Tinta Media – Menanggapi pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut pakar-pakar yang mengkritiknya dengan sebutan goblok, Jurnalis Senior Joko Prasetyo mempertanyakan: bolehkah penguasa membalas kritik dengan merendahkan pengkritik?
“Persoalannya bukan soal Prabowo goblok atau pakarnya goblok. Namun ada persoalan yang lebih penting: bolehkah penguasa membalas kritik dengan merendahkan pengkritik?” tanya Jurnalis yang akrab disapa Om Joy ini kepada Tinta Media, pada Ahad (20/9/2026).
Seharusnya, menurut Om Joy, kalau seorang pakar keliru itu dibantah saja pendapatnya. Kalau datanya salah, luruskan datanya. Dan kalau benar-benar memfitnah, tunjukkan bagian mana yang merupakan fitnah.
“Sebab jabatan tidak membuat ucapan penguasa otomatis benar. Begitu pula gelar dan kepakaran tidak membuat pendapat seorang pakar otomatis benar,” ulasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem demokrasi, perdebatan semacam ini biasanya berhenti pada soal hak mengkritik dan kewajiban pemerintah mempertanggungjawabkan kebijakannya, sementara Islam membawa persoalan ini lebih jauh.
“Dalam Islam, penguasa bukan hanya dituntut siap dikritik, tetapi wajib tunduk kepada syariat. Karena itu ada kewajiban 𝑚𝑢ℎ𝑎𝑠𝑎𝑏𝑎ℎ 𝑙𝑖𝑙 ℎ𝑢𝑘𝑘𝑎𝑚: aktivitas mengoreksi penguasa agar tidak menyimpang dari hukum Allah SWT.” jelasnya lagi.
Lebih terang lagi, Om Joy melanjutkan, bahwa memang orang bisa saja salah dalam mengkritik. Namun jangan lupa, kekuasaan juga bisa salah dalam mengambil kebijakan. Karena itu, yang seharusnya beradu adalah argumen dengan argumen, bukti dengan bukti. Jangan sampai menggoblok-goblokan tanpa dasar, sebagai bentuk penghinaan.
Ia menambahkan agar jangan pula rakyat diajak terjebak pada perdebatan soal siapa yang “goblok”.
Pertanyaan yang jauh lebih penting, menurut Om Joy adalah: kritiknya benar atau tidak? Kebijakannya sesuai syariat atau tidak?
“Di situlah pentingnya muhasabah. Dalam Islam, penguasa bukan hanya dituntut siap dikritik, tetapi wajib tunduk kepada syariat. Kritik pun bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari upaya menjaga kekuasaan agar tetap berada dalam koridor hukum Allah SWT.” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran dengan kata goblok kepada sejumlah pakar yang menurutnya terlalu merasa pintar hingga menyampaikan tudingan yang ia nilai sebagai fitnah.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (18/9/2026).
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo dalam sambutannya. [] Nasriani
![]()
Views: 5
















