Tinta Media – Sebuah perjalanan singkat ke Desa Cilele, yang terletak di salah satu sudut kota Karawang, Kabupaten Jawa Barat, menjadi salah satu titik balik dalam hidupku. Daerah yang selama ini dikenal sebagai kota industri, justru membuka mataku terhadap sisi lain yang jarang tersorot.
“Tepat 12 April 2025, momen berharga mengubah sudut pandangku.”
Siapa sangka, di balik gemerlapnya pembangunan dan gemuruh pabrik industri, ada satu desa yang seolah dilupakan oleh waktu. Di sana, akses pendidikan masih jauh dari kata layak, dan infrastruktur transportasi pun seperti tak pernah mendapat perhatian. Bersama teman-teman volunteer, aku menyiapkan diri untuk perjalanan hari itu. Tak ada firasat bahwa pengalaman ini akan begitu membekas dalam ingatan.
“Sabtu ini, rasanya akan menguji adrenalin,” ucapku lirih.
Perjalanan kami dimulai dengan menunggangi motor, membelah jalanan Karawang yang awalnya masih mulus. Namun, ketika mulai mendekati kawasan Cilele, motor-motor kami mulai kesulitan melaju. Tanah merah menempel kuat di ban, menghambat perputaran roda. “Waduh, motornya nyangkut lagi nih,” celetuk salah satu kakak volunteer. Sambil tertawa kecil, mencoba tetap semangat meski harus turun dan mendorong motornya di tanjakan licin. Kami semua turun, bergantian mendorong, berjalan kaki menyusuri jalanan sempit, berliku, dan penuh lumpur. Matahari pagi menyapa kami hangat, namun hati kami justru dibuat miris ketika melintasi rel kereta cepat Woosh yang menjulang di atas kepala, kontras dengan jalur darat yang kami lalui, jalan yang sehari-hari dilalui warga Cilele.
Sesampainya di sekolah yang akan kami kunjungi, suasana terasa sepi namun hangat. Saat itu aku mengajar pada kelas untuk anak-anak SMP, dan hanya delapan siswa yang hadir. Tapi jangan salah, delapan anak itu memiliki semangat yang luar biasa. Aku diberi kesempatan untuk mengajar tentang bagaimana menjadi remaja yang sehat dan produktif. Saat aku memperkenalkan diri, mereka menyambut dengan senyum malu-malu namun tulus.
Di sana aku bertemu dengan anak yang memiliki bakat menggambar. “Kamu suka gambar?” tanyaku penasaran melihat gambaran di buku tulis. “Iya kak, aku biasanya gambar di buku melihat inspirasi dari internet.” Dengan waktu yang singkat kami bisa akrab dengan cepat karena memiliki hobi yang sama rasanya senang sekali. Mereka begitu aktif bertanya, antusias mengikuti instruksi, dan tak segan berbagi cerita tentang impian mereka.
Namun, waktu terus berjalan. Kami pun harus berpamitan. Langit yang semula cerah berubah mendung, dan tak lama kemudian hujan deras turun begitu saja. Rintik pertama terasa seperti isyarat alam untuk berhenti sejenak. Kami berteduh di sebuah warung kecil milik Bu Narti, seorang warga setempat yang dengan ramah mempersilakan kami duduk.
“Silakan istirahat dulu, Nak. Mau mie rebus?” tawar sang Ibu pemilik warung dengan hangat. Kami pun duduk, menikmati semangkuk mie sambil saling bertukar cerita. Kami tertawa bersama, bercerita tentang anak-anak yang kami temui tadi, dan merasakan kehangatan yang sederhana namun sangat berharga.
Ketika hujan mulai reda, kami bergegas pulang. Tapi ternyata jalanan berubah menjadi aliran lumpur. Seketika tanah merah berubah menjadi jebakan bagi kaki kami. “Hati-hati salah menginjak di tanah yang tertutup air ini.” Ucap salah seorang kakak volunteer. “Iya kak.” Jawabku mengikuti langkahnya dari belakang, berhati-hati menapakkan kaki di atas tanah berlumpur.
Batu-batu kecil tajam menggores telapak kaki, air menggenang, dan pakaian kami basah kuyup. Namun tak ada satu pun dari kami yang mengeluh.
Akhirnya kami tiba di tempat penitipan motor, basah, kotor, namun hati kami penuh. Perjalanan ini memang singkat, tapi meninggalkan kesan yang begitu dalam. Desa Cilele mengajarkanku bahwa semangat untuk belajar tak pernah mati, walau di tengah keterbatasan. Anak-anak di sana tak butuh banyak, hanya sedikit perhatian dan kesempatan. Aku bersyukur, setidaknya hari itu, aku bisa menjadi bagian dari perjuangan kecil mereka. Hari itu, aku pulang bukan hanya dengan tubuh yang lelah, tapi jiwa yang hangat dan pandangan hidup yang jauh lebih kaya.
Oleh: Kayla Mutia Nazwa
Peserta Pelatihan Menulis Eksklusif Class of SWI
Views: 71
















