Tinta Media – Dewan Perencanaan Tinggi Administrasi Sipil, sebuah departemen yang dinaungi Kementerian Pertahanan Israel, menyetujui pembangunan 2.162 unit rumah permukiman di Tepi Barat. Israel merebut Tepi Barat pada Perang 1967 dan kemudian mendirikan permukiman di sana, sebuah langkah yang tidak diakui oleh komunitas internasional.
Lebih dari 700.000 pemukim Israel tinggal di permukiman di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, yang bertentangan dengan hukum internasional. Sebanyak 3,3 juta warga Palestina juga menghuni area yang sama, menurut laporan PBB pada 2025.
Total delapan negara Muslim mengecam aksi pemukim Israel ini, yaitu Indonesia, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab. Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa tindakan pengibaran bendera Israel di Masjid Al-Aqsa merupakan langkah sistematis untuk mengubah karakter historis bangunan tersebut.
Para menteri luar negeri dari delapan negara tersebut menegaskan penolakannya terhadap upaya mengubah status historis dan hukum di Yerusalem serta situs-situs suci Islam dan Kristen. Mereka juga menegaskan bahwa seluruh kawasan Masjid Al-Aqsa/Al-Haram Al-Sharif yang mencakup 144 dunam merupakan tempat ibadah khusus bagi umat Islam.
Israel terus melancarkan aksinya di Palestina. Meskipun berbagai kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan, serangan terhadap warga Palestina masih terus terjadi. Anak-anak, perempuan, dan warga sipil menjadi korban kekerasan yang berkepanjangan. Tragedi kemanusiaan ini menghadirkan luka mendalam bagi rakyat Palestina yang hingga kini masih berjuang mempertahankan tanah dan kehidupannya.
Warga Gaza terus menghadapi tekanan yang semakin berat. Wilayah mereka kian menyempit akibat berbagai kebijakan dan operasi militer yang dilakukan Israel. Kondisi ini membuat masyarakat Gaza berada dalam situasi yang serba sulit, baik dari sisi keamanan, ekonomi, maupun akses terhadap kebutuhan dasar kehidupan.
Masjid Al-Aqsa, yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam sebagai kiblat pertama, juga menjadi simbol penderitaan yang dirasakan kaum Muslim di seluruh dunia. Berbagai pembatasan dan pengawasan yang terjadi di kawasan tersebut dipandang sebagai bentuk ketidakadilan yang menyakiti perasaan umat Islam.
Karena itu, banyak kalangan menilai bahwa pembelaan terhadap Palestina bukan hanya persoalan politik, tetapi juga bagian dari tanggung jawab keimanan. Namun demikian, hingga saat ini umat Islam belum mampu menunjukkan kekuatan persatuan yang signifikan, padahal jumlah kaum Muslim di dunia mencapai lebih dari dua miliar jiwa. Kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk membangun solidaritas yang lebih kuat demi membantu rakyat Palestina dan menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsa.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari No. 13 dan Muslim No. 45)
Salah satu faktor yang membuat Zionis Israel tetap kuat adalah dukungan negara-negara besar dunia, terutama Amerika Serikat. Dominasi ideologi kapitalisme telah memberikan pengaruh besar dalam percaturan politik global, termasuk terhadap dunia Islam yang saat ini terpecah ke dalam banyak negara dan kepentingan.
Padahal, Allah Swt. telah memberikan kedudukan mulia kepada umat Islam. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 110:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Kemuliaan tersebut hanya dapat diraih apabila umat Islam menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.
Sejak Rasulullah saw. hijrah ke Madinah dan membangun pemerintahan Islam pertama, umat Islam berkembang menjadi kekuatan yang disegani dan memberikan pengaruh luas terhadap peradaban manusia.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya, peradaban Islam berkembang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kekuatan dunia. Kondisi tersebut berubah ketika umat Islam mulai meninggalkan ajaran agamanya dan lebih banyak mengadopsi sistem kehidupan Barat.
Karena itu, solusi bagi persoalan Palestina tidak cukup hanya dengan kecaman atau bantuan kemanusiaan semata. Umat Islam perlu kembali memperkuat persatuan, menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, serta membangun kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan kaum Muslim di seluruh dunia.
Persatuan umat Islam merupakan kunci untuk mengembalikan kemuliaan kaum Muslim sekaligus membebaskan Palestina dari penjajahan. Dengan persatuan tersebut, umat Islam diyakini dapat kembali menjadi kekuatan besar yang membawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. dan generasi setelahnya.
Pada akhirnya, tragedi Palestina tidak hanya menjadi persoalan rakyat Palestina semata, melainkan juga ujian bagi solidaritas dan kepedulian umat Islam di seluruh dunia. Jalan menuju kemuliaan umat dan pembebasan Palestina hanya dapat ditempuh melalui penguatan iman, persatuan, dan komitmen untuk kembali menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman kehidupan.[]
Oleh: Umma Hilmy
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 20
















