Jurnalis: Ada Empat Macam Tragedi Pasca Runtuhnya Khilafah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Tinta Media – Mengenang 100 tahun pasca runtuhnya daulah Khilafah, jurnalis ideologis Joko Prasetyo (Om Joy) menyatakan ada empat macam tragedi. 
β€œπ‘·π’†π’“π’•π’‚π’Žπ’‚, π’…π’Šπ’“π’–π’π’•π’–π’‰π’Œπ’‚π’π’π’šπ’‚ π’Œπ’‰π’Šπ’π’‚π’‡π’‚π’‰ π’Žπ’†π’“π’–π’‘π’‚π’Œπ’‚π’ π’•π’“π’‚π’ˆπ’†π’…π’Š. Bagaimana tidak, kaum Muslim kehilangan pengurus urusannya (π‘Ÿπ‘Žπ‘Žβ€™π‘–π‘›) yang mengatur segala urusannya (π‘Ÿπ‘Žβ€™π‘–π‘¦π‘Žπ‘‘) dengan syariat Islam secara kaffah,” tuturnya kepada Tinta Media, Ahad (28/1/2024). 
Ini, lanjutnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. riwayat Imam Bukhari, β€œImam (Khalifah) adalah π‘Ÿπ‘Žπ‘Žβ€™π‘–π‘› (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (π‘Ÿπ‘Žβ€™π‘–π‘¦π‘Žπ‘‘).”
β€œSekaligus kehilangan perisai (π‘—π‘’π‘›π‘›π‘Žβ„Ž) kaum muslim dari serangan kafir penjajah. Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Sesungguhnya π‘Žπ‘™-π‘–π‘šπ‘Žπ‘š (khalifah) itu perisai (π‘—π‘’π‘›π‘›π‘Žβ„Ž), [orang-orang] akan berperang di belakangnya [mendukung] dan berlindung [dari musuh] dengan [kekuasaan]nya’,” jelasnya membacakan hadis riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan lain-lain.
Dengan runtuhnya khilafah, ucapnya, maka kaum Muslim kehilangan π‘Ÿπ‘Žπ‘Žβ€™π‘–π‘› dan π‘—π‘’π‘›π‘›π‘Žβ„Ž sekaligus. β€œTentu saja ini merupakan tragedi!” Tegasnya. 
𝑲𝒆𝒅𝒖𝒂, π’•π’‚π’Œ π’Žπ’†π’“π’‚π’”π’‚ π’Œπ’†π’‰π’Šπ’π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’Œπ’‰π’Šπ’π’‚π’‡π’‚π’‰ π’Žπ’†π’“π’–π’‘π’‚π’Œπ’‚π’ 𝒅𝒐𝒃𝒆𝒍 π’•π’“π’‚π’ˆπ’†π’…π’Š. β€œBila kaum Muslim tak merasa kehilangan, tentu saja tidak akan mencari atau menegakkannya kembali,” ungkapnya.  
Padahal menurutnya, segala kerusakan yang menimpa kaum Muslim di segala aspeknya saat ini berpangkal dari tidak ditegakkannya syariat Islam secara kaffah. 
β€œSyariat Islam secara kaffah mustahil tegak tanpa adanya Khilafah yang berfungsi sebagai π‘Ÿπ‘Žπ‘Žβ€™π‘–π‘› dan π‘—π‘’π‘›π‘›π‘Žβ„Ž tersebut. Disebut apa ini kalau bukan dobel tragedi?” tandasnya.
π‘²π’†π’•π’Šπ’ˆπ’‚, π’•π’‚π’Œ π’ƒπ’†π’“π’‹π’–π’‚π’π’ˆ π’•π’†π’ˆπ’‚π’Œπ’Œπ’‚π’ π’Œπ’†π’Žπ’ƒπ’‚π’π’Š π’Œπ’‰π’Šπ’π’‚π’‡π’‚π’‰ π’Žπ’†π’“π’–π’‘π’‚π’Œπ’‚π’ π’•π’“π’Šπ’‘π’†π’ π’•π’“π’‚π’ˆπ’†π’…π’Š. β€œDikatakan tripel tragedi karena kaum Muslim tidak berjuang menegakkan kembali khilafah. Padahal secara π‘ π‘¦π‘Žπ‘Ÿβ€™π‘– menerapkan syariat Islam secara kaffah merupakan fardhu kifayah, bahkan mahkota kewajiban. Karena tanpa adanya Khilafah, banyak kewajiban dalam Islam tidak bisa ditegakkan,” tambahnya.
Sedangkan secara faktual, terangnya,  tidak memperjuangkan tegaknya kembali khilafah berarti membiarkan kaum Muslim terus menerus dirundung kenestapaan dalam segala aspeknya karena membiarkan kaum Muslim tanpa π‘Ÿπ‘Žπ‘Žβ€™π‘–π‘› dan π‘—π‘’π‘›π‘›π‘Žβ„Ž.
π‘²π’†π’†π’Žπ’‘π’‚π’•, π’Žπ’†π’Žπ’–π’”π’–π’‰π’Š π’‘π’†π’“π’‹π’–π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’‘π’†π’π’†π’ˆπ’‚π’Œπ’Œπ’‚π’ π’Œπ’‰π’Šπ’π’‚π’‡π’‚π’‰ π’Žπ’†π’“π’–π’‘π’‚π’Œπ’‚π’ π’Œπ’–π’‚π’“π’•π’†π’• π’•π’“π’‚π’ˆπ’†π’…π’Š. β€œBila kaum Muslim malah memusuhi perjuangan penegakkan khilafah tentu saja ini merupakan kuartet tragedi,” tegasnya.
Dikatakan kuartet tragedi, ia menerangkan, karena bukan saja tidak merasa keruntuhan khilafah itu sebagai tragedi padahal jelas-jelas kaum Muslim jadi kehilangan π‘Ÿπ‘Žπ‘Žβ€™π‘–π‘› dan π‘—π‘’π‘›π‘›π‘Žβ„Ž.  
“Tak mau melaksanakan kewajiban, eh malah memusuhi saudaranya sendiri yang melaksanakan kewajiban dari agama yang dianutnya sendiri,” herannya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan  agar jangan menjadi bagian dari tragedi tersebut. Sebisa mungkin jadilah sebagai solusi, dengan kemampuan di bidang masing-masing, untuk menyadarkan kaum Muslim akan kewajiban menegakkan kembali khilafah. 
“𝐼𝑑 𝑖𝑠 π‘‘π‘–π‘šπ‘’ π‘‘π‘œ 𝑏𝑒 π‘œπ‘›π‘’ π‘’π‘šπ‘šπ‘Žβ„Ž, sekaranglah waktunya untuk menjadi umat yang satu di bawah naungan π‘˜β„Žπ‘–π‘™π‘Žπ‘“π‘Žβ„Ž ‘π‘Žπ‘™π‘Ž π‘šπ‘–π‘›β„Žπ‘Žπ‘—π‘–π‘› π‘›π‘’π‘π‘’π‘€π‘€π‘Žβ„Ž. Allahu Akbar!” pungkasnya.[] Amar

Loading

Views: 32

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA