirat akan mendapatkan azab yang sangat pedih kerena sudah menzalimi rakyat. Harusnya dia berterima kasih pada rakyat yang masih peduli dengan menunjukkan kesalahannya agar mau memperbaiki, sehingga bisa selamat di dunia dan akhirat.

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media Sidoarjo

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA